Sekola Gembira: Pendidikan Alternatif Bagi Anak Pesisir Lewoleba-Lembata
Sekola Gembira kini menjadi satu-satunya pendidikan alternatif bagi anak-anak pesisir Lewoleba
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
Saat ini program kelas Bahasa Inggris rutin dilakukan setiap Kamis dan Minggu di pesisir Wangatoa, Lewoleba.
Kepala Sekola Gembira saat ini Mardoatillah berujar kebanyakan peserta didik mereka memang adalah anak-anak pesisir Lewoleba dengan usia yang bervariasi. Ada anak yang baru mau beranjak sekolah, ada yang putus sekolah, anak SD dan SMP.
"Nampak sekali anak anak gembira. Apalagi anak SD itu tidak butuh yang monoton. Jadi kita bawa mereka belajar sambil bermain," ungkap Mardoatillah yang juga masih menuntut ilmu di Universitas Terbuka.
Dia sadar pendidikan yang monoton dan membosankan menyebabkan anak-anak tidak semangat belajar, apalagi menyerap materi pelajaran.
Sekola Gembira selalu memastikan kalau anak-anak belajar dengan rasa gembira. Maka, di Sekola Gembira anak-anak belajar sambil bermain, bermain sambil belajar.
Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, Kelas Kebangsaan juga sudah pernah menggelar Film Soedirman. Sedangkan, Kelas Lingkungan menggelar nonton film The Bajau dan terlibat dengan komunitas muda lainnya melaksanakan Festival Sampah untuk menumbuhkan rasa cinta lingkungan dalam diri anak-anak.
Selain bergerak dalam dunia pendidikan, para relawan Sekola Gembira juga banyak terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan.
Selain donasi, mereka membantu para petani terdampak erupsi Gunung Ile Lewotolok di Ile Ape sekaligus belajar bertani dari para petani.
"Kami sudah refleksikan kembali perjalanan Sekola Gembira setahun ini dan kami punya komitmen untuk tetap eksis," kata Mardoatillah. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)