Breaking News:

Kartini dan Agama Kasih Sayang

Di negeri ini, banyak tokoh perempuan cerdas sarat komitmen kemanusiaan yang kreatif di tengah represi dominan kaum lelaki.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Kartini adalah salah satu tokoh nasional paling awal yang menggenapi sabda Soe Hok Gie bahwa orang yang mati muda itu berbahagia.

Saya berpikir bahwa orang yang mati muda itu bahagia karena meski dalam usia relatif muda mereka telah mencipta sejarah peradaban, sekurang-kurangnya dirinya sendiri, melalui berbagai karya sederhana, tidak terpandang, kontroversial, kadang tidak disadari tapi bermakna abadi karena tidak akan pernah dibatasi, apalagi dihentikan oleh kekuasaan waktu sekalipun.

Menurut Kitab Kebijaksanaan, bukan soal berapa lama manusia hidup di atas dunia ini, melainkan bagaimana dia hidup meski di usia yang relatif singkat. Orang yang melakukan hal-hal yang baik sesungguhnya memiliki usia yang panjang meski mati sebelum waktunya (Keb 4: 8-13).

Inspirasi mengabadi justru ketika sang muda yang mencipta sejarah itu telah tiada. Dia tetap hidup karena nila-nilai yang menyejarah dalam ingatan.

Dalam buku Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, 2008) Daniel Dhakidae menulis bahwa hidup manusia tidak dan tidak pernah menjadi suatu lukisan selesai hasil suatu sapuan kuas yang pasti dari ujung kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.

Hidup menjadi upaya menyapu kuas secara tidak pasti di sana sini, kadang-kadang sebercak cat jatuh di luar kemauan dan malah lebih sering sapuan yang direncanakan dan dibuat dengan pasti tidak menghasilkan kesan yang dimaksudkan.

Sejarah hidup Kartini sesungguhnya mekar di tengah realitas golongan elite Jawa yang bila dipandang dari luar tampak agung dan megah tapi saat membaca jejak kaki perempuan cantik Jepara ini kita tersadar bahwa yang indah, agung dan megah tidak selalu identik dengan kebebasan, otonomi, kemerdekaan, kebaikan dan kebenaran.

Yang megah dan agung penuh decak kagum terkadang menyembunyikan kebengisan, kebengalan dan penindasan kemerdekaan pribadi.

Kartini lahir dari pasangan beda kasta. Bapak Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, putra Pangeran Ario Tjondronegoro adalah keturunan ke-24 dari salah seorang raja Jawa. Ibu Ngasirah hanyalah gadis miskin mandor pabrik gula, Modirono.

Ayah Kartini adalah Asisten Wedana Onderdistrik Mayong lalu menjadi Bupati Jepara. Sementara sang ibu cuma seorang gadis kampung kalangan rakyat jelata yang menjadi salah satu selir ayah Kartini.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved