Berita Rote Ndao
Sebagian Besar Daerah Pesisir Rote Ndao Budidaya Rumput Laut
kebanyakan mereka bisa di area pasang surut maupun di area yang agak dalam, tapi ibu-ibu biasanya lebih rajin dari laki-laki
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti
POS-KUPANG.COM, BA'A - Potensi rumput laut di Rote Ndao sangat mumpuni dan menjadi penyokong kehidupan masyarakat.
Hal ini terbukti dari informasi yang berhasil dihimpun dari POS-KUPANG.COM, Senin, 19 September 2022, saat menemui Kabid Budidaya, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Perikanan Kabupaten Rote Ndao, Isnugroho.
"Untuk saat ini, ada 76 desa pesisir di Rote yang sebagian besar masyarakat pesisir adalah petani rumput laut," sebut Isnu.
Baca juga: Berdayakan SDM, Pemkab Rote Ndao Lewat Disbudpar Latih Pemandu Wisata Selam di Nemberala
Ia melanjutkan, dari sektor budidaya rumput laut, merupakan komoditas unggulan Rote Ndao.
"Jadi ketika rumput laut mulai masuk di Rote, maka secara perlahan menjadi penyokong terbesar dari masyarakat pesisir," tandasnya.
Menurutnya, kalau bisa dilihat, kenapa petani rumput laut bisa begitu cepat masuk ke masyarakat pesisir, karena rumput bisa dibudidayakan oleh laki-laki maupun perempuan.
"Kalau laki-laki itu, kebanyakan mereka bisa di area pasang surut maupun di area yang agak dalam, tapi ibu-ibu biasanya lebih rajin dari laki-laki. Makanya di area pasang surut itu biasanya lebih didominasi oleh pembudidaya ibu-ibu," ungkap Isnu.
Ketika budidaya rumput laut berkembang, masih kata dia, yang artinya menjadi penopang terutama kehidupan masyarakat, dilihat dari sisi usaha, membutuhkan modal yang tidak terlalu besar, tetapi hasilnya jauh lebih besar dari modal yang dikeluarkan.
Baca juga: Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Tetapkan HET BBM Subsidi dan Non Subsidi
"Modalnya hanya tali dan bisa bertahan dipakai sampai 3 tahun, modal yang berikut adalah patok dan pelampung," kata Isnu.
Kemudian, dikatakan Isnu, masa panennya juga pendek, di kisaran 40 hari, sudah bisa di panen.
Jadi, lanjutnya, ketika dihitung harga produksi itu untuk penghasilan sekarang harganya di Rp 32.000 dan sempat naik di Rp 40.000/ kilo, rumput laut kering.
"Karena memang kebutuhan akan rumput laut begitu besar, dan menjadi salah satu bahan ekspor. Dalam perkembangan yang signifikan, hingga sekarang sudah ada Pergub bahwa hasil rumput laut tidak boleh keluar dari NTT dalam bentuk bahan mentah, harus diolah di NTT baru bisa keluar," jelasnya.
Menurutnya, hal ini yang mungkin ada pembatasan harga terendah yang di tetapkan oleh pemerintah tidak boleh lebih dari Rp 20.000 harga tingginya itu menyesuaikan.
Maka, tambahnya, itu sebabnya petani rumput laut sudah diuntungkan, karena keuntungannya hampir 3 kali lipat.
Baca juga: Berjiwa Sosial Tinggi, Briptu Ferdinand Berbagi Kasih Dua Anak Yatim di Desa Mbueain Rote Ndao