Berita Timor Tengah Selatan

Pemberdayaan Perempuan dan Gender Equality Mendukung Eliminasi Stunting di Timor Tengah Selatan

Dirinya menyebut budaya patriarki masih menjadi salah satu faktor yang menghambat kaum perempuan dalam mengakses pelayanan kesehatan.

Penulis: Adrianus Dini | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
PENGABDIAN - Pose bersama, para Dosen Prodi Ners Universitas Citra Bangsa Kupang saat melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Adrianus Dini

POS-KUPANG.COM, SOE - Pemberdayaan Perempuan dan Gender Equality turut mendukung eliminasi stunting di Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten TTS.

Hal itu diungkapkan para Dosen Prodi Ners Universitas Citra Bangsa Kupang saat melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Kegiatan pengabdian tersebut dilaksanakan oleh Herliana MA Djogo, Yulia M.K Letor, Yohanes Dion dan Angela Muryanti Gatum yang merupakan dosen Program Studi Ners Universitas Citra Bangsa Kupang.

Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan selama tiga hari yakni sejak tanggal 13 hingga 15 Oktober 2023 ini merupakan kegiatan yang disupport oleh Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM) DITJEN DIKTIRISTEK. 

Baca juga: Monitoring Pengerjaan Trotoar Dalam Kota Soe, Komisi III DPRD TTS Soroti 3 Persoalan yang Ditemukan

Herliana M.A Djogo menjelaskan, Desa Kesetnana merupakan salah satu dari 40 desa pilot yang direkomendasikan Bappenas dan Kemenko PMK untuk melaksanakan Pengabdian kepada masyarakat. 

"Desa ini dipilih menjadi lokasi pengabdian masyarakat karena merupakan desa dengan kejadian stunting tertinggi di kabupaten TTS," ujarnya. 

Diaktakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Djogo dan kawan-kawan, ditemukan Faktor pengetahuan ibu berhubungan dengan kejadian stunting. Selain itu, masih banyak kaum  perempuan yang belum memiliki jaminan kesehatan nasional. Hal tersebut dikatakan, akan mempersulit wanita hamil dan ibu balita mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil, merata dan bermutu.

Baca juga: Begini Penjelasan Supervisor SPBU di Desa Kesetnana Soe Terkait Harga Pertamax

"Salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan stunting adalah dengan kegiatan pemberdayaan. Pemberdayaan perempuan memiliki makna yang mulia karena mengatur serta mengurus sumber daya manusia dalam keluarga, terutama anak sebagai generasi penerus bangsa," bebernya. 

Dijelaskan, dalam pelaksanaanya kegiatan ini mendapatkan sambutan yang baik dari Kepala Desa Kesetnana, Young Peter Liu, S.Ip. 

"Beliau menyampaikan data yang diliris pada bulan Februari 2023 jumlah anak stunting di desa ini adalah 242 anak dan telah berkurang 33 anak menjadi 209 anak," katanya. 

"Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk Desa Kesetnana. Melalui program Desa dan program PKK diharapkan dapat membantu menurunkan stunting," tambahnya. 

Baca juga: SMAN 1 Mollo Selatan, Timor Tengah Selatan Juara 1 Lomba Menulis Cerita Rakyat Tingkat Kabupaten 

Dikatakan, kegiatan pengabdian yang dilaksanakan pihakya selama tiga hari tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan sederhana kepada calon pengantin, ibu bayi balita dan ibu hamil; pemberian edukasi tentang 1000 hari pertama kelahiran; demonstrasi menu DApur SeHAT (DASHAT) berbasis pangan lokal dan pembangian stiker tinggi badan di 35 rumah. 

"Hal ini dimaksudkan agar orang tua memiliki kesadaran untuk dapat ikut serta memantau pertumbuhan tinggi badan sesuai usia yang merupakan indikator stunting berdasarakan standar atropometri Kementrian Kesehatan tahun 2020," tuturnya.

Kegiatan tersebut katanya dihadiri kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari aparat desa, TP PKK, kader PKK, bidan Desa, warga desa kesetnana serta mahasiswa semester lima program studi keperawan UCB. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved