Opini

Opini: Ramalan Cuaca Politik

Menurut perkiraan atau ramalan penulis, pasti akan ada gejolak, riak entah kecil atau besar, entah terselubung atau terbuka. Itu pasti. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Dr. Anton Bele, M.Si. 

Oleh: Anton Bele
Pemerhati Sosial Politik, tinggal di Kupang

POS-KUPANG.COM - Ramalan cuaca alam itu wewenang Badan Meteorologi. Ramalan cuaca politik juga ada, dan itu bidangnya penulis. 

Rabu, tanggal 27 November 2024 akan ada letusan gunung sosial-politik. Yang diharapkan oleh kita semua adalah situasi damai dan bukan gejolak. 

Menurut perkiraan atau ramalan penulis, pasti akan ada gejolak, riak entah kecil atau besar, entah terselubung atau terbuka. Itu pasti. 

Teriak berhasil akan beradu dengan hisak gagal. Suara menang akan menenggelamkan desah kalah. 

Tidak boleh ada rasa kalah-menang, tapi itulah yang akan terjadi sebagai hasil tusuk di bilik kecil tempat pemungutan suara, TPS, yang sebenarnya salah, karena siapa tanam siapa pungut, memangnya ini tanaman? 

Pemungutan suara dimengerti sebagai pemberian suara secara bebas, jujur dan adil.

Sistem yang kita pakai dalam pemilihan langsung menghadapkan kita semua, rakyat Indonesia pada situasi letupan yang syukur kalau tidak terjadi letusan. 

Gelegar tempik sorak suara orang menang pasti akan terdengar sebagai luapan emosi yang tertekan berbulan-bulan. Yang kalah? Masuk kamar, isolasi diri, evaluasi. 

Harap aparat yang berwenang mengajak untuk para pemenang tidak berpawai dengan letusan-letusan petasan karena kemungkinan itu bisa terjadi oleh tawaran para penjual petasan yang sekarang ini menjajakan jualannya menjelang Natal, tahu-tahu dibeli dan dipakai sebelum hari Natal dan Tahun Baru.

Cuaca politik pasti memanas dan harap tak sampai mengganas. Penulis membuat analisa dengan pikiran ‘Kwadran Bele’. Sederhana sekali. Ramalan cuaca politik ini sama arti dengan suasana politik paska-pilkada. 

Setiap diri kita manusia ini ada empat unsur, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. 

Empat unsur ini yang terpadu dan berkembang dalam diri setiap manusia sehingga manusia itu hidup.

Unsur yang pertama, Nafsu dalam arti dorongan yang menginginkan, mengharapkan untuk memperoleh hal yang baik, benar, bagus dan berguna untuk diri dan sesama kita. Ini wajar. 

Dalam proses Pilkada, baik calon maupun pendukung, sama-sama ada Nafsu untuk memperoleh suara pemilih sebanyak-banyaknya dan ‘menang’. Ini wajar. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved