Jumat, 1 Mei 2026

Parodi Situasi

Parodi: Mimpi Masuk Akpol

Apalagi malu-malu masuk Akpol. Bila perlu tancap gas melalui cara apa pun. Intinya jangansampai malu-malu. Malu-malu tetapi mau.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
museum.polri.go.id
Ilustrasi 

“Kamu tidak perlu iri dengan keberhasilan anaknya Rara,” kata Nona Mia.

“Tetapi ini kesempatan saya, bukan kesempatan Rara,“ sambung Jaki sambil menangis tersedu-sedu.

“Hei,“ Nona Mia terheran-heran melihat betapa sedih hati Jaki karena anaknya tergeser dan anak Rara yang melambung ke langit.

Jaki sedih sekali karena cita-cita anaknya sejak kecil kandas di tengah jalan hanya karena ayahnya hanyalah seorang Jaki. Sayangnya, anaknya bukan anaknya Rara. Seandainya anaknya adalah anak Rara, Jaki tidak akan terluka seperti ini.

“Berhenti menangis! Kamu seperti bukan laki-laki,“ Benza berusaha menyadarkan Jaki.

Sementara Rara melenggang pergi sambil terkekeh-kekeh. “Apa kau berani lawan beta kah? Coba kalau berani lawan! He he he…” Rara menjauh dan tanpa menoleh lagi. Jaki pun bertambah-tambah sedihnya.

***

Nona Mia dan Benza terdiam. Sulit sekali meyakinkan Jaki bahwa dirinya tidak perlu menangis seperti itu. Kenapa sampai anaknya Rara yang lulus bukan anaknya Jaki?

Kenapa anak Rara yang mendapat kesempatan emas itu, bukan anaknya Jaki? Oh, tidak ada seorang pun yang dapat meneduhkan pilunya hati Jaki. Akan tetapi Benza dan Nona Mia tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini ada hukumnya.

“Ini saya punya anak punya kesempatan bukan Rara punya anak,“ Jaki tetap meratap.

“Ya, Rara sudah ambil kesempatan yang kamu punya,“ kata Benza. “Barang siapa yang ambil apa pun yang bukan miliknya, akan dapat akibat dengan sendirinya. Waktu berlalu... pada saatnya nanti segala hal yang bukan kamu punya akan kembali kepada yang seharusnya punya.

Lihat saja!“

“Rara tentu mengerti,“ sambung Nona Mia. Terdengar suara tawa Rara terkekeh-kekeh menggemah di langit dan suara tangis Jaki tertatih-tatih di antaranya.

***

“Hei hei Jaki Rara bangun. Kamu mimpi apa ngelindur nih. Yang satu menangis yang satu terkekeh-kekeh...“

Jaki dan Rara pun bangun dari tidur lelap, bangun dari mimpi yang panjang.

Rara menyesal bukan main karena ternyata dia hanya bermimpi. Jaki bersyukur karena ternyata dirinya hanya mimpi. (*)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved