Kartini dan Agama Kasih Sayang
Di negeri ini, banyak tokoh perempuan cerdas sarat komitmen kemanusiaan yang kreatif di tengah represi dominan kaum lelaki.
Hidup menjadi upaya menyapu kuas secara tidak pasti di sana sini, kadang-kadang sebercak cat jatuh di luar kemauan dan malah lebih sering sapuan yang direncanakan dan dibuat dengan pasti tidak menghasilkan kesan yang dimaksudkan.
Sejarah hidup Kartini sesungguhnya mekar di tengah realitas golongan elite Jawa yang bila dipandang dari luar tampak agung dan megah tapi saat membaca jejak kaki perempuan cantik Jepara ini kita tersadar bahwa yang indah, agung dan megah tidak selalu identik dengan kebebasan, otonomi, kemerdekaan, kebaikan dan kebenaran.
Yang megah dan agung penuh decak kagum terkadang menyembunyikan kebengisan, kebengalan dan penindasan kemerdekaan pribadi.
Kartini lahir dari pasangan beda kasta. Bapak Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, putra Pangeran Ario Tjondronegoro adalah keturunan ke-24 dari salah seorang raja Jawa. Ibu Ngasirah hanyalah gadis miskin mandor pabrik gula, Modirono.
Ayah Kartini adalah Asisten Wedana Onderdistrik Mayong lalu menjadi Bupati Jepara. Sementara sang ibu cuma seorang gadis kampung kalangan rakyat jelata yang menjadi salah satu selir ayah Kartini.
Posisi sebagai kalangan ningrat menuntut seorang Kartini mengambil jarak dengan rakyat jelata. Padahal kita membaca, nurani seorang perempuan Kartini tertambat di jiwa kaum pinggiran yang direpresi struktur ningrat ini. Kartini yakin bahwa justru rakyat jelata inilah yang akan menghadirkan kenikmatan jiwa ketika jarak antara mereka hilang di ruang sosial.
Kartini menjalani ruas-ruas waktu hidupnya dalam rumah pingitan tapi imajinasi, pikiran dan obsesi kemanusiaan tidak pernah padam. Kita menduga, Kartini adalah sosok pencinta literasi khususnya membaca karena pada zaman itu kebiasaan membaca masih menjadi kemewahan bagi rakyat kebanyakan dan hanya menjadi konsumsi golongan elite.
Berbekal status bangsawan, Kartini beruntung mendapatkan privilese menempuh pendidikan di Europese Lagere School (ELS). Abendanon mengantar Kartini berselancar ke Eropa melalui buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru kemajuan berpikir perempuan Eropa.
Bahkan di usianya ke-20, Kartini membaca buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt. Kartini juga membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang diasuh Pieter Brooshoof.
Pergulatan Kartini yang diperkaya pengetahuan perjuangan perempuan Eropa sekaligus kritik atas realitas yang dijalaninya itu tertuang dalam buku Door Duisternis tot Licht yang diterbitkan Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, J.H. Abendanon tahun 1911.
Armijn Pane, sastrawan Indonesia menerjemahkan buku sejarah profetik ini dalam bahasa Melayu dengan judul “Habis Gelap, Terbitlah Terang”.
Buku ini secara gamblang menegaskan komitmen dan keuletan Kartini mengangkat harga diri kaum kecil dan jelata khususnya perempuan ke ruang publik. Ia membuka mata hati kita agar lebih kritis dan peka membaca ruang hidup di kalangan elite. Kulit luar yang indah menawan kadang hanya pembungkus fakta kebusukan yang bau tengiknya mampu menggergaji lubang hidung.
Kartini berani sebagai seorang perempuan zaman itu yang melawan berbagai cara pandang yang menyudutkan posisi perempuan seraya menegaskan bahwa kebenaran mesti berlaku universal. Laki-laki dan perempuan sama-sama semartabat.
Merendahkan yang satu identik dengan menghilangkan yang lain. Yang tersisa adalah ruang publik hampa. Manusia lalu lalang tanpa makna. Tidak lebih dari pribadi bayangan yang digerakkan sebuah kekuatan dahsyat di luar kesadarannya.
Melalui surat-surat yang ia tulis dengan teratur, kita membaca kedalaman pikiran, ketajaman intuisi dan kepekaan nurani keperempuanannya. Kata-kata yang ia tulis mengalir dari rahim hati yang berdaya merahimi jiwa pembaca agar tidak menerima begitu saja kenyataan represif, betapa pun itu asalnya dari orang-orang yang membuatnya ada di dalam rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)