Opini Pos Kupang
Korupsi, Borok Birokrasi dan Ketidakcakapan Pemimpin
Buruknya kinerja dan tata kelola birokrasi di Nusa Tenggara Timur ( NTT) sejauh ini masih menjadi penyakit kronis yang meresahkan
Ini adalah sebuah angka yang besar untuk mengeluarkan rakyat dari persoalan kemiskinan kalau saja birokrasi di NTT sehat dan cerdas pemimpinya.
Ketidakcakapan Pemimpin
Ketika seorang pemimpin melabelkan kata bodoh, sebuah kata sifat kepada masyarakatnya, saat itu juga ia sedang "memercik air di dulang, terpercik muka sendiri". Dalam demokrasi yang kebablasan, maka masyarakat yang bodoh akan melahirkan pemimpin yang bodoh.
Ketidakcakapan seorang pemimpin jelas terbukti ketika tidak mampu mewujudkan janji-janji politiknya, menyukseskan program-programnya, dan cenderung mengeluarkan pernyataan kontroversial.
Good governance melalui transparansi dan akuntabultas publik belum terwujud. Visi dan misi, program dan agenda kerja serta besaran nilai anggaran masih sangat tertutup di mata masyarakat.
Sebagi contoh, program kelor sampai saat ini terjerembab dalam ketidakpastian. Berapa anggaran yang pernah dialokasikan untuk program kelor, sejauh mana implementasinya, dan bagaimana pencapaiannya, itu hanyalah rahasia birokrasi.
Soal pembangunan manusia melalui janji pengiriman 2000 anak per tahun ke luar negeri untuk kegiatan studi dan penguasaan tekhnologi, sampai saat ini tidak jelas sejauh mana pelaksanaannya.
Berikut tentang janji mensejajarkan NTT dengan negara-negara lain, bukan dengan provinsi lain, bagai pungguk merindukan bulan.
Dalam konteks ini, ukuran ketidakcakapan pemimpin tidak dilihat dari seberapa tinggi jenjang pendidikan atau tentang seberapa luas pengalaman politiknya.
Ketidakcakapan pemimpin jelas terukur melalui ketidaktahuan atau ketidakmampuan dalam mendesain pembangunan daerah.
Tentang kebodohan manusia, Thomas Chamberlin seorang ilmuwan dan ahli geologi (1843-1928) pernah menulis tentang kepalsuan dalam intelektual. Ia menyebut, "Falsity in intellectual action is intellectual immorality", yang artinya, kepalsuan dalam tindakan intelektual adalah imoralitas intelektual.
Tulisan ini dijadikan pedoman yang menginspirasi banyak pemimpin dan generasi muda pada jamannya.
Chamberlin hendak menegaskan bahwa, seseorang yang hanya untuk tujuan dan kepentingan tertentu lalu mempertaruhkan rasionalitas akal sehat intelektual dengan sengaja mengambil sikap tidak cakap merupakan pengingkaran terhadap moralitas intelektual.
Memiliki pemimpin yang tidak cakap adalah kerugian rakyat, tetapi, sangat berbahaya jika memiliki pemimpin yang pura-pura bodoh, sehingga membiarkan rakyatnya tetap menghadapi penderitaan, sementara aset sumber daya alam dan otoritas kewenangan justru digunakan untuk mengakumulasi kekayaan pribadi. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)