Opini
Opini: Jangan Tertipu Lagi Dalam Pesta Demokrasi
Memberikan janji-janji manis kepada rakyat kecil menjelang pesta demokrasi tanpa realisasi secara nyata disebut penipuan publik secara musiman.
Artinya dia tidak muncul hanya menjelang pilkada tetapi muncul di setiap suka duka, bahagia dan gembira yang dialami masyarakat kecil. Kandidat yang berkualitas adalah dia yang mampu masuk dalam setiap kebekuan hidup masyarakat dan mencair di dalamnya secara hari ini.
Abraham Lincoln menyuguhkan kepada kita hakikat demokrasi yang sesungguhnya, demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jika para elite politik sungguh memahami arti terdalam dari demokrasi ini maka ia total mendedikasikan seluruh hidupnya demi rakyat kecil.
Figur demikian sungguh menyadari akan panggilannya sebagai suara rakyat yang selama ini redup oleh aneka macam penindasan karena gagal paham dan minus nalar.
Pilkada tahun 2024 sudah di ambang pintu. Ruang- ruang publik ramai membincang wacana tentang figur mana yang layak dan tidak.
Semua mengandalkan jagoannya masing-masing dengan mempromosikan berbagai macam prestasi, kinerja dan rekam jejak masa lalu.
Para Cagub- Cawagub, dan Cabup- Cawabup, dan calon Wali kota- wakil Wali kota di Indonesias sedang gencar menjangkau masyarakat dan memasarkan wajah mereka kepada rakyat kecil yang selama ini hidup merana karena gagal dan luput dari perhataian para elite politik sialan yang sebelumnya juga pernah berjanji untuk mensehjaterakan kaum jelata. Sayangnya janji itu tak terealisasi secara baik.
Entahlah ke mana. Mungkinkah hanyut bersama musim dan waktu yang berotasi tanpa kompromi?
Tanyakan saja kepada para pemimpin daerahmu yang pernah berjanji dan sedang berjanji lagi hari- hari ini ke depan.
Tentang politik, Khalil Gibran sastrawan termasyur dari negeri Libanon menulisnya seperti ini, “Ketika anda menggapai jantung kehidupan, anda akan menemukan kecantikan dalam segala hal, bahkan pada mata yang buta akan keindahan.”
Pesan terpenting dari Gibran tentang demokrasi adalah cinta.
Memberikan diri kepada rakyat atas nama cinta dan menjadi cinta kepada rakyat agar tercapai segala rindu akan jantung hati yang didekorasi dengan kecantikan-kecantikan lahiriah dan batiniah. Selanjutnya jangan lupa masyarakat kecil dan jaminan kesejahteraannya.
Akankah ada Cagub- Cawagub, Cabup- Cawabup, walikota dan wakil Wali kota yang kelak menjadi jantung kehidupan bagi rakyat kecil yang selama inimengeluh tanpa henti?
Sekarang adalah saatnya kita untuk melihat dan merasakan figur siapakah yang ada hati untuk mengalirkan cinta kepada publik secara adil.
Pemimpin yang lahir dari fair election adalah dia memiliki totalitas diri untuk memberikan cinta sampai setuntas-tuntasnya kepada rakyat tanpa mengkalkulasikan untung dan rugi.
Sedangkan pemimpin yang lahir dari sogok amplop, kaus partai dan nasi bungkus adalah pemimpin yang sedang melitanikan derita panjang rakyat kecil. Artinya mereka hadir untuk menjadi pengais rejeki tanpa peduli banyak akan kesejahtreaan rakyatnya dengan baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-kampanye_20180312_112731.jpg)