Berita Sabu Raijua
Penganut Jingitiu Punya Hak Prerogatif Tanpa Paksaan dan Dilindungi Negara
Nando menuturkan, sebagai putra Sabu asli, tentu ia mendukung semua hal baik yang mendukung ada dan kebudayaan Sabu Raiju.
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, SEBA - Untuk mendorong Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, Yayasan Marungga telah meluncurkan Karya Dokumentasi dan Website Jingitiu.
Karya dokumentasi yang diluncurkan ini dirangkum dalam audio visual dan Buku Teks Pendampingnya Bagi Pendidik Kepercayaan dan Kebudayaan Jingitiu di Kabupaten Sabu Raijua.
Yayasan Marungga melakukan dokumentasi baik secara teks maupun audio-visual mengenai kepercayaan Jingitiu yang merupakan akar dari perkembangan seni dan budaya tradisional di Kabupaten Sabu Raijua.
Pendokumentasian ini didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan.
Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sabu Raijua dan Organisasi Penghayat Kepercayaan Jingitiu, hasil dokumentasi ini disarikan menjadi Buku Teks Pendamping Kepercayaan dan Kebudayaan Jingitiu yang dapat digunakan sebagai bahan ajar bagi penyuluh Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan para pendidik di tingkat satuan pendidikan, dari mulai Sekolah Dasar sampai sekolah Menengah Atas dan yang sederajat di Kabupaten Sabu Raijua.
CEO Marungga Foundation Desinta Way Futboe mengatakan, peluncuran Karya Dokumentasi dan Website Jingitiu di Sabu Raijua bertujuan untuk mendorong menggerakkan pemerintah daerah untuk semakin mendukung masyarakat kepercayaan Jingitiu.
"Kita berharap juga lewat momen hari ini pemerintah yang sebelumnya mendukung kegiatan ini melalui SK kepada 50 Mone Ama yang nanti akan direstrukturisasi akan ada dokumentasi yang bisa menjadi berita acara yang bisa menguatkan keberadaan dari organisasi masyarakat Kepercayaan Jingitiu,"jelas Desi pada Sabtu, 28 September 2024.
Peluncuran Karya Dokumentasi dan Website Jingitiu di Kabupaten Sabu Raijua yang dilaksanakan pada Sabtu, 28 September 2024 juga diadakan talkshow yang menghadirkan pembicara Rika Setiawati sebagai Ketua Pembina dan Penyusun Buku Dokumentasi Jingitiu, Joseph Lamont yang berkebangsaan Australia sebagai penyusun dokumen foto dan audio visual, Yanus Pulu Ratu Jawa selaku Mauratung dari Sumba Timur, dan pemerhati Budaya Sabu Raijua sekaligus Pendiri Yayasan Generasi Peduli Sesama (GPS) Sabu Raijua, Jefrison Harianto Fernando.
Nando menuturkan, sebagai putra Sabu asli, tentu ia mendukung semua hal baik yang mendukung ada dan kebudayaan Sabu Raiju.
Salah satu bentuk dukungan nyatanya yakni teetsu berkolaborasi dengan semua Yayasan pemerhati budaya atau adat seperti Yayasan Marungga dan Yayasan Ammu Hawu Mandiri melakukan dokumentasi tulisan dan video.
Yayasan GPS membuka kesempatan bagi anak-anak Jingitiu d Sabu Raijua agak bisa mendapatkan akses pendidikan dengan mendaftarkan diri mereka untuk berkuliah yang didanai Kemendikbud RI melalui beasiswa. Anak-anak Jingitiu yang dinyatakan lolos beasiswa akan didaftarkan pada Fakultas Ilmu Budaya jurusan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Universitas 17 Agustus 1945 Semarang.
Baca juga: Pengabdian Kepada Masyarakat Sukses, UKAW Dapat Apresiasi dari Bupati Sabu Raijua
Nantinya ketika sudah menamatkan studi, mereka kemudian direkrut Kemendikbudristek untuk menjadi penyuluh Jingitiu dan juga bisa bekerja pada Pemda untuk dijadikan pengajar bagi siswa Jingitiu di semua sekolah yang ada di Sabu Raijua apalagi ke depannya budaya Jingitiu akan dijadikan mata pelajaran Mulok yang akan diuji dan soal-soalnya dikirim langsung dari Kemendikbudristek RI.
Oleh karena itu, Nando mengajak dan menguatkan anak-anak Jingitiu untuk mendaftarkan diri mereka meraih kesempatan yang diberikan karena Penganut Jingitiu kini dilindungi negara.
Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (KMA) di Kemendikbudristek RI ,Sjamsul Hadi, S.H., M.M mengatakan, peluncuran Karya Dokumentasi dan Website Jingitiu di Sabu Raijua merupakan kesempatan bersama untuk berdialog dalam rangka penyusunan buku Dokumentasi dan Website Jingitiu.
Kerja sama dengan Yayasan Marungga bisa bermanfaat bagi semua pihak. Ia menyatakan, pihaknya sudah menyelenggarakan Bimtek dengan Pemda Sabu Raijua agar buku ini dijadikan tambahan untuk mata pelajaran Mulok di sekolah-sekolah di Sabu Raijua. Kiranya Jingitiu sebagai kekayaan budaya yang ada sudah teridentifikasi dan masuk dalam pokok pikiran kepercayaan daerah Kabupaten Sabu Raijua
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.