Opini
Opini: Ke Golonderu, Berjalan dengan Kecepatan Penderitaan
Sisi lain, terisolasi dari lalulintas pembangunan. Sebuah lagu, mungkin dapat menjawab secara metaforis pertanyaan genit dan menyakitkan ini.
Lagu Wie Gha Tana tidak lain adalah suara rakyat Golonderu yang sedang mengarungi jalan dengan kecepatan penderitaan.
Makna getir, dinyanyikan dengan manis. Wie gha tana, we’e ga ite nana e merujuk pada perjalanan yang membebankan dan jalan adalah momok.
Frasa imperatif (mengajak pulang) adalah cara melawan jalan. Dengan kata lain, imperatif dalam syair lagu itu adalah cara meratakan jalan hingga mereka lekas sampai di tujuan.
Barangkali, Golonderu, desa kecil yang mewakili luasnya kemiskinan di Manggarai Timur atau mewakili buruknya infrastruktur di belahan daerah lain di Nusa Tenggara Timur.
Kadang, nyanyian hanya modus mengubah penderitaan agar dapat menghibur diri kembali.
Warga desa tetangga sering memberi stigma negatif kepada orang Golonderu sebagai “ata awo mai” (orang dari timur pedalaman).
Sebuah istilah yang secara tekstual bermakna positif, tetapi secara kontekstual (historis) bermakna negatif. Ata awo mai adalah ikonitas kertertinggalan dan orang jauh dan teramat jauh dari segalanya.
Pada musim semi politik, Golonderu menjadi tempat pembuangan sampah politik (janji-janji para calon bupati, calon anggota dewan berserakan).
Mereka pun sering terantuk pada gundukan janji itu. Kemudian, mereka sadar bahwa kenyataan pahit membentuk cara berpikir orang-orang desa itu untuk mendefinisikan janji dalam kampanye adalah realitas seluas bibir.
Karena itu, setiap janji kampanye tidak perlu ditagih. Itu hanya sekadar industri kebohongan masa berahi politik dan kebohongan itu diatur dalam undang-undang.
Hanya satu yang pasti, jarak antara janji dan kenyataan sama seperti jauhnya jarak antara Desa Gelonderu dan pemerintah Manggarai Timur.
Wie gha tana, saya pun mengakhiri tulisan ini. Bagi orang Golonderu, lagu itu mempunyai kekuatan yang dapat menyorong matahari agar segera tenggelam di balik bukit desa.
Mereka segera tidur. Mereka hanya menikmati kesejahteraan pembangunan dalam mimpi. Sebab, besok pagi, kenyataan pahit menjemput mereka di depan pintu, menyeberang jalan berembun air mata. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.