Opini

Opini: Seruan Perdamaian dan Makna Semboyan Kunjungan Paus Fransiskus

Lawatan apostolik Paus Fransiskus terbingkai dalam suatu semboyan: iman (la fede), persaudaraan (la fraternita), dan bela rasa (la compassion).

Editor: Dion DB Putra
YOUTUBE/KOMSOS KWI
Paus Fransiskus saat menyampaikan kotbah pada misa akbar di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Kamis (5/9/2024) petang. 

Oleh: Petrus Nandi, CMF
Tinggal di Seminari Hati Maria, Kupang

POS-KUPANG.COM - Kunjungan Paus Fransiskus pada tanggal 3 hingga 6 September 2024 merupakan sebuah peristiwa bersejarah bagi Indonesia pada umumnya dan Gereja Katolik Indonesia pada khususnya. 

Pasalnya, sejak diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma pada 13 Maret 2013 silam, Paus Fransiskus baru melakukan kunjungan apostolik di bumi nusantara. 

Lawatan apostolik Paus Fransiskus kali ini terbingkai dalam suatu semboyan: iman (la fede), persaudaraan (la fraternita), dan bela rasa (la compassione). 

Ketiga term kunci dalam semboyan tersebut menjadi gagasan-gagasan penyangga dari bahasa perdamaian yang disuarakan oleh Paus Fransiskus dalam perjumpaannya dengan Presiden Indonesia Joko Widodo di Istana negara pada tanggal 4 September lalu. 

Tulisan ini berpretensi mengais posisi seruan perdamaian Paus Fransiskus dalam ruang keberagaman di Indonesia yang masih dirongrong beragam konflik serta menemukan implikasi semboyan kunjungan Paus bagi agama-agama. 

Pluriformitas Indonesia dalam Bentangan Konflik dan Seruan Perdamaian 

Hemat saya, ada dua fakta penting yang sekiranya patut direfleksikan dalam momentum kunjungan Paus Fransiskus hari-hari ini. 

Pertama, realitas keberagaman di Indonesia dan agenda penyatuan bangsa yang belum selesai. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang berciri plural. 
Data yang dihimpun dari BPS dan Kemendikbud Ristek dalam kurun tiga tahun terakhir menunjukkan ada 17.001 pulau, 1.300 suku bangsa, dan 718 bahasa daerah yang tersebar di seantero Indonesia.  

Juga terdapat enam agama besar, tidak terhitung agama-agama tradisional dan sistem kepercayaan lainnya. Semua unsur perbedaan itu disatukan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu). 

Paus Fransiskus, dalam pidatonya di hadapan Presiden Republik Indonesia, mengakui realitas keberagaman dan mengapresiasi semboyan kebangsaan tersebut sebagai kekuatan yang menyatukan (Presidenri.go.id, diakses pada 5 September 2024). 

Sebagaimana Paus, kita optimis bahwa dalam bingkai persatuan, aneka wujud keberagaman itu dapat menunjang keharmonisan bangsa. Namun, sejarah membuktikan bahwa laku sosial masyarakat Indonesia tidak selamanya sejalan dengan idealisme bangsa. 

Cita-cita terciptanya ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial yang termaktub dalam alinea keempat UUD 1945 kandas lantaran munculnya fragmen-fragmen konflik berbasis identitas. 

Merebaknya gejala fundamentalisme, separatisme, dan intoleransi turut memperpanjang masa penantian akan tercapainya cita-cita luhur perdamaian bangsa. 

Jadi, dalam praktiknya, cita-cita persatuan dan keharmonisan di Indonesia masih berada dalam tegangan antara kekuatan-kekuatan yang mendukung dan kekuatan-kekuatan yang menentangnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved