Opini

Opini: Membaca Resistensi Warga Poco Leok

Menurut saya, untuk konteks ini, negara gagal membangun tidak saja kepercayaan tetapi juga pembagunan sosial dan fisik. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/FB LASARUS JEHAMAT
ALasarus Jehamat 

Kehadiran negara melemahkan kekuatan masyarakat manakala negara memberikan tawaran kekuasaan yang melampaui ekspektasi masyarakat. 

Sebaliknya, kehadiran negara menguatkan kapasitas masyarakat ketika negara justru memantik konflik yang menurunkan kadar kohesivitas sosial melalui tindakan intimidatif terus menerus.

Menolak Lupa

Merujuk pada dua perspektif di atas, kita bisa menganalisis kehadiran negara di Poco Leok. Bagi saya, kelemahan besar negara ialah kelupaan akan asal usul dan posisinya. 

Negara lupa bahwa kehadirannya inheren di masyarakat. Negara dibentuk dan membentuk masyarakat sebagaimana dipaparkan Joel Samuel Migdal, Atul Kohli, Vivienne Shue di atas. 

Akibatnya, negara seperti singa lapar yang mau menghabisi masyarakat tempat dia berasal. Keluarnya ialah dinamika negara berhadapan dengan masyarakat.

Kealpaan negara berdampak munculnya penolakan warga pada pembangunan proyek listrik berbasis panas bumi Ulumbu di Poco Leok. Lalu, bagaimana ke depan? Hemat saya, pilihannya ialah kembali ke masyarakat dan bertanya dari hati ke hati. 

Proses itu tidak bisa dilakukan secepat kilat. Dibutuhkan waktu yang lama di sana. Kita tidak ingin melihat wajah garang negara ketika berhadapan dengan masyarakat Poco Leok. Fakta sudah jelas di mata publik. Bahwa negara bersama aparatusnya telah berupaya membuka jalan bagi modal. 

Itu titik soal utama. Maka, memeriksa dengan serius kepentingan modal dan tidak memobilisasi aparat keamanan di sana merupakan tawaran yang logis dan masuk akal. Lalu, berdialog tanpa tekanan dengan masyarakat merupakan keadaban masyarakat Manggarai terutama warga Poco Leok. (*)

 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved