Breaking News:

Opini Pos Kupang

Chairil Anwar dan Jumat Agung

Pertanyaan pasti muncul mendahului penelusuran opini ini kalimat demi kalimat. Apa hubungan Chairil Anwar dengan Jumat Agung

Editor: Kanis Jehola
Chairil Anwar dan Jumat Agung
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh: Videntus Atawolo, Staf Pengajar SKO

POS-KUPANG.COM - Pertanyaan pasti muncul mendahului penelusuran opini ini kalimat demi kalimat. Apa hubungan Chairil Anwar dengan Jumat Agung. Secara kasat mata, tidak ada hubungan. Terus terang saja, karena ia bukan seorang umat Kristiani. Namun bukan imannya yang diangkat dalam tulisan ini, melainkan ke-seniman-an dan ke-penyair-annya.

Dalam kumpulan puisinya, "Deru Cambur Debu", terdapat sebuah puisi dengan judul: Isa. Untuk Nasrani Sejati.

Isa adalah predikasi untuk menyebut nama Yesus sebagai nabi (seturut perspektif si penyair). Nasrani sejati adalah umat Kristiani. Diksi "sejati" mengandung makna harapan semoga umat Kristiani menghargai dan menjunjung tinggi dalam imannya akan pengorbanan berdarah-darah dari Isa untuk keselamatan mereka.

Di sini pula letak koneksitas antara puisi Isa dengan Jumat Agung. Karena Ibadat Agung pada Jumat Agung secara liturgis dilaksanakan untuk mengenang kematian perdana Yesus di salib.

Baca juga: Opini Pos Kupang, 7 Oktober 2019, NTT Terancam ASF, Penyakit Mematikan pada Babi

Baca juga: Opini Pos Kupang 22 Juli 2019, Pendidikan di NTT dan Revolusi Industri 4.0

Chairil Anwar adalah seorang seniman sastra. Penyair. Bergelut dengan dunia seni. Mati hidup dengan seni. Seni itu memiliki dimensi yang universal. Seniman dapat menangkap cela seni dan keindahan pada alam, pada setiap subyek, obyek, kondisi dan peristiwa. Seni itu levelnya di atas craft (ketrampilan unggul) dengan kualitas bermutu tinggi.

Sementara Thomas Aquinas mendefenisikan keindahan sebagai, "Sesuatu yang bila dilihat, menyenangkan" (Pulchrum est id quot visum placet). Mengapa keindahan itu bila dilihat, menyenangkan, karena ada kebaikan di dalamnya. Ada kebenaran di dalamnya. Ada keutuhan di dalamnya.

Dalam metafisika kita belajar bahwa: Ens est unum, verum, bonum, pulchrum. Pada setiap ada terdapat keutuhan, kebenaran, kebaikan dan karena itu ada keindahan. Jadi dalam setiap sesuatu yag indah, terdapat keutuhan dan dalam keutuhan itu terdapat hal-hal baik, hal-hal benar, hal-hal indah.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa penyair Chairil Anwar dengan mata batin ke-penyair-annya mengolah Isa (sejauh yang ia kenal dan ia pahami serta lingkungan hidup yang membentuknya) dengan kekuatan rasa, cipta dan karsa serta kesadarannya; menjadi sebuah puisi yang indah bermutu tinggi.

Baca juga: Opini Pos Kupang 14 Mei 2019 : People Power atau Pester Power

Baca juga: Opini Pos Kupang:Ekspresi Budaya Kesabaran Dalam Menanti Hasil Pemilu 2019

Dalam mengandung mutu tinggi itulah, puisi itu bermakna bagi siapa pun yang memiliki seting yang memadai untuk memahaminya.

Puisi itu menggambarkan perasaan penyair terhadap sosok Isa di salib. Diksi yang dipergunakan penyair sangat konkrit, sederhana, lugas, polos, tegas, membangkitkan rasa haru. Diksi dari kata bahasa Latin dicere, mengatakan, berkata. Diktum apa yang dikatakan. Diktat kumpulan kata, pikiran, gagasan. Diksi berarti kata bernas.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved