Opini
Opini: Membaca Resistensi Warga Poco Leok
Menurut saya, untuk konteks ini, negara gagal membangun tidak saja kepercayaan tetapi juga pembagunan sosial dan fisik.
Oleh: Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang - Nusa Tengggara Timur
POS-KUPANG.COM - Hampir setahun terakhir, negara selalu menampilkan wajah buruk bagi warga Poco Leok, Kabupaten Manggarai, NTT.
Harapan agar negara terus menunjukkan senyum ramah ke masyarakat, seakan sirna di sana. Bau amis kepentingan panas bumi menyengat masuk sampai ke sumsum sebagian manusia Poco Leok. Hal itu sulit ditutup.
Bahkan, meski negara sering berkotbah demi kepentingan rakyat, aroma busuk kian hari kian membusuk. Narasi demi kepentingan rakyat segera berubah menjadi untuk kepentingan modal dan penguasa. Naif.
Lepas dari kadar keberfungsian panas bumi bagi masyarakat dan lingkungan (baik atau buruk), tekanan negara dengan melibatkan aparatus sipil dan militer secara simultan menunjukkan ketidakrahaman negara pada masyarakat.
Gerakan penolakan pembangunan listrik berbasis panas bumi Ulumbu di Poco Leok, sebetulnya bukan kali ini saja. Sudah hampir dua sampai tiga tahun, masyarakat secara organik membangun gerakan sosial berbasis kekuatan terbatas (AMAN, 2023).
Bersamaan dengan itu, determinasi negara makin hari makin kencang. Yang peduli dengan isu tambang, energi, dan gerakan sosial akan mudah menemukan bukti, di mana negara melalui tangan pemerintah daerah Kabupaten Manggarai, polisi dan tentara, terus-menerus menekan dan mengintimidasi warga Poco Leok.
Tulisan ini merupakan ungkapan kekecewaan saya pada negara bersama aparatusnya di Manggarai dalam kasus konfliktual dengan masyarakat Poco Leok.
Menurut saya, untuk konteks ini, negara gagal membangun tidak saja kepercayaan tetapi juga pembagunan sosial dan fisik.
Melihat arogansi dan tindakan represif negara, sulit untuk tidak mengatakan bahwa negara memang tidak punya hati. Atau, jika masih punya hati, hatinya keras membatu bagi masyarakat Poco Leok.
Saya tidak perlu mengupas model dan cara negara mengintimidasi masyarakat di Poco Leok. Mata telanjang masyarakat sudah bisa melihatnya di berbagai kanal media baik konvensional maupun media sosial. Sangat banyak di sana.
Intimidasi terhadap wartawan, warga, dan beberapa kelompok resisten lainnya kuat menggambarkan negara tidak lagi sebagai pelindung tetapi penghancur kedaulatan rakyat dan masyarakat adat. Yang pasti, model intimidasinya sudah sangat terbuka, kasar, keras, dan represif.
Melihat perilaku represif negara tersebut, saya sendiri merasa risi. Dua alasan mengapa perasaan seperti itu muncul.
Pertama, semua program pembangunan bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Anehnya, tujuan itu tidak berlaku untuk warga Poco Leok. Yang dimaksud masyarakat dalam kaca mata negara ialah masyarakat Manggarai Raya dan bukan masyarakat Poco Leok. Mengapa demikian?
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.