Sekola Gembira: Pendidikan Alternatif Bagi Anak Pesisir Lewoleba-Lembata
Sekola Gembira kini menjadi satu-satunya pendidikan alternatif bagi anak-anak pesisir Lewoleba
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA-Sekola Gembira kini menjadi satu-satunya pendidikan alternatif bagi anak-anak pesisir Lewoleba. Kendati baru berusia setahun, Sekola Gembira berhasil menyajikan pendidikan yang berbeda bagi anak-anak pesisir. Kegembiraan, nilai yang anak-anak tidak temukan di sekolah formal, jadi aspek yang paling ditekankan.
Adalah Muhammad Aras, Abdul Gafur Sarabiti, Musalman Alfarisi, dan Idris yang pertama kali mendirikan Sekola Gembira pada 17 Februari 2020 atau tepat setahun yang lalu.
Keempat pemuda pesisir ini baru saja menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi di luar NTT dan belum punya pekerjaan tetap di Lewoleba yang banyak menyita waktu.
• Anggota Brimob Polda NTT BKO Polda Papua Bangga & Haru Diberi Penghormatan khusus Kapolda NTT
Mereka ternyata merasakan keresahan yang sama tentang pendidikan di sekolah-sekolah formal seraya prihatin dengan masa depan anak-anak pesisir di Kota Lewoleba.
"Sekolah selama ini tidak memberikan kegembiraan kepada anak-anak dan itu kami alami juga dari dulu," kenang Abdul Gafur Sarabiti ketika ditemui di sela-sela acara Dies Natalis pertama di Pantai SGB Bungsu Lewoleba, Rabu (17/2/2021).
• Gugatan Paslon SBS-WT Lolos ke Sidang Pokok Perkara di MK
Gembira atau tidaknya seorang anak di sekolah itu kelihatan jelas saat lonceng berdering, tanda jam istirahat atau jam pulang di sekolah.
Anak-anak selalu menantikan bunyi lonceng tanda waktu istirahat atau pulang sekolah. Saat lonceng berdering, anak-anak akan bersorak gembira, seolah hal itu tidak mereka dapatkan selama berada di dalam kelas.
"Itu artinya anak-anak bosan ada di kelas, suasana pelajaran yang monoton dan mereka tidak gembira. Itu juga yang kami alami selama sekolah dulu," katanya.
Gafur dan para kameradnya pun menggagas pendidikan alternatif yang memberikan kegembiraan saat belajar. Mereka menamakannya Sekola Gembira yang berbeda dengan sekolah formal.
"Makanya namanya Sekola tanpa huruf akhir H, berbeda dengan sekolah yang ada huruf akhir H. Jadi kami mau tunjukkan kalau sekola kami berbeda dengan sekolah," papar Muhammad Aras yang juga adalah aktor utama dalam Film 'Suku Bajo' yang akan rilis pada Maret mendatang.
Idris menjabat sebagai Kepala Sekola Gembira pertama. Mereka membagi tugas ke dalam beberapa kelas. Ada kelas Bahasa Inggris, Kelas Teknologi dan Informasi, Kelas Lingkungan, Kelas Agama.
Sementara Kelas Kebudayaan baru ditambahkan pada tahun 2021.
Kata Muhammad Aras, model pendidikan yang mereka usung membawa spirit pendidikan tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara yakni 'semua orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah'.
Sekola Gembira tak punya ruang kelas atau gedung sekolah dalam arti sesungguhnya. Anak-anak belajar dan bermain di pesisir pantai dan di mana saja.
"Prinsipnya anak-anak belajar dan bermain dengan gembira," tegas Aras.
Saat ini program kelas Bahasa Inggris rutin dilakukan setiap Kamis dan Minggu di pesisir Wangatoa, Lewoleba.
Kepala Sekola Gembira saat ini Mardoatillah berujar kebanyakan peserta didik mereka memang adalah anak-anak pesisir Lewoleba dengan usia yang bervariasi. Ada anak yang baru mau beranjak sekolah, ada yang putus sekolah, anak SD dan SMP.
"Nampak sekali anak anak gembira. Apalagi anak SD itu tidak butuh yang monoton. Jadi kita bawa mereka belajar sambil bermain," ungkap Mardoatillah yang juga masih menuntut ilmu di Universitas Terbuka.
Dia sadar pendidikan yang monoton dan membosankan menyebabkan anak-anak tidak semangat belajar, apalagi menyerap materi pelajaran.
Sekola Gembira selalu memastikan kalau anak-anak belajar dengan rasa gembira. Maka, di Sekola Gembira anak-anak belajar sambil bermain, bermain sambil belajar.
Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, Kelas Kebangsaan juga sudah pernah menggelar Film Soedirman. Sedangkan, Kelas Lingkungan menggelar nonton film The Bajau dan terlibat dengan komunitas muda lainnya melaksanakan Festival Sampah untuk menumbuhkan rasa cinta lingkungan dalam diri anak-anak.
Selain bergerak dalam dunia pendidikan, para relawan Sekola Gembira juga banyak terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan.
Selain donasi, mereka membantu para petani terdampak erupsi Gunung Ile Lewotolok di Ile Ape sekaligus belajar bertani dari para petani.
"Kami sudah refleksikan kembali perjalanan Sekola Gembira setahun ini dan kami punya komitmen untuk tetap eksis," kata Mardoatillah. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)