Berita Nagekeo Hari Ini
Cegah Perkawinan Anak, Plan Indonesia Gelar Workshop untuk Kepsek dan Guru BK di Nagekeo
Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan guru BK pada satuan pendidikan SMP tentang upaya konkrit pencegahan
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Edi Hayong
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi
POS-KUPANG.COM, MBAY - Plan Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo menggelar workshop untuk para kepala sekolah dan guru bimbingan konseling (BK) terkait dengan pencegahan dan penanganan perkawinan anak di Kabupaten Nagekeo tahun 2022.
Kegiatan yang dibuka Bupati Nagekeo, Johannes Don Bosco Do tersebut dilaksanakan di Aula SMP Negeri 1 Aesesa pada, Kamis 17 Februari 2022.
Hadir sebagai peserta dalam kegiatan workshop tersebut yakni kepala sekolah, guru BK, dari Dinas P dan K, perwakilan forum anak Nagekeo, dan Plan Indonesia yang berjumlah sebanyak 43 orang.
Baca juga: Ketua P2TP2A Nagekeo Sebut Perda Perlindungan Anak Belum Diimplementasikan Secara Baik
Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan maksud untuk memperoleh pengetahuan, pengelaman, dan keterampilan yang memadai serta menyamakan persepsi tentang pencegahan dan penanganan perkawinan anak oleh kepala sekolah dan guru bimbingan konseling pada satuan pendidikan SMP guna menciptakan situasi yang kondusif bagi anak untuk berpartisipasi dalam pembelajaran dan mewujudkan Kabupaten Nagekeo bebas perkawinan usia anak.
Ketua Panitia Pelaksana, Drs. Amandus Embo, M.Ed dalam laporannya mengatakan, tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan guru BK pada satuan pendidikan SMP tentang upaya konkrit pencegahan dan penanganan perkawinan usia anak melalui pelatihan berkelanjutan bagi guru BK berkaitan dengan materi bimbingan kepada peseta didik.
Baca juga: Plan Indonesia Bersama Pemda Nagekeo Latih Kelompok Perlindungan Perempuan dan Anak Desa
Juga membangun kesadaran bersama dan meningkatkan pemahaman kepala sekolah dalam mendukung guru BK berkaitan dengan upaya kongkrit berupa tersedianya jam pelajaran BK bagi peserta didik.
Tujuan lain, mendorong komitmen dan para pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan dan penanganan perkawinan usia anak, serta terwujudnya kualitas perempuan dan anak di Kabupaten Nagekeo.
Ia berharap, dengan adanya kegiatan tersebut, para kepala sekolah, guru BK, dan pemangku kepentingan lainnya memahami tentang konsep pencegahan dan penanganan perkawinan usia anak.
Baca juga: Waspada, Nagekeo Kembali Dapat Kasus Positif Covid-19
Selain itu, tersedianya jam pelajaran khusus bagi guru BK pada satuan pendidikan untuk memberikan bimbingan berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan memilih masa depan untuk mencegah perkawinan usia anak.
"Kemudian terselenggaranya pendidikan dan pelatihan bagi guru BK pada satuan pendidikan SMP tentang memilih masa depan dalam rangka pencegahan perkawinan usia anak berkerja sama dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia dan terwujudnya kabupaten Nagekeo bebas perkawinan anak dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan untuk meraih masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Baca juga: Selama Empat Tahun Terakhir, Sebanyak 43 Suami di Ngada Gugat Cerai Istrinya
Dalam sambutannya, Manajer Plan Indonesia Area Flores, Zuniatmi mengatakan bahwa kehadiran Plan Indonesia ditengah-tengah satuan pendidikan tingkat sekolah menengah pertama di Kabupaten Nagekeo sangat jarang karena selama ini Plan Indonesia lebih berfokus pada pemberdayaan masyarakat ditingkat desa dan para siswa ditingkat sekolah dasar.
Menyadari akan hal tersebut, maka Plan Indonesia sekarang ini juga berfokus terhadap pencegahan dan penanganan perkawinan usia anak karena perkawinan pada usia anak merupakan sumber malapetaka terhadap kemiskinan di Indonesia. sehingga daerah ini layak anak.
Untuk itu, sejak dua atau tiga tahun yang lalu, Plan Indonesia juga fokus pada masalah pencegahan dan penanganan perkawinan usia anak melalui program memilih masa depan yang mana pesertanya adalah anak remaja yang berusia 13 sampai 19 tahun.
Baca juga: Diduga Jambret HP di Manggarai Barat, Oknum Warga Asal Ngada ini Dibekuk Polisi
Kegiatan tersebut merupakan kegiatan diskusi rutin yang digelar tiga kali dalam seminggu yang difasilitasi oleh relawan, para guru, dan juga tenaga kesehatan di desa tersebut.