Kartini dan Agama Kasih Sayang
Di negeri ini, banyak tokoh perempuan cerdas sarat komitmen kemanusiaan yang kreatif di tengah represi dominan kaum lelaki.
Terkadang, mata tertumbuk pada lelaki dan perempuan uzur yang duduk dengan tatapan kosong. Saya berpikir, hal paling sulit adalah mengembalikan masa depan yang sudah hilang karena semua yang dimiliki, hasil keringat bertahun-tahun sudah hilang, termasuk keluarga.
Pater Martin Bhisu SVD, misionaris Paraguay berbagi pengalaman bersama Pater Eman Yoseph Embu SVD di Tanjung Bunga saat gempa dan tsunami tahun 1992 yang merenggut ribuan korban. Kumpulkan mayat dan kuburkan itu mudah ketimbang mengembalikan masa depan mereka yang telah terkubur. Bantuan kemanusiaan bisa melimpah ruah. Berdatangan dari seluruh bumi dan langit, infrastruktur bisa jadi lebih baik tapi masa depan seolah tenggelam.
Apa yang mesti kita lakukan di tengah fakta bahwa wilayah Provinsi NTT khususnya Flores dan Lambata adalah ladang bencana alam yang bisa terjadi kapan saja?
Pertama, setiap pemerintah kabupaten mesti sadar bahwa daerah kita adalah jalur bencana. Kebijakan politik dan birokrasi mesti ramah bencana. Pembangunan infrastruktur mesti baik agar memudahkan evakuasi warga saat bencana. Alam memiliki energi yang mampu melumpuhkan apa pun. Tapi kecerdasan politik-birokrasi mestinya bisa meminimalisasi kalau tidak (mungkin) mencegah.
Manajemen penanganan korban mesti dibenahi. Pemerintah mesti terus belajar membangun jejaring dengan banyak komponen yang peduli untuk mencari solusi jangka panjang. Kita tidak boleh berhenti pada solusi instan tanggap cepat saja. Dalam situasi bencana, kebijakan “satu pintu” penyaluran bantuan mesti didiskusikan bersama kalau tidak hendak dihentikan.
Ada banyak elemen dan lembaga peduli yang berniat tulus membantu. Mereka ingin bersentuhan langsung dengan para korban. Kebijakan “satu pintu” hanya menumpuk bantuan yang mesti segera dinikmati pengungsi. Apalagi prosedur distribusi sangat birokratis dan berbelit. Pemerintah mesti berperan sebagai koordinator bagi semua elemen yang bersinergi menangani korban bencana.
Kedua, saatnya masalah kemanusiaan jadi prioritas pengabdian. Hidup bermakna saat kita hadir dalam penderitaan sesama. Jujur, tentunya. Jauh dari meromantisasi derita korban untuk mengais untung dalam berbagai aspek dan tidak mencari panggung di tengah bencana, hadir sekadar “turba” dengan rombongan mirip kunjungan kerja elite parpol, memakai seragam persis klub sepakbola ala kampung dan tidak “menukik.”
Saatnya kita mengurangi sabda suci atas nama Tuhan yang sangat manusiawi. Keilahian terletak di situ karena sangat manusiawi. Semakin manusiawi kita, semakin kita ilahi. Kita tidak sekadar hadir untuk pamer eksistensi tapi belajar bagaimana orang-orang kecil ini bertahan dalam penderitaan. Kalau mereka yang sederhana saja bisa tahan banting, kenapa kita tidak bisa?
Sekarang rakyat butuh kita tinggal bersama di tenda-tenda, gubuk-gubuk, pondok-pondok di tengah kebun dan tidak sekadar berkoar di altar berlapis marmer yang harganya bisa membangun kembali sekolah yang hancur di lokasi bencana.
Bersama Kartini, kita jadikan Kasih Sayang sebagai agama di tengah realitas bencana. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)