Opini

Opini: Ke Golonderu, Berjalan dengan Kecepatan Penderitaan 

Sisi lain, terisolasi dari lalulintas pembangunan. Sebuah lagu, mungkin dapat menjawab secara metaforis pertanyaan genit dan menyakitkan ini.

Editor: Dion DB Putra
KOMPAS.COM
Ilustrasi - Persawahan di lereng bukit Desa Golonderu, Kecamatan Kotakomba, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Mengajak sang anak untuk pergi dan pulang dalam kasih sayang (kebersamaan). Namun, serentak muncul pertentangan yang serius. Sebab, perjalanan adalah beban, perjalanan mirip karnaval penderitaan. 

Sebab, jalan dalam lagu ini bertentangan dengan pengertian  umum. Jalan berkonotasi melegakan. 

Jalan dalam pengalaman sosial orang Golonderu tidak paralel dengan apologi teologis, Yesus memetaforakan diri-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran” (jalan adalah keselamatan). Karena itu, jalan adalah idaman. Sedangkan di Golonderu jalan adalah ancaman keselamatan.

Desa Golondeu terbentang sepanjang dua realitas yang bertentangan. Pertama, dia tumbuh dalam optimisme. 

Desa ini sangat subur, penghasil kopi, padi, nyaris tanpa mengenal musim. Belakangan jahe menjadi komoditi yang paling menggiurkan. 

Para petani memburu hari-harinya dengan mencangkul ladang untuk menaman jahe. Bahkan, aroma jahe menghapus euforia kemenangan calon bupati dan wakil bupati periode 2024-2029.  

Sungguh tidak penting bagi orang Golonderu omong tentang bupati di Manggarai Timur. Toh, siapapun bupatinya tidak banyak mempengaruhi hidup mereka di Golonderu. 

Bagi mereka, bupati dan DPR hanyalah pedagang janji paling romantis di musim kampanye. 

Seorang anak muda mengatakan: “Ghoo kole’s ga” (ini lagi mereka). Sebuah pernyataan satir sebagai pelampiasan rasa jengkel tak tertahankan oleh karena keadaan mereka tak banyak berubah.  

Kedua, Golonderu adalah sebuah desa yang jauh dari kampung pembangunan, meski sangat dekat secara geografis  dengan ibu kota kecamatan Rana Mbeling (7 kilometer) dan kurang lebih 29 kilometer) dari Ibu Kota Kabupaten Manggarai Timur, Borong. 

Namun, akses ke desa itu tergolong sangat sulit. Kadang, mereka memilih berjalan kaki daripada mengendarai motor atau mobil. Berjalan dengan kendaraan menuju desa itu bagai bercanda dengan maut. Sebab, jalan rusak, kelok, dan berbukit licin adalah ancaman.  

Keadaan itu yang menyebabkan Golonderu terpencil dan terkesan dipencilkan. 

Setiap kali mendengar nama desa itu, segera terbayang akan kesulitan akses. Orang Golonderu menyebut kondisi jalan itu sebagai “salan awek nawa” (jalan penghela nyawa/kematian). 

Ada pula sinonim lain, “salan reje dedek” (jalan yang menawarkan maut). Masih banyak kosa kata dan frasa satir yang diproduksi dari pengalaman orang Golonderu sehubungan dengan jalan. 

Nyanyian rakyat sebagaimana warisan kesenian lisan lainnya adalah  menyabda dengan cara menghibur. 

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved