Breaking News

Kartini dan Agama Kasih Sayang

Di negeri ini, banyak tokoh perempuan cerdas sarat komitmen kemanusiaan yang kreatif di tengah represi dominan kaum lelaki.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Kartini dan Agama Kasih Sayang

Oleh Steph Tupeng Witin

Penulis Buku Kumpulan Cerpen “Bukit Congkak” (Nusa Indah, 2014)

POS-KUPANG.COM - Tokoh-tokoh kharismatik perempuan selalu menginspirasi peradaban dunia dengan hatinya. Pikiran dan perasaan bermuara pada tindakan konkret di tengah realitas sosial merupakan narasi kasih yang mengalir dari hati.

Kita membaca hal itu dalam buku hidup Muder Theresa dari Kalkuta yang mengubah seorang manusia yang sepanjang hidupnya adalah “binatang jalanan” menjadi malaikat saat tarikan nafas terakhir.

Keterlibatan perempuan di tengah realitas jalanan yang membusukkan martabat manusia pada titik tertentu merupakan gugatan kenabian terhadap dominasi laki-laki dalam stratifikasi sosial.

Di negeri ini, banyak tokoh perempuan cerdas sarat komitmen kemanusiaan yang kreatif di tengah represi dominan kaum lelaki. Perempuan menjadi simbol realitas terbatas yang tidak pernah mengungkung kemerdekaan jiwanya.

Mereka - mungkin karena cahaya hati - mampu melihat secercah cahaya dari lubang mata angin kecil yang menggerakkan komitmennya menghadirkan cahaya berenergi matahari untuk menerangi kebutaan nurani kaum dominan.

Kiprah kaum perempuan ini seperti lilin: berani membakar dirinya sendiri agar menghadirkan cahaya: bakat, potensi untuk menghalau kegelapan peradaban.

Kita menangkap cahaya keberanian itu dalam diri Raden Ajeng Kartini yang lahir pada 21 April 1879 di Kabupaten Jepara dan meninggal dunia 25 tahun kemudian pada 17 September 1904 di Rembang.

Kartini adalah salah satu tokoh nasional paling awal yang menggenapi sabda Soe Hok Gie bahwa orang yang mati muda itu berbahagia.

Saya berpikir bahwa orang yang mati muda itu bahagia karena meski dalam usia relatif muda mereka telah mencipta sejarah peradaban, sekurang-kurangnya dirinya sendiri, melalui berbagai karya sederhana, tidak terpandang, kontroversial, kadang tidak disadari tapi bermakna abadi karena tidak akan pernah dibatasi, apalagi dihentikan oleh kekuasaan waktu sekalipun.

Menurut Kitab Kebijaksanaan, bukan soal berapa lama manusia hidup di atas dunia ini, melainkan bagaimana dia hidup meski di usia yang relatif singkat. Orang yang melakukan hal-hal yang baik sesungguhnya memiliki usia yang panjang meski mati sebelum waktunya (Keb 4: 8-13).

Inspirasi mengabadi justru ketika sang muda yang mencipta sejarah itu telah tiada. Dia tetap hidup karena nila-nilai yang menyejarah dalam ingatan.

Dalam buku Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, 2008) Daniel Dhakidae menulis bahwa hidup manusia tidak dan tidak pernah menjadi suatu lukisan selesai hasil suatu sapuan kuas yang pasti dari ujung kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved