Opini
Opini: Ramalan Cuaca Politik
Menurut perkiraan atau ramalan penulis, pasti akan ada gejolak, riak entah kecil atau besar, entah terselubung atau terbuka. Itu pasti.
Nafsu adalah dorongan positif yang diberikan Tuhan dalam diri setiap manusia untuk berhasil.
Nafsu menduduki kursi Kepala Daerah, wajar dan sah. Nafsu ini terpancar dan tertancap dalam baliho ukuran kecil besar di dusun dan kota, di depan gubuk dan gedung.
Ini indah. Wajah-wajah calon terpampang gagah dan cantik. Ini dorongan Nafsu. Nafsu memperkenalkan diri untuk dikenal lalu dipilih.
Unsur yang kedua, Nalar dalam arti setiap keping pengalaman dan pengetahuan yang terpadu dalam diri sang Calon dan dirumuskan sebagai visi, misi, program yang akan dilaksanakan kalau jadi.
Nalar digelar dalam berbagai tatap muka dan kampanye.
Para ahli pidato dipilih dan terpilih untuk menguraikan dan mengedepankan di muka publik tentang perangkat pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki Nalar sang calon.
Nalar publik dibanjiri informasi dan setiap pendengar yang hadir, jauh dekat, dengan Nalar mereka masing-masing mengolah informasi itu untuk yakinkan diri dan sesama, calon ini dipilih, calon itu tidak dipilih.
Muncullah istilah ‘pemilihan’ dan karena oleh ‘umum’ maka digabung menjadi satu kata majemuk, ‘pemilihan umum’. Ini karya Nalar.
Unsur yang ketiga dalam diri kita manusia, adalah Naluri. Setiap manusia ada Naluri untuk berkerabat, berkeluarga, bergaul mencari kawan menghindari lawan.
Dalam pilkada, Naluri calon dan para pendukung berusaha untuk menebar pesona supaya menarik sebanyak mungkin orang agar mereka tertarik dan mencoblos nama sang calon di surat suara pada saat pemilu.
Ini sangat wajar dan kejar-mengejar target dalam jumlah pengikut sebanyak mungkin untuk menang adalah gerak Naluri dalam diri manusia.
Kalau kalah, Naluri menyebabkan diri calon dan para pendukung gundah menggeleng sambil sulit menerima dan mencari tahu mengapa kalah.
Naluri mendorong pihak yang menang bersorak ria hampir seperti di lapangan bola kaki, penonton yang klubnya membuat gol, meloncat kegirangan, bertepuk tangan, berteriak memekakkan telinga.
Unsur yang keempat dalam diri kita manusia, adalah Nurani. Pihak yang menang dalam pilkada langsung sujud syukur, melambungkan puja-puji ke hadirat Yang Mahakuasa dengan penuh keyakinan bahwa kemenangan itu rahmat dari Atas. Yah, keyakinan seperti itu boleh-boleh saja.
Hanya penulis bertanya dalam diri, apakah Sang Ilahi tega memberikan kemenangan di satu pihak dan kekalahan di lain pihak? Ini dapat dijawab oleh para ahli teologi moral.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-anton-bele-msi-seusai-diwawancarai.jpg)