Opini
Opini: Bulan Oktober dan Relevansi Pesan Fatima di Zaman Ini
Di dalam doa Rosario segenap kaum beriman juga merenungkan rangkaian peristiwa-peristiwa Rosario mulai dari peristiwa gembira hingga peristiwa mulia.
Andrew Apostoli merangkum peristiwa spektakuler itu dalam bahasa, yang dikutipnya dari pelukisan kejadian-kejadian ajaib di Lourdes, sebagai berikut: “Bagi orang beriman, tidak perlu penjelasan. Bagi orang tidak beriman, tidak ada lagi penjelasan yang mungkin.”
Akhir-akhir ini dunia dikejutkan oleh perang Hamas vs Israel. Kalau menelusuri jejak digital, sebelumnya juga dunia sudah dihebohkan dengan perang antara Rusia dan Ukraina. Dua peristiwa perang di awal abad 21 ini telah menjadi bencana dan tragedi kemanusiaan.
Perang merendahkan harkat dan martabat manusia. Sebab hanya dengan sekali mengklik tombol, nyawa manusia tercabut dari tubuhnya akibat ledakan bom.
Manusia sebagai ciptaan yang mulia seakan-akan setara nilai dan martabatnya dengan makhluk ciptaan lainnya.
Dengan kata lain, manusia menghancurkan dirinya sendiri melalui perang. Sebab justru peralatan persenjataan ciptaannya sendiri yang dipakai untuk membinasakan sesamanya.
Ditambah lagi dengan bencana-bencana alam yang selalu menimpa planet bumi ini, yang senantiasa berulang setiap tahunnya membuat dunia seolah-olah tidak lagi sebagai hunian yang aman, nyaman dan menyejukkan, yang memberi kegembiraan.
Bencana dan tragedi, baik yang dibuat oleh manusia sendiri maupun yang terjadi secara alamiah, adalah ancaman yang nyata terhadap kehidupan manusia sendiri.
Dalam formula yang ekstrim, bencana dan tragedi itu telah menjadi neraka yang hidup bagi manusia, bukan lagi sekadar kisah dongeng sebagai pengantar tidur pada masa kanak-kanak.
Kondisi dunia yang demikian diformulasikan dalam bahasa Joseph Ratzinger, Paus Benediktus XVI sebagai berikut: “Dewasa ini kemungkinan dunia hancur menjadi debu oleh lautan api bukan lagi sekadar fantasi.”
Apabila menelisik peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas dengan cermat, bencana dan tragedi itu sesungguhnya hendak mendemonstrasikan dengan vulgar apa yang dinamakan gengsi yang berakar dalam egoisme segelintir orang dengan bertopeng pada (membela) kepentingan harkat dan martabat manusia dan/atau atas nama kesejahteraan bersama/kepentingan negara.
Lalu dengan alasan mulia itu mereka memobilisasi sesamanya untuk saling membunuh. Deskripsi seperti itu semakin meneguhkan pepatah Latin yang dikatakan Thomas Hobbes (1588-1679) yakni ‘Homo homini lupus est’.
Narasi hidup manusia yang diwarnai peristiwa tragis di atas akan terus berlanjut bila manusia tidak mengindahkan pesan Bunda Maria di Fatima. Pesan itu adalah ajakan untuk ‘berdoa’ dan ‘bertobat’.
Ajakan Bunda Maria di Fatima terasa amat relevan dengan situasi dunia saat ini. Ajakan ini juga kian mendesak untuk ditanggapi secara serius oleh segenap umat manusia.
Paus Yohanes Paulus II, dalam kesempatan kunjungan ke Fatima, menekan lagi pentingnya pesan Fatima untuk dunia zaman ini, dengan mengatakan, pesan Fatima pada dasarnya adalah sebuah panggilan untuk berbalik dan bertobat sebagaimana dalam injil.
Panggilan ini disampaikan pada awal abad ke-20, dan dengan demikian ditujukan kepada umat manusia abad ini.
Bunda Maria yang membawa pesan itu kelihatannya sudah membaca dengan pemahaman khusus “tanda-tanda zaman”, tanda-tanda zaman kita.
Maka dari itu, sungguh amat berbahagia bahwa segenap kaum beriman mendapat hadiah istimewa dari Bunda Maria, sebuah senjata ajaib, untuk melawan kejahatan, yang tampil dalam pelbagai rupa, yang merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan yang harmonis.
Senjata itu adalah untaian doa-doa Rosario suci. Kesaksian sejumlah besar orang yang tidak terhitung banyaknya telah memberikan bukti yang autentik tentang kekuatan doa Rosario.
Sebab Bunda Maria sendiri mengatakan, ia menyediakan hatinya yang tak bernoda sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang yang datang kepadanya. Dia berjanji bahwa pada akhirnya “Hatiku yang tidak bernoda akan menang.”
Di akhir tulisan ini, saya mengutip penggalan sebuah syair lagu yang menggambarkan kekuatan doa Rosario sebagai berikut:
“Rosario, lambang suci. Pengalah setan dan nafsu pun musuh yang kejam.”
“Belum kudengar sekali terjadi, engkau dikalahkan musuhmu. Sejarah para leluhurmu, patut dijadikan bukti.”
(Penulis adalah pegiat sosial, alumnus STFK Ledalero, tinggal di Labuan Bajo)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Penampakan-Maria-di-Fatima_01.jpg)