Cerpen
Cerpen: Aroma Latung Cero di Beranda Kenangan
Kakek adalah sosok lelaki bersahaja, dengan kulit legam yang menyimpan jejak ciuman matahari sepanjang hidupnya.
Oleh: Tian Rahmat
Alumnus Filsafat IFTK Ledalero Flores
POS-KUPANG.COM - Musim hujan kembali menyapa tanah ini. Aku duduk termenung di beranda rumah, memandangi rintik-rintik hujan yang menghantam daun-daun pucuk merah di halaman.
Aroma tanah basah menyelinap masuk bersama angin, membawaku kembali pada masa kecilku masa-masa ketika aku masih duduk di beranda yang sama bersama Kakek.
“Latung cero belum matang, Sula,” suara berat Kakek mengingatkanku saat aku kecil. Kata “Sula” adalah panggilan akrab Kakek untukku.
Kakek adalah sosok lelaki bersahaja, dengan kulit legam yang menyimpan jejak ciuman matahari sepanjang hidupnya.
Tangannya kasar, penuh bekas luka dari cangkul dan parang. Tapi di balik kekasaran itu, ada cinta yang hangat, yang terpancar setiap kali ia menatapku dengan senyuman khasnya.
Di atas tungku di dapur, latung cero yang jadi makanan khas keluarga kami sedang digoreng.
Kakek selalu membuatnya sendiri, mencampurnya dengan saung tago. Aku selalu menunggu-nunggu momen itu.
Bau harum latung cero bercampur saung tago yang menguar ke seluruh rumah seperti mantra yang menghapuskan dinginnya hujan.
“Kakek, kenapa latung cero ini enak sekali?” tanyaku suatu hari.
“Karena dibuat dengan hati, Sula,” jawab Kakek sambil tertawa kecil.
“Jika kau memasak dengan sepenuh hati, setiap suapan akan membawa kebahagiaan bagi siapa pun yang menikmatinya.”
Kata-kata Kakek sering kali sederhana, tapi entah mengapa selalu membekas di hati.
Ia adalah orang yang mengajarkan aku bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga soal cerita dan perasaan yang dibawanya.
Hujan semakin deras. Aku merapatkan jaketku, berusaha mengusir dingin yang entah berasal dari udara atau dari hatiku yang penuh kenangan.
Sudah sembilan tahun sejak Kakek pergi, tapi setiap musim hujan seperti ini, aku merasa ia masih ada di sini.
***
Aku teringat satu sore, bertahun-tahun yang lalu. Hujan deras mengguyur tanpa henti.
Bersama Kakek, aku bersandar di beranda, menyaksikan rinai hujan menari di atas tanah, sembari menunggu langit menghapus kelabunya.
Di tangannya ada segenggam biji jagung, yang ia pilah-pilah dengan hati-hati.
“Kakek, kenapa hujan ini lama sekali?” tanyaku sambil menopang dagu.
“Hujan adalah berkat, Sula. Kalau dia lama, berarti Tuhan sedang memberikan kita lebih banyak berkat,” jawabnya dengan nada penuh kepastian.
Aku tidak mengerti sepenuhnya waktu itu. Bagaimana mungkin hujan yang membuatku terkurung di rumah disebut berkat?
Namun kini, saat bayangnya kembali menjejak ingatan,perlahan kusadari makna yang terselip di balik kenangan itu.
Hujan membawa banyak kenangan indah yang menjadi pelipur lara di hari-hari sepi seperti ini.
“Hari ini, kita santap latung cero ditemani pareng saung tago, bagaimana menurutmu?”
Kakek melanjutkan sambil tersenyum. “Nanti kau bantu Kakek menggoreng, ya?”
Aku mengangguk antusias. Aku selalu senang ketika diajak Kakek ke dapur.
Meskipun tugas-tugasku sederhana memetik daun kacang panjang aku merasa seperti bagian penting dari prosesnya itu.
***
Aku berdiri, meninggalkan beranda dan berjalan ke dapur. Segalanya terasa berbeda tanpa Kakek.
Tungku kayu sudah digantikan dengan kompor gas, dan aroma masakan yang dulu memenuhi rumah kini jarang lagi ada.
Namun hari ini, aku ingin membangkitkan kembali kenangan itu, memberi nyawa pada apa yang pernah terasa hangat di hati.
Aku ingin cero latung dan memetik saung tago, seperti yang dulu sering kami lakukan bersama.
Aku mulai dengan menyiapkan bahan-bahannya. Jagung kering, dan daun kacang panjang.
Tanganku bekerja, tapi pikiranku melayang-layang. Aku teringat bagaimana Kakek selalu memulai menggoreng dengan doa sederhana, memohon agar makanan yang kami buat membawa kebahagiaan.
“Sula, ingat, makanan ini bukan cuma untuk kenyang. Tapi juga untuk menyatukan hati,” begitu katanya.
Ketika jagung mulai digoreng di atas wajan, aroma harumnya langsung menguar.
Sejenak, rasanya seperti Kakek kembali hadir. Aku hampir bisa mendengar suara tawanya yang hangat, bercampur dengan suara hujan di luar.
Tiba-tiba, air mataku menetes. Bukan karena sedih, tapi karena rasa rindu yang begitu kuat.
Kakek adalah sosok yang mengajarkanku banyak hal tanpa pernah merasa menggurui.
Ia mengajarkan tentang cinta, kesabaran, dan arti kebersamaan, semuanya lewat hal-hal sederhana seperti memasak atau duduk bersama menikmati hujan.
***
Hidangan akhirnya siap. Aku membawa sepiring latung cero dan saung tago ke beranda.
Hujan masih mengguyur deras, persis seperti sembilan tahun yang lalu.
Aku duduk di kursi tua yang dulu sering diduduki Kakek, menikmati makanan yang penuh kenangan itu.
Sambil mengunyah, aku memejamkan mata, membiarkan diriku terbawa oleh nostalgia.
Dalam hening, bayangan Kakek terasa hadir di sisiku, seolah waktu tak pernah memisahkan kami.
“Latung ceromu enak, Sula,” seolah aku mendengar suaranya.
Aku tersenyum tipis. “Tentu saja, Kek. Aku memasaknya dengan hati, seperti yang Kakek ajarkan.”
Hujan menjadi saksi bisu dari percakapan itu. Aku tahu, ini mungkin hanya imajinasiku. Tapi rasanya begitu nyata, begitu dekat.
***
Ketika hujan mulai reda, aku menatap langit yang perlahan cerah. Dalam hati, aku berjanji bahwa tradisi ini akan terus aku lanjutkan.
Latung cero dan pareng saung tago bukan sekadar makanan; mereka adalah simbol cinta dan kenangan yang akan terus hidup di setiap musim hujan.
Aku ingin anak-anakku kelak tahu tentang Kakek—tentang lelaki sederhana yang mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di dapur kecil, di tengah hujan deras, di atas beranda yang sederhana.
Sembilan tahun sudah Kakek pergi, tapi aku tahu ia tidak pernah benar-benar meninggalkanku.
Setiap kali aroma latung cero tercium, aku tahu ia ada di sini, duduk di
sampingku, menikmati hujan bersama.
Dan sekali lagi, aku merasa beruntung. Hujan bukan hanya berkat, seperti yang selalu Kakek katakan.
Hujan juga adalah jembatan, yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, membawa kenangan-kenangan indah yang akan selalu aku jaga.
Hujan hari ini adalah milikku dan Kakek. (*)
Catatan
Latung Cero: jagung goreng (Bahasa daerah Manggarai)
Saung tago: Daun kacang panjang (Bahasa daerah Manggarai)
Pareng: Lauk, campur,dll (Bahasa daerah Manggarai)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Jagung-goreng-ilustrasi.jpg)