Kartini dan Agama Kasih Sayang
Di negeri ini, banyak tokoh perempuan cerdas sarat komitmen kemanusiaan yang kreatif di tengah represi dominan kaum lelaki.
Buku ini menegaskan kenyataan menakjubkan bahwa rumah elite, infrastruktur mewah dan kekayaan melimpah terkadang hanya tembok kapas yang bisa dirubuhkan melalui aliran pikiran yang tersalur melalui kekuatan pena menjadi keabadian.
Pena adalah titian bagi Kartini untuk menyatakan solidaritas kemanusiaannya kepada sesama perempuan yang direpresi oleh dominasi kaum lelaki dan bagi kaum lelaki yang terepresi oleh keangkuhan pikirannya sendiri dalam tempurung keterbatasan agar membuka mata melihat secercah cahaya yang menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela yang kotor dan berdebu.
Agama Kasih Sayang
Kartini pernah menulis sepucuk surat kepada Nyonya Abendanon pada 14 Desember 1902. Goresan penanya ini mengagumkan dan jauh melintasi peredaran zaman dan melampaui guliran waktu. Ia menulis, “Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci adalah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seseorang itu mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.”
Kita terperangah, dalam usia relatif amat muda, seorang perempuan dari area pingitan menorehkan gagasan segar yang brilian. Kartini sesungguhnya menggugat kekristenan Nyonya Abendanon yang boleh saja sangat diagungkan (mungkin) sebagai agama yang paling benar dan baik.
Pada masa itu dominasi segala yang berbau Eropa sangat kuat dan menonjol. Di luar Eropa seolah kafir, miskin, kotor dan terpinggirkan sehingga pantas direpresi dan diintervensi melalui pikiran dan senjata (kekerasan).
Fakta ini terbaca ketika agama-agama berpenetrasi ke dalam negeri ini. Menurut kisah dari beberapa benteng Portugis yang kini tinggal puing, ada sebuah ruang khusus yang diseraki peralatan rohani. Fakta ini bisa menjadi bukti - meski butuh riset lebih dalam - bahwa penyebar agama datang bersama imperialisme.
Semua agama mengajarkan bahwa kasih sayang adalah keutamaan. Ajaran ini melampaui sekat primordial atas nama agama, suku, ras dan antargolongan. Ia menjadi seperti zat perekat yang mengutuhkan relasi sosial. Ia menjadi kohesi sosial yang memutus jejaring kecurigaan dan kejahatan berbasis agama. Bahkan orang kafir pun menghidupi kasih sayang ini dalam seluruh karya.
Hal ini menjadi gugatan bagi orang-orang beragama yang identik dengan pandangan stereotip: dekat dengan Tuhan karena berdoa secara teratur sesuai patokan buku-buku tua, dengan kata-kata dan kalimat yang sama selama berabad-abad, bertampang saleh di balik balutan pakaian rohani dan sering menjadi rujukan masuk surga serta rajin berkhotbah di mimbar dengan meyakinkan seolah baru turun dari surga sambil mengantar jemaat memasuki gerbang alam mimpi.
Padahal semua atribut rohani ini hanya tameng untuk rasa aman, nyaman dan elitis di rumah-rumah sakral. Mereka tinggal di rumah-rumah mewah di tengah hamparan pondok dan gubuk reyot umat yang setia mendengarkan khotbahnya.
Kalaupun terlibat, yang lebih dominan adalah foto bersama korban, selfie tanpa henti dan video yang diproduksi masif untuk meromantisasi penderitaan para korban melalui sebaran yang lebih masif di ruang media sosial.
Konteks Bencana Lembata
Penulis memiliki ruang istimewa berjalan bersama Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace and Integrity of Creation/JPIC) Ordo Fratrum Minorum (OFM) dan Caritas Titen Lembata (CTL) dalam membantu pengungsi bencana erupsi dan banjir bandang Ile Lewotolok Lembata.
Kita berjumpa dengan orang-orang sederhana di pondok di tengah ladang hamparan Tanjung Ile Ape. Ada yang kehilangan rumah, sanak keluarga dan segala yang dimiliki melalui perjuangan selama bertahun-tahun.
Rasanya mudah hadir memberi bantuan. Pengungsi menerima dengan senyum. Mereka bahagia karena ada sesamanya yang merelakan waktu di tengah kesibukan untuk hadir dan berbagi apa yang dimiliki sekadar meringankan beban derita. Tapi apakah hati mereka tenang dan bahagia?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)