Opini
Opini: Belis dan Diplomasi Lunak
Tulisan ini lebih fokus membahas tentang belis. Pertanyaan di baliknya, apakah belis merupakan harga mati yang menutup aneka kemungkinan diplomasi?
Oleh: Robert Bala
Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Universidad Complutense de Madrid Spanyol
POS-KUPANG.CO - Persoalan belis menjadi ramai dibicarakan di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Kematian Pratu AT (24), yang tewas gantung diri (12/1/2025) dikaitkan dengan belis hal mana memunculkan banyak tanggapan.
Di RS Universitas Brawijaya, AO seroang petugas cleaning service gantung diri (17/1/2025), lima hari sebelum pernikahan yang direncanakan pada 25/1/2025.
Bukan maksud tulisan ini membahas kasus gantung diri yang tentu saja tidak dibenarkan atas nama apapun.
Tulisan ini lebih fokus membahas tentang belis. Pertanyaan di baliknya, apakah belis merupakan harga mati yang menutup aneka kemungkinan diplomasi?
Untuk dapat menjawab pertanyaan ini maka kita perlu sepakat tentang definisi belis, mahar, atau mas kawin.
Horaloyz dkk dalam artikel Fungsi dan Tujuan Belis dalam Pelaksanaan Perkawianan Adat Sikka di Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, 2009, mengartikan belis sebagai simbol penghargaan dan pengakuan kepada harkat dan martabat seorang perempuan.
Dari pengertian ini, bisa terlihat fungsi yang ada di balik belis sebagai simbol penghargaan terhadap perempuan.
Fungsi lain yang erat kaitannya adalah sebagai pengikat tali persaudaraan antar kedua keluarga besar. Belis juga salah satu syarat untuk resminya sebuah perkawinan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah belis refleksi status sosial perempuan dan menjadi harga atas perubahan status dan peran perempuan dalam struktur keluarga laki-laki.
Pada akhirnya belis menjadi simbol terikatnya dua insan dalam pernikahan.
Dari pengertian ini dan sejauh pengalaman penulis ketika menemukan kembali kenangan mengikuti proses pembicaraan belis, tidak terlihat adanya ultimátum yang harus dipenuhi.
Belis lebih dilihat sebagai sebuah konsensus yang dipenuhi dengan strategi diplomasi. Di sana kedua belah pihak datang dengan harapan masing-masing dan diharapkan bahwa di meja dialog itu bisa ditemukan kesepakatan.
Dinamika menarik ini menjadi pijakan pemahaman penulis ketika diberi kesempatan mengambil diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik di Fakultas Ilmu Politik Universidad Complutense de Madrid (UI-nya Spanyol).
Dalam penjelasan para pakar yang sekaligus mengelola jurnal keamanan internacional UNISCI, penulis merasa tidak banyak kesulitan memahaminya karena ingatan akan diplomasi adat seputar belis telah menjadi latar belakang pemahaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bala-Robert.jpg)