Direktur PDAM SoE Enggan Berkomentar Soal Perintah Wakil Bupati TTS Cabut Laporan Polisi

Direktur PDAM SoE, Lily Hayer yang dimintai komentarnya terkait perintah Wakil Bupati TTS, Jhony Army Konay untuk mencabut laporan polisi

Penulis: Dion Kota | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/DION KOTA
Direktur PDAM Soe, Lily Hayer 

POS-KUPANG.COM | SOE - Direktur PDAM SoE, Lily Hayer yang dimintai komentarnya terkait perintah Wakil Bupati TTS, Jhony Army Konay untuk mencabut laporan polisi terkait dugaan pengrusakan jaringan pipa Bonleu, memilih untuk tidak berkomentar.

Dirinya juga engga menjawab apakah Laporan terus sudah dicabut atau belum? Ia menyebut, saat ini dirinya ingin fokus ke pelayanan terlebih dahulu supaya semua cepat selesai dan pelayanan kembali normal.

Padahal, penutupan sumber mata air Bonleu oleh tokoh adat Bonleu sendiri menyebabkan air Bonleu tidak bisa sampai ke kota soe.

Mata air Bonleu sendiri merupakan penyuplai air terbesar untuk PDAM Soe. Jika ingin konsen ke pelayanan dan pelayanan menjadi prima, seharusnya masalah Bonleu menjadi prioritas untuk diselesaikan.

Baca juga: Kajari TTU Kembalikan 6 Sertifikat Hak Milik Warga Desa Birunatun yang Ditahan Kades Selama 27 Tahun

Baca juga: Aston Kupang Raih Penghargaan Hotel Terbaik dari TripAdvisor

" Saya tidak ada komentar soal itu. Karena sekarang saya fokus ke pelayanan dulu," tulisnya singkat dalam pesan WhatsApp yang diterima POS-KUPANG.COM, Selasa 1 Juni 2021.

Untuk diketahui, Para amaf Desa Bonle'u yang terdiri dari Liem-Olla, Baun-Anone bersama meob, Ollin-Fobia, memimpin masyarakat melakukan aksi penutup sumber mata air Bonleu, Minggu 30 Mei 2021.

Tak kurang dari 97 masyarakat nampak menghadiri aksi penutupan sumber mata air Bonleu yang dilakukan secara adat.

Sebelum melaksanakan ritual adat penutupan sumber mata air, Meo Ollin-Fobia, Joni Babu mematahkan ranting daun lalu diberikan kepada Obed Liem, Markus Liem dan Simon Liem yang merupakan amaf di wilayah tersebut.

Baca juga: Indahnya Air Terjun Hono di Kabupaten Kupang, Ini Pesan Camat Amabi Oefeto Timur

Baca juga: OJK NTT: Penyaluran Kredit NTT Hingga April 2021 Tumbuh 1,93 Persen

Ranting daun tersebut lalu digantungkan di dekat saluran pipa pembuangan sebagai tanda larangan agar tidak serta merta orang dapat melepaskan air kembali ke Kota Soe tanpa sepengetahuan para Amaf serta Meob di wilayah tersebut.

Soleman Fallo, yang merupakan amaf di Desa Bonleu mengatakan, sudah sejak lama sebenarnya masyarakat memiliki niat untuk menutup sumber mata air Bonleu.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap Pemda TTS yang dinilai ingkar janji sejak tahun 1996 silam.

Dimana saat pertama kali merintis pembangunan jaringan pipa air Bonleu, Bupati TTS kala itu, Piet Sabuna berjanji kepada masyarakat akan membangun jalan hotmix di desa Bonleu, jalan sumbu kabupaten (Saubalan-Bonleu), membangun jembatan Noebesi yang menghubungkan kabupaten TTS dan TTU, pembagian hasil 10 persen dari pengelolaan air Bonleu serta menyediakan jaringan listrik untuk masyarakat Bonleu.

Namun hingga kini, janji-janji tersebut hanya isapan jempol semata.

Dirinya merasa, selama ini Desa Bonleu diperlakukan layaknya anak tiri, sangat minim perhatian walaupun memiliki potensi air dan hasil pertanian.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved