Opini
Opini: Yul Yasinto SVD, Di Sana Bukan di Sini
Dalam segi intelektualitas, Yul memang beda. Saat masih mahasiswa diminta membawakan seminar tentang ritual di Bali dan pariwisata.
Ini bukan sekadar hiburan. Pater Yul pernah diminta terlibat dalam The Seventh Bishop's Institute for Social Communication (BISCOM VII) untuk level Asia di Bangkok tahun 2019.
Kedua, tantangan gereja yang sangat kuat membutuhkan pemimpin yang tidak saja cerdas tetapi bijak. Ia sudah teruji kemandirian berpikir dan kecakapan relasionalnya serta terbukti menjadi pemikir strategis untuk masa depan.
Posisi ini telah dipenuhi Yul. Tetapi yang paling penting, di balik semua kepercayaan itu adalah pengakuan akan kepribadian yang tangguh.
Patut diakui celah ini semakin kerap ditemukan sebagai titik lemah dalam kehidupan internal gereja, terutama para rohaniawan, biarawan-biawarawati.
Kekecewaan inilah yang tentu tidak bisa sekadar dijawab dengan doa tetapi dengan mati raga dan transformasi besar. Keteladanan Pater Yul dalam hal ini sudah menjadi sebuah jaminan.
Ketiga, jabatan strategis kini sebagai anggota dewan general SVD kini untuk 6 tahun (2024-2030), sebenarnya merupakan pengukuhan atas sebuah perjalanan. Pater Yul adalah salah satu dari sedikit saja anggota SVD yang mengikuti 4 kapitel sejak 2006 tanpa henti.
Pada Kapitel 2018, Yul telah menjadi nggota Tim Internasional Perumus Draft Dokumen Akhir pada Pertemuan Umum (Kapitel General) SVD di Nemi, Roma, Italia.
Menurut informasi dari sumber terpercaya, pada kapitel 2018, Pater Yul dan Pater Budi berada di urutan teratas sebagai kandidat. Ini semua hanya pengakuan bahwa kapasitas dan kapabilitasnya sudah teruji.
Karena itu kalau kali ini ia pindah dari bumi Sasando ke negara Italia, daerah asal piano itu tentu sebuah pengakuan sekaligus mengandung pesan.
Sasando yang terbuat dari kawat halus dengan sistem diatonik dengan 48 dawai, adalah alat musik yang sangat indah tetapi ia punya kekurangan karena suaranya masih kecil.
Kini dengan berpindah ke negeri piano yang dianggap sebagai alat musik untuk dapat mengembangkan koordinasi dan memungkinkan pemain memperoleh ketangkasan yang jauh lebih baik.
Jadi di ‘sana’ (Roma), tempat bagi Pater Yul untuk bersuara lebih besar, lebih luas, dan lebih bermakna.
Tetapi kalau suatu saat ditarik ke Indonesia (di sini), tentu para pengagummu yang sambil menyanyikan lagu Broery Marantika sambil memodifikasi sedikit: Aku di sini (begini), engkau di sana (begitu), sama saja." (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pater-Yulius-Yasinto-Ketua-Yayasan-Arnoldus-Kupang.jpg)