Senin, 11 Mei 2026

Opini Pos Kupang

Dampak Badai Seroja Terhadap Pembelajaran Online Mahasiswa

Badai Siklon Tropis Seroja yang baru-baru ini melanda sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di Provinsi NTT

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA
Angelina Merici Jeniut 

POS-KUPANG.COM - Badai Siklon Tropis Seroja yang baru-baru ini melanda sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Provinsi NTT) pada tanggal 4 hingga 5 April 2021.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), Siklon Tropis merupakan badai dengan kekuatan besar. Radius rata- rata kekuatan siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km.

Siklon tropis terbentuk diatas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26,5 o C. Angin kencang yang berputar didekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/ jam.

Akibat badai ini, banyak kerugian dan kehilangan yang dialami masyarakat di daerah terdampak, mulai dari korban jiwa, kehilangan harta benda, rumah yang hancur serta terhambatnya berbagai aktivitas masyarakat.

Baca juga: Update Kode Redeem FF Hari Ini 5 Mei 2021, Segera Klaim Kode Redeem Free Fire Terbaru

Baca juga: Aktivitas Mudik Belum Nampak di Terminal Lolawa-Belu

Kepala Badan Nasional Penanggualangan Bencana (BNBP) Letnan Jenderal Doni Monardo mengatakan bahwa terdapat 11 daerah terdampak bencana badai siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Data BNBP pada 6 April 2021 mencatat sebanyak 86 orang meninggal dunia, 98 orang dinyatakan hilang, 146 orang menderita luka-luka dan sebanyak 2.683 orang terdampak bencana.

Pasca diterjang badai, terdapat begitu banyak sarana dan prasarana publik yang mengalami kerusakan.

Salah satunya adalah kerusakan infrastruktur listrik yang berujung pada pemadaman listrik dan ketidakstabilan jaringan internet. Berdasarkan laporan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 2.410 unit gardu listrik mengalami kerusakan akibat badai siklon tropis Seroja di wilayah NTT.

Baca juga: Bupati Sumba Timur Larang Kegiatan Bersama dan Halal Bihalal

Baca juga: LBH SIKAP Harap Sidang Tatap Muka Saksi Mahkota Kasus Watodiri, Bukan Virtual

Sebagai dampaknya, segala bentuk aktivitas masyarakat menjadi terhambat. Mulai dari sejumlah pekerjaan yang telah dilakukan seperti sedia kala di tempat kerja sampai pada pekerjaan yang masih dilakukan secara daring akibat pandemi Covid- 19.

Pelaksanaan aktivitas pembelajaran diberbagai jenjang pendidikanpun tak luput dari imbas badai seroja. Sejak awal merebaknya Covid-19 di Indonesia, pemerintah mengambil kebijakan untuk menjalankan proses pembelajaran dari rumah sebagai salah satu upaya pemutusan mata rantai penyebaran Virus Corona.

Pembelajaran online merupakan tantangan baru, baik bagi tenaga pendidik dan juga para peserta didik, khususnya didaerah terbelakangan seperti NTT. Dengan adanya pembelajaran online ini, tenaga pendidik dan peserta didik dituntut untuk menjadi lebih cerdas, bijak dan mandiri serta mampu beradaptasi dengan cepat.

Karena pembelajaran online dimasa pandemi ini, banyak mengikutsertakan dan mengandalkan kemampuan mengoperasikan teknologi- teknologi canggih, seperti handphone, laptop atau komputer yang sayangnya masih merupakan benda asing bagi masyarakat disejumlah daerah di NTT.

Terjadinya badai seroja seolah menjadi beban ganda bagi mahasiswa yang berada didaerah terdampak. Hal ini dikarenakan jaringan yang belum stabil akibat perbaikan infrastruktur yang tentunya memakan waktu.

Ketidakstabilan jaringan internet ini, salah satunya dapat kita lihat dari persentasi absensi mahasiswa yang rendah akibat kesulitan mengakses internet, suara yang terputusputus saat sedang presentasi online, sejumlah mahasiswa yang keluar- masuk ke dalam room meeting online, dan lain sebagainya.

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana, juga tak luput dari dampak yang diakibatkan oleh badai Seroja, terutama dalam mengikuti perkuliahan online.

Sebagaimana dikatakan dalam sambutannya pada saat pelantikan BLM, BEM dan HMP dilingkup FKM Undana (28/4), Dekan FKM Undana mengatakan diantara 80 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan online hanya 30 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan via aplikasi pembelajaran google meet karena jaringan yang belum stabil pasca siklon tropis seroja.

Tak bisa dipungkiri bahwa perkuliahan yang dilakukan secara online sangatlah tidak efektik karena beberapa pertimbangan. Yang pertama, perkuliahan online kurang efektif dalam membantu mahasiswa menyerap ilmu yang disampaikan.

Hal ini diakibatkan oleh keterbatasan akses dan kurang intensnya komunikasi antara mahasiswa dan dosen sebagai tenaga pendidik.

Alasan lainnya adalah perkuliahan online memberi efek jenuh yang lebih besar bagi mahasiswa karena setiap hari harus berhadapan dengan handphone atau laptop sebagai media pembelajaran dan tidak bisa berkomunikasi langsung dengan dosen dan teman-teman sesama mahasiswa.

Akibat terjadinya badai seroja, mahasiswa juga terbebani oleh gangguan jaringan internet yang seringkali terjadi, khususnya didaerah terdampak.

Mau tidak mau, mahasiswa harus berjuang ekstra, berjuang untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan baik, dan juga berjuang untuk bisa sampai ditempat- tempat tertentu di daerah tempat tinggal mereka yang jaringan internetnya cukup stabil.

Akan ada respon yang berbeda- beda dari tiap mahasiswa dalam mengatasi hal ini yang tentunya akan berpengaruh pada proses perkuliahan kedepannya.

Yang pertama, akan ada mahasiswa yang dengan sadar dan penuh ambisi, berjuang mengatasi keterbatasan tersebut, misalnya dengan rela menempuh jarak yang jauh sekalipun untuk bisa tetap megikuti perkuliahan.

Golongan mahasiswa ini yang kemudian akan terus maju sambil menunggu keadaan membaik. Namun, ada golongan lainnya yang cenderung apatis dan tidak mau berjuang.

Pada akhirnya, golongan ini akan kesusahan menyesuaikan diri dengan kecepatan mahasiswa lain yang akhirnya berdampak buruk bagi proses perkuliahan ke depannya.

Seburuk- buruknya masalah yang dihadapi, tentu ada jalan keluarnya. Semua tergantung bagaimana kita jeli melihat peluang yang ada dan mau berusaha.

Untuk itu, selama pembelajaran/perkuliahan daring diharapkan pengertian juga kerja sama serta kesepakatan diantara Dosen dan mahasiswa yang tentunya menguntungkan kedua belah pihak, sehingga segala kegiatan pembelajaran/perkuliahan daring dapat berjalan dengan baik dan optimal seperti sebelumnya sampai situasinya kembali normal.

Bencana Badai Seroja mengajarkan kita untuk selalu waspada terhadap bencana yang datang secara tiba-tiba, karena sejatinya kita tidak pernah tahu kapan bencana itu akan datang menghampiri kita dan seperti apa dampak yang diakibatkan olehnya.

Untuk itu, kedepannya kita tetap harus waspada dan selalu siaga terhadap bencana yang datang.

Identitas Penulis:

Nama: Angelina Merici Jeniut

Jurusan: Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP)

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Nusa Cendana (UNDANA) (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved