Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Opini: Bulan Oktober dan Relevansi Pesan Fatima di Zaman Ini

Di dalam doa Rosario segenap kaum beriman juga merenungkan rangkaian peristiwa-peristiwa Rosario mulai dari peristiwa gembira hingga peristiwa mulia.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
OCP
Ilustrasi penampakan Bunda Maria kepada tiga anak kecil di Fatima Portugal: Lucia dos Santos, Fransisco Marto, dan Jacinta Marto. 

Pertama, penampakan itu merupakan puncak dari rangkaian penampakan Bunda Maria yang diawali pada 13 Mei 2017, namun sebelumnya Allah telah mempersiapkan ketiga anak itu dengan mengutus malaikat dalam tiga kali penampakan, yang kemudian dikenal dengan malaikat perdamaian.

Kedua, dalam penampakan itu Bunda Maria memperkenalkan dirinya sebagai Ratu Rosari.

Ketiga, terjadi mukjizat yang dikenal dengan ‘matahari menari’.

Keempat, peristiwa mukjizat matahari ‘menari’ itu disaksikan oleh sekitar 75.000 orang; 50.000 orang diantaranya berada di lokasi penampakan, sedangkan 25.000 orang lainnya menyaksikannya dari jarak sekitar 25 mil.

Kelima, mukjizat ‘matahari menari’ merupakan tanda yang membuktikan bahwa sosok yang menampakkan diri itu adalah Bunda Maria, Perawan Tersuci seperti yang telah dijanjikannya pada penampakan 13 Juli 1917.

Berpautan dengan mukjizat ‘matahari menari’, banyak orang menjadi percaya walaupun segelintir orang diantaranya masih tetap mempertahankan sikap ketidakpercayaannya.

“Banyak orang yang datang dan percaya akan penampakan itu diperkuat imannya. Beberapa yang skeptis menjadi tidak ragu lagi, dan banyak yang hanya ingin tahu berubah menjadi percaya.

Tentang mereka yang tidak percaya, mungkin beberapa hanya menolak untuk percaya, meskipun mereka menyaksikan itu.” Demikian Andrew Apostoli.

Sebab sebelumnya terjadi pertentangan yang luar biasa sengit antara para pelihat yang didukung oleh mereka yang percaya dengan orang-orang yang tidak percaya akan penampakan itu terutama pihak penguasa setempat yaitu Arturo Santos.

Tentang mukjizat itu, Andrew Apostoli menulis dengan begitu indah dan menarik kesaksian seorang saksi mata bernama Mary Allen, “Ketika kami mendekati lereng bukit yang diduga menjadi tempat terjadinya penampakan, saya melihat lautan manusia. Saya tidak menghitung, tetapi saya baru pertama kali menyaksikan massa yang demikian banyak …

Kami baru saja tiba di sana ketika tiba-tiba perhatian saya mengarah kepada cahaya terang yang tiba-tiba muncul dari langit, menerangi seluruh wilayah itu. Seketika itu juga hujan berhenti, awan terpencar dan saya melihat sebuah matahari besar, lebih terang dari matahari biasa, tetapi saya bisa melihatnya tanpa terasa sakit pada mata, seolah-olah itu bulan.

Matahari ini makin lama makin besar, semakin terang hingga seluruh langit kelihatan terang benderang lebih daripada sebelumnya. Lalu matahari mulai memutar dan mengeluarkan berkas-berkas cahaya, yang mengubahnya menjadi berwarna-warni seperti pelangi…

Pada saat yang sama, matahari mulai semakin membesar di langit seolah-olah mengarah ke kami dan mau jatuh ke bumi. Semua orang ketakutan. Kami semua mengira dunia akan kiamat. Semua orang berlutut di tanah sambil berdoa dan menyerukan doa tobat. Tiba-tiba matahari berhenti berputar dan kembali ke tempatnya di langit.

Setiap orang mulai berteriak, “Mukjizat! Ini sebuah mukjizat!”

Baru kemudian saya memperhatikan bahwa tanah maupun pakaian saya kering sekali. Semua orang kelihatannya berusaha maju untuk melihat ketiga anak itu. Sayangnya saya hanya bisa melihat mereka dari kejauhan!”

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved