Opini
Opini: Bulan Oktober dan Relevansi Pesan Fatima di Zaman Ini
Di dalam doa Rosario segenap kaum beriman juga merenungkan rangkaian peristiwa-peristiwa Rosario mulai dari peristiwa gembira hingga peristiwa mulia.
Oleh: Arnoldus Nggorong
POS-KUPANG.COM - Ketika berada di Bulan Oktober, dalam tradisi Gereja Katolik, seluruh umat beriman memberi penghormatan dan bakti penuh khidmat kepada Bunda Maria, Perawan Terberkati, dengan berdoa Rosario. Di dalam doa Rosario segenap kaum beriman juga merenungkan rangkaian peristiwa-peristiwa Rosario mulai dari peristiwa gembira hingga peristiwa mulia.
Sikap dan tindakan umat Katolik yang demikian memiliki hubungan yang erat dengan peran Bunda Maria sendiri yang turut berpartisipasi aktif dalam sejarah penyelamatan umat manusia dalam dan dengan totalitas ketaatan dan kepasrahannya terhadap kehendak Allah.
Partisipasi Maria tampak jelas ketika ia bersedia menerima warta malaikat dan dilanjutkan dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, bekerjasama dengan karya Juru Selamat (LG Art. 61).
Pengakuan Gereja Katolik akan peran penting Bunda Maria dalam sejarah keselamatan membuatnya pantas dihormati dengan kebaktian istimewa karena Maria adalah Bunda Allah dan Bunda Penebus (Lih. LG Art. 53, 66).
Misteri Iman
Bila mengikuti dengan cermat, sesungguhnya, seluruh peristiwa rosario itu menyatakan dengan jelas dan terang benderang misteri penyelamatan umat manusia. Dikatakan misteri karena hanya Allah sendiri yang mengetahui motif di balik tindakan belaskasih dan kerahiman-Nya yang tak terselami itu dalam upaya menyelamatkan umat manusia.
Satu-satunya sumber yang dapat diketahui dan patut dijadikan rujukan utama oleh kaum beriman kristiani, untuk coba memahami karya agung Allah ini, adalah teks injil Yohanes. Pengertian itu pun hanya bersifat tafsiran yang berlandaskan keyakinan iman.
Teks itu berbunyi, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan oleh-Nya dunia diselamatkan.” (Yoh. 3:16-17)
Dan satu-satunya kata yang bisa membahasakan perbuatan luhur Allah yang dapat dimengerti oleh manusia adalah kasih, yang lebih tepat lagi dari kata itu adalah kerahiman.
Untuk lebih jauh memahami kerahiman Allah dapat digunakan perumpamaan tentang seorang perempuan yang dengan rela hati menyediakan rahimnya sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya seorang anak manusia.
Saya memberi atensi lebih pada kesediaan dan kerelaan seorang perempuan karena hanya perempuan yang memiliki sikap demikian yang benar-benar tahu menjaga, merawat, memelihara, melindungi buah hati yang ada di dalam rahimnya.
Bahkan demi si buah hati ia sampai mempertaruhkan nyawanya, termasuk kesediaan dan kerelaan sang perempuan menerima dan menanggung segala bentuk penderitaan hanya untuk memastikan bahwa buah hati yang sedang dikandungnya aman, nyaman dan selamat.
Landasan pijak dari tindakan demikian, sekali lagi hanya kasih. Paulus sendiri memuji keagungan kasih sebagai keutamaan kristiani yang paling tinggi (bdk. 1 Kor. 13:1-13).
Sebab kalau seorang perempuan tidak memiliki kesediaan dan kerelaan, sudah dapat diduga akibatnya adalah pengguguran janin (aborsi) yang dilakukan dengan pelbagai cara.
Terdapat banyak negara yang melegalkan praktIk aborsi. Saya hanya mengambil beberapa negara sebagai contoh.
Yang mengejutkan adalah negara-negara itu tersebar di lima benua seperti Australia, China, Kamboja, Jerman, Amerika Serikat, Kuba (detikcom. 30/5/2012).
Selanjutnya Sindonews.com merilis 4 negara yang juga ikut mengukuhkan aborsi yakni Kanada, Rusia, Singapura, dan Argentina (Sindonews.com 18/2/2022).
Ini cuma sekadar contoh.
Bila seorang ibu demikian besar mengasihi dengan penuh kerahiman bayi yang ada di dalam rahimnya, apalagi Allah yang mencipta, yang mahapenyelenggara, memiliki belas kasih-kerahiman melebihi kasih seorang ibu.
Deskripsi tentang kerahiman Allah dilukiskan Nabi Yesaya dengan begitu indah dan tegas, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak melupakan engkau.” (Yes. 49:15)
Santa Faustina Kowalska, yang lahir di kampung Glogowiec, Polandia, yang kemudian dikenal sebagai Rasul Kerahiman Ilahi, dalam segala keterbatasan (karena ia hampir tidak dapat menyelesaikan tiga tahun sekolahnya yang setara SD), dan kerapuhannya mengakui, betapa kerahiman Allah tidak dapat dibandingkan dengan apa pun.
Santa Faustina menulis, “Langit dan bumi boleh berubah, kerahiman Allah tidak pernah akan berkesudahan.” (Buku Harian no. 72)
Sebab Santa Faustina tidak pernah membayangkan bahwa ia yang begitu hina akan dipakai oleh Allah mengemban misi yaitu menyebarkan devosi baru dalam Gereja Katolik yakni devosi Kerahiman Ilahi.
“Engkau adalah saksi kerahiman-Ku. Untuk selama-lamanya, engkau akan berdiri di hadapan takhta-Ku sebagai saksi hidup atas kerahiman-Ku,” demikian Santa Faustina (BH. No. 417).
Selanjutnya Santa Faustina menulis, “Aku menjadikan engkau pembagi Kerahiman-Ku.” (BH. No. 470)
Peristiwa Penampakan di Fatima
Berkenaan dengan bulan Oktober ini pula, segenap umat beriman mengenang peristiwa spektakuler yang terjadi di Fatima, Portugal, 106 tahun yang lalu. Kejadian yang menakjubkan dan mencengangkan itu turut memberikan pengaruh yang cukup besar bagi arah perkembangan Gereja Katolik selanjutnya.
Peristiwa luar biasa itu adalah penampakan Bunda Maria kepada tiga anak kecil: Lucia dos Santos, Fransisco Marto, dan Jacinta Marto.
Peristiwa iman yang amat bersejarah itu, teristimewa bagi orang Katolik, disebut luar biasa menakjubkan karena beberapa alasan (Bdk. Fr. Andrew Apostoli,C.F.R., Pesan Fatima Untuk Kita Saat Ini, 2017).
Pertama, penampakan itu merupakan puncak dari rangkaian penampakan Bunda Maria yang diawali pada 13 Mei 2017, namun sebelumnya Allah telah mempersiapkan ketiga anak itu dengan mengutus malaikat dalam tiga kali penampakan, yang kemudian dikenal dengan malaikat perdamaian.
Kedua, dalam penampakan itu Bunda Maria memperkenalkan dirinya sebagai Ratu Rosari.
Ketiga, terjadi mukjizat yang dikenal dengan ‘matahari menari’.
Keempat, peristiwa mukjizat matahari ‘menari’ itu disaksikan oleh sekitar 75.000 orang; 50.000 orang diantaranya berada di lokasi penampakan, sedangkan 25.000 orang lainnya menyaksikannya dari jarak sekitar 25 mil.
Kelima, mukjizat ‘matahari menari’ merupakan tanda yang membuktikan bahwa sosok yang menampakkan diri itu adalah Bunda Maria, Perawan Tersuci seperti yang telah dijanjikannya pada penampakan 13 Juli 1917.
Berpautan dengan mukjizat ‘matahari menari’, banyak orang menjadi percaya walaupun segelintir orang diantaranya masih tetap mempertahankan sikap ketidakpercayaannya.
“Banyak orang yang datang dan percaya akan penampakan itu diperkuat imannya. Beberapa yang skeptis menjadi tidak ragu lagi, dan banyak yang hanya ingin tahu berubah menjadi percaya.
Tentang mereka yang tidak percaya, mungkin beberapa hanya menolak untuk percaya, meskipun mereka menyaksikan itu.” Demikian Andrew Apostoli.
Sebab sebelumnya terjadi pertentangan yang luar biasa sengit antara para pelihat yang didukung oleh mereka yang percaya dengan orang-orang yang tidak percaya akan penampakan itu terutama pihak penguasa setempat yaitu Arturo Santos.
Tentang mukjizat itu, Andrew Apostoli menulis dengan begitu indah dan menarik kesaksian seorang saksi mata bernama Mary Allen, “Ketika kami mendekati lereng bukit yang diduga menjadi tempat terjadinya penampakan, saya melihat lautan manusia. Saya tidak menghitung, tetapi saya baru pertama kali menyaksikan massa yang demikian banyak …
Kami baru saja tiba di sana ketika tiba-tiba perhatian saya mengarah kepada cahaya terang yang tiba-tiba muncul dari langit, menerangi seluruh wilayah itu. Seketika itu juga hujan berhenti, awan terpencar dan saya melihat sebuah matahari besar, lebih terang dari matahari biasa, tetapi saya bisa melihatnya tanpa terasa sakit pada mata, seolah-olah itu bulan.
Matahari ini makin lama makin besar, semakin terang hingga seluruh langit kelihatan terang benderang lebih daripada sebelumnya. Lalu matahari mulai memutar dan mengeluarkan berkas-berkas cahaya, yang mengubahnya menjadi berwarna-warni seperti pelangi…
Pada saat yang sama, matahari mulai semakin membesar di langit seolah-olah mengarah ke kami dan mau jatuh ke bumi. Semua orang ketakutan. Kami semua mengira dunia akan kiamat. Semua orang berlutut di tanah sambil berdoa dan menyerukan doa tobat. Tiba-tiba matahari berhenti berputar dan kembali ke tempatnya di langit.
Setiap orang mulai berteriak, “Mukjizat! Ini sebuah mukjizat!”
Baru kemudian saya memperhatikan bahwa tanah maupun pakaian saya kering sekali. Semua orang kelihatannya berusaha maju untuk melihat ketiga anak itu. Sayangnya saya hanya bisa melihat mereka dari kejauhan!”
Andrew Apostoli merangkum peristiwa spektakuler itu dalam bahasa, yang dikutipnya dari pelukisan kejadian-kejadian ajaib di Lourdes, sebagai berikut: “Bagi orang beriman, tidak perlu penjelasan. Bagi orang tidak beriman, tidak ada lagi penjelasan yang mungkin.”
Akhir-akhir ini dunia dikejutkan oleh perang Hamas vs Israel. Kalau menelusuri jejak digital, sebelumnya juga dunia sudah dihebohkan dengan perang antara Rusia dan Ukraina. Dua peristiwa perang di awal abad 21 ini telah menjadi bencana dan tragedi kemanusiaan.
Perang merendahkan harkat dan martabat manusia. Sebab hanya dengan sekali mengklik tombol, nyawa manusia tercabut dari tubuhnya akibat ledakan bom.
Manusia sebagai ciptaan yang mulia seakan-akan setara nilai dan martabatnya dengan makhluk ciptaan lainnya.
Dengan kata lain, manusia menghancurkan dirinya sendiri melalui perang. Sebab justru peralatan persenjataan ciptaannya sendiri yang dipakai untuk membinasakan sesamanya.
Ditambah lagi dengan bencana-bencana alam yang selalu menimpa planet bumi ini, yang senantiasa berulang setiap tahunnya membuat dunia seolah-olah tidak lagi sebagai hunian yang aman, nyaman dan menyejukkan, yang memberi kegembiraan.
Bencana dan tragedi, baik yang dibuat oleh manusia sendiri maupun yang terjadi secara alamiah, adalah ancaman yang nyata terhadap kehidupan manusia sendiri.
Dalam formula yang ekstrim, bencana dan tragedi itu telah menjadi neraka yang hidup bagi manusia, bukan lagi sekadar kisah dongeng sebagai pengantar tidur pada masa kanak-kanak.
Kondisi dunia yang demikian diformulasikan dalam bahasa Joseph Ratzinger, Paus Benediktus XVI sebagai berikut: “Dewasa ini kemungkinan dunia hancur menjadi debu oleh lautan api bukan lagi sekadar fantasi.”
Apabila menelisik peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas dengan cermat, bencana dan tragedi itu sesungguhnya hendak mendemonstrasikan dengan vulgar apa yang dinamakan gengsi yang berakar dalam egoisme segelintir orang dengan bertopeng pada (membela) kepentingan harkat dan martabat manusia dan/atau atas nama kesejahteraan bersama/kepentingan negara.
Lalu dengan alasan mulia itu mereka memobilisasi sesamanya untuk saling membunuh. Deskripsi seperti itu semakin meneguhkan pepatah Latin yang dikatakan Thomas Hobbes (1588-1679) yakni ‘Homo homini lupus est’.
Narasi hidup manusia yang diwarnai peristiwa tragis di atas akan terus berlanjut bila manusia tidak mengindahkan pesan Bunda Maria di Fatima. Pesan itu adalah ajakan untuk ‘berdoa’ dan ‘bertobat’.
Ajakan Bunda Maria di Fatima terasa amat relevan dengan situasi dunia saat ini. Ajakan ini juga kian mendesak untuk ditanggapi secara serius oleh segenap umat manusia.
Paus Yohanes Paulus II, dalam kesempatan kunjungan ke Fatima, menekan lagi pentingnya pesan Fatima untuk dunia zaman ini, dengan mengatakan, pesan Fatima pada dasarnya adalah sebuah panggilan untuk berbalik dan bertobat sebagaimana dalam injil.
Panggilan ini disampaikan pada awal abad ke-20, dan dengan demikian ditujukan kepada umat manusia abad ini.
Bunda Maria yang membawa pesan itu kelihatannya sudah membaca dengan pemahaman khusus “tanda-tanda zaman”, tanda-tanda zaman kita.
Maka dari itu, sungguh amat berbahagia bahwa segenap kaum beriman mendapat hadiah istimewa dari Bunda Maria, sebuah senjata ajaib, untuk melawan kejahatan, yang tampil dalam pelbagai rupa, yang merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan yang harmonis.
Senjata itu adalah untaian doa-doa Rosario suci. Kesaksian sejumlah besar orang yang tidak terhitung banyaknya telah memberikan bukti yang autentik tentang kekuatan doa Rosario.
Sebab Bunda Maria sendiri mengatakan, ia menyediakan hatinya yang tak bernoda sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang yang datang kepadanya. Dia berjanji bahwa pada akhirnya “Hatiku yang tidak bernoda akan menang.”
Di akhir tulisan ini, saya mengutip penggalan sebuah syair lagu yang menggambarkan kekuatan doa Rosario sebagai berikut:
“Rosario, lambang suci. Pengalah setan dan nafsu pun musuh yang kejam.”
“Belum kudengar sekali terjadi, engkau dikalahkan musuhmu. Sejarah para leluhurmu, patut dijadikan bukti.”
(Penulis adalah pegiat sosial, alumnus STFK Ledalero, tinggal di Labuan Bajo)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Penampakan-Maria-di-Fatima_01.jpg)