Parodi Situasi
Parodi: Mimpi Masuk Akpol
Apalagi malu-malu masuk Akpol. Bila perlu tancap gas melalui cara apa pun. Intinya jangansampai malu-malu. Malu-malu tetapi mau.
Oleh Maria Matildis Banda
POS-KUPANG.COM - Maunya jadi taruna dan taruni Akpol. Ya masuk Akpol jika memang mau. Jangan malu.
Apalagi malu-malu masuk Akpol. Bila perlu tancap gas melalui cara apa pun. Intinya jangansampai malu-malu. Malu-malu tetapi mau.
***
“Tetapi saya benar-benar malu,“ Jaki tertunduk sampai hidungnya hampir cium lututnya.
“Malu kenapa?” tanya Rara. “Ini kesempatan dan saya sendiri yang melenggang mencapai tujuan. Malu? Ha ha ha saya punya malu itu ada tiga belas. Jadi kalau satu malu hilang melayang-layang pada saya punya wajah, saya masih punya dua belas malu.”
“Hiii, kamu ini benar-benar tidak tahu malu e,“ sambung Jaki sambil menggerutu.
“Apa kamu bilang?“ Rara marah bukan main melihat Jaki menggerutu tidak karuan.
“Apa kamu mau saya injak kasih rata dengan tanah? Mau lawan sama saya?“
“Kamu ambil kesempatan orang lain. Kamu ambil kesempatan Nona Mia, Benza, dan juga saya. Apakah kamu kiaa tidak ada seorang pun anaknya Nona Mia dan anaknya Benza yang pantas masuk Akpol? Apakah kamu kira kamu punya anak yang paling hebat kah? Kamu berani e halalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Wuih,“ Jaki mencibir dan disambar Rara dengan satu tendangan yang membuat Jaki jatuh tertelentang.
“Kamu bukan pahlawan. Kamu sungguh-sungguh bukan pelayan rakyat. Yang kamu piker adalah kamu punya kepentingan sendiri. Sungguh tidak berharga kamu e. Kamu benar-benar stok malu ada satu gudang, hingga satu hilang seribu gantinya,“ Jaki terus menggerutu dan Rara terus menghajar sampai babak belur, penyok, dan berdarah-darah.
***
“Hiii, kamu ini benar-benar tidak tahu malu e,“ teriak Nona Mia dan Benza.
“Berkelahi sampai berdarah-darah. Ya, ampun,“ Nona Mia melerai dan Jaki Rara pun berhenti berkelahi.
“Ada apa? Kenapa? Soal Akpol lagi?“ tanya Benza.
“Kamu tidak perlu iri dengan keberhasilan anaknya Rara,” kata Nona Mia.
“Tetapi ini kesempatan saya, bukan kesempatan Rara,“ sambung Jaki sambil menangis tersedu-sedu.
“Hei,“ Nona Mia terheran-heran melihat betapa sedih hati Jaki karena anaknya tergeser dan anak Rara yang melambung ke langit.
Jaki sedih sekali karena cita-cita anaknya sejak kecil kandas di tengah jalan hanya karena ayahnya hanyalah seorang Jaki. Sayangnya, anaknya bukan anaknya Rara. Seandainya anaknya adalah anak Rara, Jaki tidak akan terluka seperti ini.
“Berhenti menangis! Kamu seperti bukan laki-laki,“ Benza berusaha menyadarkan Jaki.
Sementara Rara melenggang pergi sambil terkekeh-kekeh. “Apa kau berani lawan beta kah? Coba kalau berani lawan! He he he…” Rara menjauh dan tanpa menoleh lagi. Jaki pun bertambah-tambah sedihnya.
***
Nona Mia dan Benza terdiam. Sulit sekali meyakinkan Jaki bahwa dirinya tidak perlu menangis seperti itu. Kenapa sampai anaknya Rara yang lulus bukan anaknya Jaki?
Kenapa anak Rara yang mendapat kesempatan emas itu, bukan anaknya Jaki? Oh, tidak ada seorang pun yang dapat meneduhkan pilunya hati Jaki. Akan tetapi Benza dan Nona Mia tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini ada hukumnya.
“Ini saya punya anak punya kesempatan bukan Rara punya anak,“ Jaki tetap meratap.
“Ya, Rara sudah ambil kesempatan yang kamu punya,“ kata Benza. “Barang siapa yang ambil apa pun yang bukan miliknya, akan dapat akibat dengan sendirinya. Waktu berlalu... pada saatnya nanti segala hal yang bukan kamu punya akan kembali kepada yang seharusnya punya.
Lihat saja!“
“Rara tentu mengerti,“ sambung Nona Mia. Terdengar suara tawa Rara terkekeh-kekeh menggemah di langit dan suara tangis Jaki tertatih-tatih di antaranya.
***
“Hei hei Jaki Rara bangun. Kamu mimpi apa ngelindur nih. Yang satu menangis yang satu terkekeh-kekeh...“
Jaki dan Rara pun bangun dari tidur lelap, bangun dari mimpi yang panjang.
Rara menyesal bukan main karena ternyata dia hanya bermimpi. Jaki bersyukur karena ternyata dirinya hanya mimpi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/logo-polri_20180814_092835.jpg)