Opini
Opini: Ramalan Cuaca Politik
Menurut perkiraan atau ramalan penulis, pasti akan ada gejolak, riak entah kecil atau besar, entah terselubung atau terbuka. Itu pasti.
Sang calon tertipu secara kasar oleh kehadiran massa yang membludak bukan sebagai pendukung murni tapi sekadar berkumpul untuk mengeruk duit dan menyegarkan diri.
Sang calon yang memenuhi lima –TAS, tertipu oleh massa yang ‘Nafsu’ cari hiburan terpenuhi, ‘Nalar’ disegarkan, ‘Naluri’ ramai-ramai tercapai dan ‘Nurani’ cari ketenangan terpenuhi.
Sang calon disodorkan berbagai kebutuhan yang memerlukan uang, sampai ke saat pencoblosan, dikerahkan saksi-saksi di TPS, ‘tempat pemungutan suara’, untuk memata-matai kejujuran dan keadilan pemilih yang bebas dan langsung.
Ini ironisnya sistem pilkada kita. Bayangkan, kalau menang, baik, tapi gali lubang tutup lubang. Tidak salah sang calon.
Kita semua salah karena menjerumuskan para calon ke dalam godaan yang mengarah kepada KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme selama lima tahun kedua orang itu menjabat, kepala dan wakil menduduki kursi jabatan.
Calon-calon yang tidak terpilih, kalah, menderita lahir-batin. Nafsu memperolah kursi tidak terpenuhi, isi Nalar yang begitu jernih untuk menerapkan janji-janji kampanye tidak kesampaian.
Seruan Naluri untuk merangkul sebanyak mungkin orang sebagai pendukung buyar tak berbekas dan Nurani untuk mendapat keteduhan bathin sewaktu menjabat selama lima tahun tidak terwujud. Inilah korban sistem pilkada kita.
Jalan ke luar dari lika-liku suram sistem ini di mana, bagaimana? Sangat mudah. Pemilihan melalui azas musyawarah-mufakat. Ini bukan kemunduran dari demokrasi yang kebablasan, tetapi kembali ke jati diri kita.
Nafsu untuk sama-sama menikmati hasil terjadi, Nalar meningkatkan upaya bekerja jujur adil tercapai. Naluri berkerabat terpelihara. Nurani mencari keteduhan batin terjadi.
Wakil-wakil Rakyat di lembaga legislatif tidak dipilih langsung, tetapi dimusyawarahkan calon-calon tanpa harus calon-calon itu mundar-mandir kumpul suara dengan ongkos yang besar.
Wakil-wakil hasil musyawarah dari Desa, Kelurahan naik ke tingkat Kecamatan yang akhirnya terhimpun menjadi Dewan Perwakilan Rakyat inilah yang bertugas menjaring dan menyaring calon-calon yang memiliki empat –TAS, Integri-TAS, Intelektuali-TAS, Akseptabili-TAS, Elektabili-TAS tanpa memperitungkan Isi TAS. Ini sulit? Sama sekali tidak sulit. Tinggal mau atau tidak.
Ramalan cuaca politik akan menjadi ramalan tentang gegap gempita terpilihnya pemimpin baru sesuai periodisasi lima tahunan.
Kepala Daerah terpilih menjadi tokoh yang disayangi setiap lapisan masyarakat karena dia memang orang pilihan dari daerah itu.
Pasti ada banyak calon, tetapi terjaring dan tersaring melalui musyawarah para wakil di berbagai jenjang secara benar-benar ‘jurdil’, jujur dan adil.
Kepala Daerah yang terpilih lewat cara musyawarah mufakat ini sangat kecil kemungkinannya untuk melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Kontrol dari pemilih yang jumlahnya terbatas, lebih terjamin dan masyarakat luas pun diberi kesempatan bersuara tentang usul-saran pelayanan dan ketidakadilan pun disuarakan kalau itu terjadi.
Akar dari KKN ada di dalam sistem pilkada sekarang ini. Peluang untuk KKN ada karena kelompok yang menang bersekongkol untuk menggaruk keuntungan sebesar-besarnya dari uang milik rakyat.
Syukur kalau ada pejabat hasil sistem pilkada sekarang ini memimpin masyarakat dengan sungguh-sungguh ‘jurdil’.
Kita semua berharap bahwa semua Kepala Daerah hasil pilkada tanggal 27 November 2024 ini benar-benar pribadi-pribadi yang bebas dari godaan untuk ber-KKN.
Setiap pendukung, mulai dari keluarga sampai ke tim sukses diharapkan untuk menerima hasil pilihan nanti dengan penuh rasa syukur dan yang tidak terpilih membebaskan diri dari rasa cemburu dan benci.
Yang terpilih tidak membusungkan dada sebagai pahlawan menang perang ‘pilkada’, yang tidak terpilih jangan menyesal mempersalahkan diri dan sesama sebagai satu kemalangan.
Lima azas dalam lima sila Pancasila kita wujudkan dalam menerima hasil pilkada. Sistem yang kita pakai harus diterima untuk saat ini. Apa pun yang terjadi sudah harus menjadi tanggung-jawab kita bersama.
Tidak boleh salah-mempersalahkan. Kita sama-sama basah. Para pejabat yang terpilih, hindari adanya penyakit KKN. Nafsu memiliki ditertibkan, nikmati perolehan yang wajar. Nalar berupa pengalaman dan pengetahuan diabdikan secara jujur.
Naluri menyejahterahkan masyarakat dipegang teguh dan diamalkan. Nurani untuk hidup tulus dan ikhlas di hadapan sesama dan di hadirat Tuhan, dijadikan patokan dalam setiap tindak-tanduk.
Setiap calon yang terpilih nanti, pasti akan diminta untuk bersumpah atau berjanji di hadapan sesama dan di hadirat Tuhan untuk benar-benar melangkah atas dasar lima Sila dalam Pancasila. Ramalan Cuaca Pilkada, cerah meriah dalam lindungan Tuhan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-anton-bele-msi-seusai-diwawancarai.jpg)