Opini

Opini: Ke Golonderu, Berjalan dengan Kecepatan Penderitaan 

Sisi lain, terisolasi dari lalulintas pembangunan. Sebuah lagu, mungkin dapat menjawab secara metaforis pertanyaan genit dan menyakitkan ini.

Editor: Dion DB Putra
KOMPAS.COM
Ilustrasi - Persawahan di lereng bukit Desa Golonderu, Kecamatan Kotakomba, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Oleh: Marsel Robot
Dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana Kupang

POS-KUPANG.COM - Masih pentingkah Manggarai Timur (baca, pemerintah) bagi sebuah desa yang bernama Golonderu? Sebuah desa yang tumbuh dalam kenyataan yang bertentangan. Satu sisi, desa itu brankas komoditi di Manggarai Timur

Sisi lain, terisolasi dari lalulintas pembangunan. Sebuah lagu, mungkin dapat menjawab secara metaforis pertanyaan genit dan menyakitkan ini. 

Berapa waktu yang lalu, di desa Golonderu Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, saya masih mendengar seorang ibu menyanyikan lagu rakyat yang populer 50 tahun yang silam. 

marsel robot
marsel robot (DOK-POS-KUPANG.COM)

Penciptanya anonim. Syair begitu pendek, membentang makna yang panjang. Lazim dinyanyikan ibu-ibu untuk menggirangkan anaknya. Lagu itu berjudul: “Wie Gha Tana” (Hari Sudah Malam).

Nana e, wie gha tana Nana e 
Nana e wee ga ite, Nana e.

Nana e, gerak gha tanah, Nana e. 
Nana e, Lako ga ite, Nana e. 

Bila syair lagu ini diterjemahkan secara bebas, kira-kira berarti: Nana e (sapaan kesayangan untuk anak laki-laki), vocal “e” (sebagai partikel penegas), hari sudah malam. Nana e, mari kita pulang (tinggalkan kebun).

Nana e, mata hari mulai terang, mari kita berangkat, Nana e. 

Nyentrik pula, lagu ini dinyanyikan dengan nada gembira untuk menyatakan kesedihan atau kepiluan hidup mereka. Tata makna lagu itu menganut dua satuan (dua baris mengndung satu kesatuan makna). 

Dua baris pertama menampilkan unsur etnopuitik. Syair yang mengucapkan entitas mereka sebagai petani: “hari mulai gelap, mari kita tinggalkan kebun.” Kata “we’e” bermakna pulang dari kebun.  

Dua baris berikutnya menampilkan etnopragmatik yang mengandung makna referensial atau merujuk pada pengalaman sosial mereka melakukan perjalanan yang amat jauh dan keadaan jalan yang menjadi momok. 

Karena itu, harus berangkat bersama matahari terbit (hari mulai siang, mari kita berangkat), atau pulang bersama matahari terbenam (wie gha tana/wee ga ite, Nana e). 

Sesederhana apapun lagu rakyat, maknanya selalu melebihi syairnya. Dalam lagu ini begitu terasa percikan epik (kisah pedih) yang melebihi syair lagu itu. 

Dimulai dengan frasa imperatif (permohonan halus); Nana e, wie gha tana nana e (nana hari sudah malam), wee ga ite nana e (mari kita pulang, nana e). 

Mengajak sang anak untuk pergi dan pulang dalam kasih sayang (kebersamaan). Namun, serentak muncul pertentangan yang serius. Sebab, perjalanan adalah beban, perjalanan mirip karnaval penderitaan. 

Sebab, jalan dalam lagu ini bertentangan dengan pengertian  umum. Jalan berkonotasi melegakan. 

Jalan dalam pengalaman sosial orang Golonderu tidak paralel dengan apologi teologis, Yesus memetaforakan diri-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran” (jalan adalah keselamatan). Karena itu, jalan adalah idaman. Sedangkan di Golonderu jalan adalah ancaman keselamatan.

Desa Golondeu terbentang sepanjang dua realitas yang bertentangan. Pertama, dia tumbuh dalam optimisme. 

Desa ini sangat subur, penghasil kopi, padi, nyaris tanpa mengenal musim. Belakangan jahe menjadi komoditi yang paling menggiurkan. 

Para petani memburu hari-harinya dengan mencangkul ladang untuk menaman jahe. Bahkan, aroma jahe menghapus euforia kemenangan calon bupati dan wakil bupati periode 2024-2029.  

Sungguh tidak penting bagi orang Golonderu omong tentang bupati di Manggarai Timur. Toh, siapapun bupatinya tidak banyak mempengaruhi hidup mereka di Golonderu. 

Bagi mereka, bupati dan DPR hanyalah pedagang janji paling romantis di musim kampanye. 

Seorang anak muda mengatakan: “Ghoo kole’s ga” (ini lagi mereka). Sebuah pernyataan satir sebagai pelampiasan rasa jengkel tak tertahankan oleh karena keadaan mereka tak banyak berubah.  

Kedua, Golonderu adalah sebuah desa yang jauh dari kampung pembangunan, meski sangat dekat secara geografis  dengan ibu kota kecamatan Rana Mbeling (7 kilometer) dan kurang lebih 29 kilometer) dari Ibu Kota Kabupaten Manggarai Timur, Borong. 

Namun, akses ke desa itu tergolong sangat sulit. Kadang, mereka memilih berjalan kaki daripada mengendarai motor atau mobil. Berjalan dengan kendaraan menuju desa itu bagai bercanda dengan maut. Sebab, jalan rusak, kelok, dan berbukit licin adalah ancaman.  

Keadaan itu yang menyebabkan Golonderu terpencil dan terkesan dipencilkan. 

Setiap kali mendengar nama desa itu, segera terbayang akan kesulitan akses. Orang Golonderu menyebut kondisi jalan itu sebagai “salan awek nawa” (jalan penghela nyawa/kematian). 

Ada pula sinonim lain, “salan reje dedek” (jalan yang menawarkan maut). Masih banyak kosa kata dan frasa satir yang diproduksi dari pengalaman orang Golonderu sehubungan dengan jalan. 

Nyanyian rakyat sebagaimana warisan kesenian lisan lainnya adalah  menyabda dengan cara menghibur. 

Lagu Wie Gha  Tana tidak lain adalah suara rakyat Golonderu yang sedang mengarungi jalan dengan kecepatan penderitaan.  

Makna getir, dinyanyikan dengan manis. Wie gha tana, we’e ga ite nana e merujuk pada perjalanan yang membebankan dan jalan adalah momok. 

Frasa imperatif (mengajak pulang) adalah cara melawan jalan. Dengan kata lain, imperatif dalam syair lagu itu adalah cara meratakan jalan hingga mereka lekas sampai di tujuan. 

Barangkali, Golonderu, desa kecil yang mewakili luasnya kemiskinan di Manggarai Timur atau mewakili buruknya infrastruktur di belahan daerah lain di Nusa Tenggara Timur. 

Kadang, nyanyian hanya modus mengubah penderitaan agar dapat menghibur diri kembali. 

Warga desa tetangga sering memberi stigma negatif kepada orang Golonderu sebagai “ata  awo mai” (orang dari timur pedalaman). 

Sebuah istilah yang secara tekstual bermakna positif, tetapi secara kontekstual (historis) bermakna negatif. Ata awo mai adalah ikonitas kertertinggalan dan orang jauh dan teramat jauh dari segalanya. 

Pada musim semi politik, Golonderu menjadi tempat pembuangan sampah politik (janji-janji para calon bupati, calon anggota dewan berserakan). 

Mereka pun sering terantuk pada gundukan janji itu. Kemudian, mereka sadar bahwa kenyataan pahit membentuk cara berpikir orang-orang desa itu untuk mendefinisikan janji dalam  kampanye adalah realitas seluas bibir. 

Karena itu, setiap janji kampanye tidak perlu ditagih. Itu hanya sekadar industri kebohongan masa berahi politik dan kebohongan itu diatur dalam undang-undang. 

Hanya satu yang pasti, jarak antara janji dan kenyataan sama seperti jauhnya jarak antara Desa Gelonderu dan pemerintah Manggarai Timur

Wie gha tana, saya pun mengakhiri tulisan ini. Bagi orang Golonderu, lagu itu mempunyai kekuatan yang dapat  menyorong matahari agar segera tenggelam di balik bukit desa. 

Mereka segera tidur. Mereka hanya menikmati kesejahteraan pembangunan dalam mimpi. Sebab, besok pagi, kenyataan pahit menjemput mereka di depan pintu, menyeberang jalan berembun air mata. (*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved