Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Membangun Harapan, Menyuarakan Optimisme; Catatan Pekerja Media dari Pinggiran Indonesia

Berbagai tantangan ini membuat banyak media gulung tikar dan media yang masih bertahan terpaksa mengurangi karyawan.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Ada harapan bahwa sesuatu akan berjalan menuju ke arah kebaikan. Maka esensi sikap optimis adalah bukan untuk mengubah kenyataan yang sudah terjadi, tetapi mengubah yang belum terjadi melalui keinginan batin untuk merencanakan aksi agar mencapai hasil yang lebih bagus.

Penulis berpikir bahwa tanggung jawab profetis media massa yangmendesak, urgen dan signifikan saat ini adalah membangun kecerdasan publik agar tetap optimis melewati tantangan pandemi dan menyuarakan gerakan global vaksinasi.

Profetisme ini sejalan dengan keutamaan media massa yang akan tetap menjadi acuan karena tidak terdapat dalam platform media digital global yaitu menghadirkan informasi berdasarkan data dan fakta yang dapat dikonversi menjadi pengetahuan.

Informasi yang konsisten tentang pandemi dan vaksinasi akan mengubah cara pandang dan membangun kesadaran rakyat agar membangun harapannya sendiri melalui tindakan-tindakan mandiri dan mendorong perubahan perilaku setiap individu agar bersedia divaksinasi sebagai partisipasi dalam ekosistem kerja bersama seluruh anak bangsa.

Tanggung jawab media massa untuk menghadirkan fakta dan data di masa pandemi dengan sosok jurnalis - mengutip kata-kata Jacob Oetama dalam Cikar Bobrok (1997), “..Yang senang bekerja, bahkan bekerja keras, gemar turun ke lapangan, bertemu, bergaul, dan bercampur dengan realitas kehidupan sehingga mengangkat kejadian dan persoalan rakyat kecil ke atas panggung reportase yang mendalam dalam sosoknya yang nyata, hidup, berdenyut, berdesak, berkeringat, berairmata, bersenyum dan berpengharapan” memang sangat berisiko.

Banyak jurnalis yang akhirnya tertular. Mereka benar-benar melupakan diri. Walau terluka, mereka tetap setia berbagi informasi dan menyuarakan optimisme untuk kemaslahatan publik. Meminjam judul buku penulis rohani Henri J.M. Nouwen (1989), para pekerja media massa di masa pandemi ini adalah manusia “Yang terluka yang menyembuhkan.”

Mari kita berpartisipasi, menyumbang peran perubahan melalui tindakan: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas serta menyerahkan diri untuk divaksin agar mengembalikan masa sulit ini ke masa depan yang normal.

Menjalankan protokol kesehatan dengan menerapkan 5M dan mengikuti vaksinasi merupakan jalan rasional yang menerbitkan harapan. Kita doakan para pekerja media agar tetap sehat dan selalu dilindungi Tuhan dalam kerja besar bangsa: membangun harapan dan terus menyuarakan optimisme. *

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved