Berita TTS

Menyusuri Pasar Katemak di Tomenas Soe TTS, Tak Pakai Uang Tunai hingga Tabrak Kabut dan Hujan

Suasana di Tomenas Kecamatan Molo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Sabtu 13 November 2021.

Editor: Gordy Donofan
Pos-Kupang.Com/Gordy Donofan
Suasana saat proses tawar menawar antara penjual dan Pembali di Pasar Katemak Tomenas TTS, Sabtu 13 November 2021 

Sementara itu Glend dari Bank BNI Kupang, mengaku bangga bisa datang langsung ke Pasar Katemak.

Kata Glend, Pasar Katemak sangat bagus dan kedepan diharapkan dapat ditingkatkan. Tak lupa ia menukarkan uang tunai dengan Loit guna bisa bertransaksi di Pasar Katemak.

Pembeli saat melakukan transaksi di Pasar Katemak Tomenas TTS, Sabtu 13 November 2021
Pembeli saat melakukan transaksi di Pasar Katemak Tomenas TTS, Sabtu 13 November 2021 (Pos-Kupang.Com/Gordy Donofan)

Program ICDRC-YFF

Sementara itu Koordinator Rayon 1 Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi NTT, Elfrid Veisel Saneh, menjelaskan sejak Januari 2019, Perkumpulan PIKUL dan OXFAM bekerjasama dengan komunitas petani perempuan di 4 Desa di Kabupaten Kupang dan Kabupaten TTS atas dukungan dari Australian Aid dan Kemensos RI.

Itu melaksanakan program Komunitas Tangguh Iklim dan Bencana di Indonesia atauIndonesia Climate and Disaster Resilient Communities (ICDRC) lewat Penguatan Petani Muda Perempuan (Young Female Farmer) atau YFF.

Elfrid  menjelaskan Program ICDRC-YFF ini memiliki tujuan jangka panjang bahwa pada tahun 2022, masyarakat pedesaan dan perkotaan yang ditargetkan di lokasi-lokasi terpilih di Indonesia, dengan fokus pada perempuan dan penyandang disabilitas, menyadari hak-hak mereka dan meningkatkan kesejahteraan mereka meskipun terdapat guncangan, tekanan dan ketidakpastian.

Ia menjelaskan aktifitas utama dari program ini adalah pelatihan kepada petani perempuan tentang pertanian berkelanjutan, penghidupan berkelanjutan, wirausaha sosial, pembukaan akses pasar terhadap produk yang dihasilkan dan penguatan bagi Pemerintah Desa untuk perencanaan di tingkat desa yang sensitive bencana dan adaptasi perubahan iklim.

Ia menjelaskan Forum Pengurangan Resiko Bencana  (FPRB) yang disingkat Forum PRB merupakan forum tempat bertemunya atau wadah tempat berkumpulnya para pihak pemangku kepentingan, baik individu maupun lembaga dari unsure masyarakat (termasuk perguruan tinggi, LSM, Legislatif, Ormas, Media), pemerintahdan dunia usaha yang mempunyai perhatian dan kepedulian yang sama terhadap agenda  pengurangan resiko bencana. 

Undang-undang nomor 24 tahun 2007 memandatkan agar FPRB dibentuk dari level pusat sampai desa. Tujuan dari Forum PRB ini salah satunya terbentuknya suatu forum yang mewadahi para pihak yang berkepentingan dalam melakukan advokasi pengurangan risiko bencana.

Forum Pengurangan Risiko bencana NTT, disingkat FPRB – NTT berkedudukan di ibu kota provinsi,  didirikan berdasarkan peraturan gubernur nomor 13 tahun 2010 tentang forum pengurangan resiko bencana provinsi NTT.

Ia mengaku dalam melaksanakan fungsi-fungsinya FPRB NTT adalah mitra strategis pemerintah Provinsi melalui BPBD provinsi NTT.

Sejakmaret 2020, Forum PRB NTT menjalin kerjasama dengan Perkumpulan PIKUL yang di dukung OXFAM  untuk melaksankan koordinasi dan aktivitas tangguh bencana di NTT dalam mendukung Komunitas Tangguh Iklim dan Bencana di Indonesia atau Indonesia Climate and Disaster Resilient Communities (ICDRC).

‘’Aktifitas utama dari program ini adalah aktivasi jalur koordinasai dan komuikasi, penguatan stakeholder pentahelix bersama Organisasi Pemerintah Daerah terkait mitigasi, siaga bencana dan respon bencana serta penghidupan berkelanjutan, wirausaha sosial, pembukaan akses pasar terhadap produk yang dihasilkan dan penguatan bagi Pemerintah Desa/kabupaten/kota untuk perencanaan di tingkatdesa/kabupaten/kota yang sensitive bencana dan adaptasi perubahan iklim,’’jelasnya.

Ia menjelaskan Forum PRB NTT terbentuk dengan tujuan untuk mewadahi para pihak yang berkepentingan dalam melakukan advokasi pengurangan risiko bencana. Kondisi lingkungan dan perubahan iklim yang ada saat ini membuat kita menghadapi risiko bencana yang semakin meningkat, dengan tantangan yang semakinbesar dalam mengelola dan mengurangi risikonya.   

Berbagai peristiwa bencanabanjir, tanah longsor, angin putting beliung, kebakaran, gelombang pasang, gempa dan kekeringan, ancaman letusan gunung api maupun ancaman bencana social seperti konflik dan kerusuhan sosial yang datang silih berganti setiap tahun menjadi tanggung jawab dan perlu menjadi kesiap-siagaan bagi seluruh stakeholder dan pemangku kepentingan.

Pasar Katemak ke Enam

Ia mengaku Pasar Katemak lahir dari inisiasi para relawan #BetaBAPER. Proyek secara khusus menginisiasi pembelajaran khusus untuk anak muda di Kupang dan Soe untuk belajar tentang Adaptasi Perubahan Iklim dan Penghidupan Berkelanjutan lewat konsep Beasiswa #BETABAPER (Beta Anak Muda Belajar Penghidupan Berkelanjutan).

10 anak muda dari Kota Kupang dan Kota Soe kemudian diajak live in selama1 minggu di Desa lokasi program YFF dan melakukan pembelajaran tentang konteks Penghidupan Berkelanjutan, Dampak Perubahan Iklim dan Inklusisosial. Menggunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal).

Para pemuda ini kemudian mempelajari penghidupan YFF dan Warga desa (termasuk penyandang disabilitas di desa) dan kemudian mempresentasikan hasil mereka di depan staf PIKUL.

“Dengan pengalaman ini diharapkan para peserta #BETABAPER mendapatkan insight terhadap konteks penghidupan para YFF dan warga di desa termasuk keterkaitannya dengan dampak perubahan iklim,’’ujarnya.

Ia menyatakan dalam rangka mengembangkan Ekosistem Pro-Sumsi Tahan IklimDesa-Kota proyek lewat para relawan #BetaBAPER menginisiasi sebuah pasar alternative dengan nama Pasar Katemak.

Pasar Katemak ini dihadirkan dengan visi untuk mentrigger model supply chain dari produk-produk YFF dan komunitas di desa agar terhubung dengan para calon konsumen di Kupang, dengan konsep pasar yang unik dan zerowaste.

Di pasar ini para YFF diajak untuk terlibat dan menjual produk-produk mereka.

“Direncanakan pasar ini akan dijadikan pasar rutinsetiap bulan sekali,’’ujarnya.

Ia mengaku konsep Pasar Katemak tergolong unik, sebab semua transaksi tidak menggunakan uang kertas ataupun uang logam yang tersebar di masyarakat.

Semuapihak (penjual dan pembeli) diwajibkan bertransaksi menggunakan Loit.

Loit adalah mata uang khusus berbahan dasar kayu dengan nominal uang tertera, menunjukkan konversinyake Rupiah. Loit itusendiri adalah kata dalam Bahasa Dawan, artinya uang.

1 Kat = Rp 1.000 dan seterusnya 100 Kat = Rp 100.000. Sebelumberbelanja, para pengunjung harus menukarkan uang Rupiah dalam bentuk loit.

Pasar Katemak sudah 5 kali diselenggarakan di Kota Kupang dan di tahun 2021, ini merupakan Pasar Katemak ke-6 dan juga pertama kalinya dilaksanakan di luar kota Kupang yaitu di Tomenas Kabupaten TTS.

Pantauan POS-KUPANG.COM, Pasar Katemak tidak hanya menjual hasil pertanian, tapi juga hasil pangan olahan rumah tangga. Selain itu juga ada kain tenun, selendang, hasil hutan berupa madu asli Timor, Kopi  dan banyak lagi produk lokal yang dipamerkan.

Pengunjung juga akan dihibur oleh penari usia sekolah. Mereka sangat antusias membawakan tarian khas Timor dengan narasi yang disampaikan terkait tarian yang mereka bawakan.

Pengunjung juga akan menikmati pesona alam yang menarik disana. Dalam kawasan Tomenas, pengelola wisata sudah menyiapkan spot foto untuk para pengunjung.

Berita TTS Lainnya

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved