Opini

Opini: Ramalan Cuaca Politik

Menurut perkiraan atau ramalan penulis, pasti akan ada gejolak, riak entah kecil atau besar, entah terselubung atau terbuka. Itu pasti. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Dr. Anton Bele, M.Si. 

Menerima kemenangan dan kekalahan oleh siapa pun termasuk kedewasaan yang diolah dalam Nurani. 

Hanya bisikan Nurani penulis sangat menyayangkan ulah kita yang olok-mengolok selepas hajatan pilkada. 

Tetapi pekik kemenangan dan tunduk kekalahan memang harus terjadi karena sistim pilkada kita lebih banyak mengadu-domba dari pada duduk bermusyawarah untuk mufakat. 

Nurani kita sangat diganggu dengan sistim pemilu yang mendorong setiap calon membusungkan dada memamerkan kebolehannya sebagai calon pemimpin yang paling andal sambil meremehkan pihak lawan yang dianggap kurang berpeluang untuk menang. 

Dari pertimbangan Nurani, sistem pemilihan kita ini sangat mencederai  azas kemanusiaan yang adil dan beradab.

Pilkada selesai, selesailah selisih pendapat. Ini yang diharapkan. Tapi itu tidak mungkin karena secara manusiawi, pihak yang terpilih dan yang tidak terpilih tetap mempunyai keyakinan kalah dan menang sehingga berlakulah peribahasa kita, “menang jadi arang, kalah jadi abu”. 

Yang menang bergirang, yang kalah meradang. Sistem pilkada yang kita sepakati dalam Undang-undang dan Peraturan-peraturan, kita buat dengan sadar bahwa para calon diadu dalam kampanye dan debat publik. 

Ini sebenarnya melawan adat kita tetapi kita bela diri, ini demokrasi, pemilihan langsung, hak rakyat dihargai dan diberi tempat melalui cara pemberian suara secara “luber jurdil”, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Rangkaian kata-kata ini indah sekali dalam teori. 

Ditambah lagi dengan slogan, “profesional dan berintegritas”. Dalam praktik, lain sekali. 

Para calon dipaksa dan terpaksa mengeluarkan dana begitu besar untuk pamer pamor diri. Baliho dan kartu diri dicetak dan disebarkan. Itu semua membutuhkan ketebalan kantong. 

Penulis bergurau dengan singkatan, ‘lima –TAS’. Para calon harus memenuhi lima persyaratan ini. 

Integri-TAS, Intelektuali-TAS, Akseptabili-TAS, Elektabili-TAS dan Isi TAS. Tidak dapat disangkal, ada calon yang kalah dan dikalahkan karena faktor “isi TAS”. 

Empat –TAS terpenuhi tetapi sampai di TAS yang kelima, kedodoran. Bayangkan, kerahkan massa untuk kampanye saja perlu dana yang besar. 

Massa yang dikerahkan untuk memamerkan kehebatan calon, dibiayai mulai dari transportasi sampai kepada akomodasi dan konsumsi. 

Ada massa yang ramai-ramai mengikuti keramaian kampanye dari semua calon, misalnya ada empat pasangan calon, setiap kali satu pasangan calon datang berkampanye, kelompok yang sama hadir untuk keempat calon itu berturut-turut. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved