Berita Timor Tengah Selatan
Pemberdayaan Perempuan dan Gender Equality Mendukung Eliminasi Stunting di Timor Tengah Selatan
Dirinya menyebut budaya patriarki masih menjadi salah satu faktor yang menghambat kaum perempuan dalam mengakses pelayanan kesehatan.
Penulis: Adrianus Dini | Editor: Oby Lewanmeru
"Hasil wawancara yang dilakukan kepada warga yang hadir yakni belum terjadinya kesetaraan gender dalam kaitanya dengan kesehatan," terang Herliana.
Baca juga: APBD Perubahan Tahun 2023 Tidak Terlaksana Pemkab TTS Gunakan Perkada, Bupati Epy Beberkan Alasan
Dirinya menyebut budaya patriarki masih menjadi salah satu faktor yang menghambat kaum perempuan dalam mengakses pelayanan kesehatan.
"Salah satu faktor yang menghambat kaum perempuan dalam mengakses pelayanan kesehatan yakni masih tingginya praktik budaya patriarki yang mana perempuan belum memiliki hak penuh dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh perempuan belum memiliki hak untuk menentukan jumlah anak yang akan dilahirkan. Penggunaan alat kontrasepsi juga belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dan dukungan dari pasangan yakni suami. Selain itu, persoalan lain yang ditemukan masih terbatasnya kuota penerima jaminan kesehatan yang menyebabkan perempuan mengalami keterbatasan dalam mengakses pelayanan kesehatan," paparnya.
Baca juga: Dukung Penanganan Stunting di NTT, Undana Kupang Dorong Masyarakat Terapkan Teknologi Aquaponik
Berbagai permasalahan kompleks ini katanya, harus menjadi perhatian semua pihak sehingga intervensi yang dilakukan baik oleh pemerintah, LSM, dan masyarakat harus menekankan pada pendekatan gender.
"Penting bagi pemerintah, LSM, dan masyarakat untuk bekerjasama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Dengan upaya bersama, stunting bisa dicegah, dan anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas dan pruduktif," pungkasnya. (din)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.