Opini Pos Kupang
Dampak Badai Seroja Terhadap Pembelajaran Online Mahasiswa
Badai Siklon Tropis Seroja yang baru-baru ini melanda sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di Provinsi NTT
POS-KUPANG.COM - Badai Siklon Tropis Seroja yang baru-baru ini melanda sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Provinsi NTT) pada tanggal 4 hingga 5 April 2021.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), Siklon Tropis merupakan badai dengan kekuatan besar. Radius rata- rata kekuatan siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km.
Siklon tropis terbentuk diatas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26,5 o C. Angin kencang yang berputar didekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/ jam.
Akibat badai ini, banyak kerugian dan kehilangan yang dialami masyarakat di daerah terdampak, mulai dari korban jiwa, kehilangan harta benda, rumah yang hancur serta terhambatnya berbagai aktivitas masyarakat.
Baca juga: Update Kode Redeem FF Hari Ini 5 Mei 2021, Segera Klaim Kode Redeem Free Fire Terbaru
Baca juga: Aktivitas Mudik Belum Nampak di Terminal Lolawa-Belu
Kepala Badan Nasional Penanggualangan Bencana (BNBP) Letnan Jenderal Doni Monardo mengatakan bahwa terdapat 11 daerah terdampak bencana badai siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Data BNBP pada 6 April 2021 mencatat sebanyak 86 orang meninggal dunia, 98 orang dinyatakan hilang, 146 orang menderita luka-luka dan sebanyak 2.683 orang terdampak bencana.
Pasca diterjang badai, terdapat begitu banyak sarana dan prasarana publik yang mengalami kerusakan.
Salah satunya adalah kerusakan infrastruktur listrik yang berujung pada pemadaman listrik dan ketidakstabilan jaringan internet. Berdasarkan laporan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 2.410 unit gardu listrik mengalami kerusakan akibat badai siklon tropis Seroja di wilayah NTT.
Baca juga: Bupati Sumba Timur Larang Kegiatan Bersama dan Halal Bihalal
Baca juga: LBH SIKAP Harap Sidang Tatap Muka Saksi Mahkota Kasus Watodiri, Bukan Virtual
Sebagai dampaknya, segala bentuk aktivitas masyarakat menjadi terhambat. Mulai dari sejumlah pekerjaan yang telah dilakukan seperti sedia kala di tempat kerja sampai pada pekerjaan yang masih dilakukan secara daring akibat pandemi Covid- 19.
Pelaksanaan aktivitas pembelajaran diberbagai jenjang pendidikanpun tak luput dari imbas badai seroja. Sejak awal merebaknya Covid-19 di Indonesia, pemerintah mengambil kebijakan untuk menjalankan proses pembelajaran dari rumah sebagai salah satu upaya pemutusan mata rantai penyebaran Virus Corona.
Pembelajaran online merupakan tantangan baru, baik bagi tenaga pendidik dan juga para peserta didik, khususnya didaerah terbelakangan seperti NTT. Dengan adanya pembelajaran online ini, tenaga pendidik dan peserta didik dituntut untuk menjadi lebih cerdas, bijak dan mandiri serta mampu beradaptasi dengan cepat.
Karena pembelajaran online dimasa pandemi ini, banyak mengikutsertakan dan mengandalkan kemampuan mengoperasikan teknologi- teknologi canggih, seperti handphone, laptop atau komputer yang sayangnya masih merupakan benda asing bagi masyarakat disejumlah daerah di NTT.
Terjadinya badai seroja seolah menjadi beban ganda bagi mahasiswa yang berada didaerah terdampak. Hal ini dikarenakan jaringan yang belum stabil akibat perbaikan infrastruktur yang tentunya memakan waktu.
Ketidakstabilan jaringan internet ini, salah satunya dapat kita lihat dari persentasi absensi mahasiswa yang rendah akibat kesulitan mengakses internet, suara yang terputusputus saat sedang presentasi online, sejumlah mahasiswa yang keluar- masuk ke dalam room meeting online, dan lain sebagainya.
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana, juga tak luput dari dampak yang diakibatkan oleh badai Seroja, terutama dalam mengikuti perkuliahan online.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dampak-badai-seroja-terhadap-pembelajaran-online-mahasiswa.jpg)