Opini
Opini: Yul Yasinto SVD, Di Sana Bukan di Sini
Dalam segi intelektualitas, Yul memang beda. Saat masih mahasiswa diminta membawakan seminar tentang ritual di Bali dan pariwisata.
Seorang pemimpin sejati biasanya bisa terlihat jauh sebelumnya. Ia tidak pernah menjadi pemimpin tiba-tiba. Itulah membuktikan bahwa kualitas dirinya teruji dalam waktu. Baru dua tahun jadi imam, ia sudah diangkat jadi Kepala Sekolah di Colegio di Maliana Timtim.
Tahun 1998, pascareformasi dan membuat juga kegoncangan di Timor Timur (kini Timor Leste), Yul memilih melihat Indonesia dari luar melalui studi lanjut di Inggris (1998-2001).
Hal itu yang mempersiapkannya berkarya di Timor Leste persis saat berdiri sebagai negara 2002.
Dari Timor Leste ia menjadi Rektor Institute of Religious Studies (2002-2005), saat bersamaan menjadi Wakil Provinsial (2005-2011). Ini jabatan sementara yang mengantarnya menjadi Rektor Unwira Kupang (2009-2017).
Jabatan rektor di Perguruan Tinggi Swasta terbaik di NTT, tentu tidak mudah didapatkankan apalagi saat itu masih berusia 44 tahun. Lebih dari itu, masih banyak senior yang (merasa dirinya) lebih pantas.
Hal itu belum terhitung aneka ‘sikut-menyikut’ dan cemburunya yang juga ada di biara (meski disebut ‘cemburu rohani’ dan ‘politiknya’ juga kadang disebut ‘ngeri-ngeri sedap’ di lingkungan biara.
Semua tantangan ini dihadapi dengan bijak, aneka pekerjaan dilahap. Persaudaraan dijalin dengan tulus tanpa trik. Lawan dirangkul secara tulus.
Hal ini semakin memberikannya kredit poin. Selesai jadi rektor, diminta jadi Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus Kupang (Yapenkar).
Di level Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia (APTIK) ia menjadi Wakil (2020-2026) malah pernah menjadi Ketua Tim Penyusun Rencana Strategis APTIK (2021) dan bukan mustahil bahwa akan menjadi Ketua APTIK di 2026 nanti.
Di sana menunggu
Apa yang bisa ditarik sebagai kesimpulan?
Pertama, bagi yang mengenal Pater Yulius Yasinto, SVD secara mendalam tentu punya hak untuk mengharapkan figurnya di level gereja lokal. Harapan itu tentu tidak kosong karena mereka mengalaminya dari dekat. Kekecewaan itu cukup wajar.
Tetapi yang perlu diingat bahwa pelayanan Pater Yul melampaui keterbatasan lingkup geografis Gereja Lokal.
Dalam kepemimpinannya sebagai Rektor Unwira yang diselesaikan (bukan terpotong) 2 periode (8 tahun), menunjukkan konsistensinya pada satu tugas hinggai tuntas. Lebih lagi, justru melalui pendidikan, ia memberi makna dan pengaruh yang jauh lebih luas.
Malah dengan latar belakang pendidikan ilmu sosial dan pembangunan lebih lagi duduk dalam aneka komisi strategis, memberikan pemahaman agar Gereja tidak saja berkutat di altar tetapi menjadikan kehidupan sosial sebagai alter altar alias pengganti altar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pater-Yulius-Yasinto-Ketua-Yayasan-Arnoldus-Kupang.jpg)