Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Membangun Harapan, Menyuarakan Optimisme; Catatan Pekerja Media dari Pinggiran Indonesia

Berbagai tantangan ini membuat banyak media gulung tikar dan media yang masih bertahan terpaksa mengurangi karyawan.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Membangun Harapan, Menyuarakan Optimisme

(Catatan Pekerja Media dari Pinggiran Indonesia)

Oleh Steph Tupeng Witin

Penulis, Jurnalis, Perintis Oring Literasi Lembata

POS-KUPANG.COM - Judul tulisan sederhana ini penulis pinjam dari kata-kata Presiden Jokowi saat memotivasi para pekerja media di hari pers nasional beberapa waktu lalu. Suara dari Istana Negara ini bagai air segar yang menyirami jiwa para pekerja media yang dikurung berbagai tantangan di abad milenial ini.

Pandemi covid-19 menjadi kulminasi dari berbagai tantangan yang dihadapi media selain disrupsi digital yang menciptakan ekosistem media yang tidak seimbang, persaingan tidak sehat antara platform digital global dan media arus utama, eksistensi media sosial yang merebut perhatian pembaca media massa (tradisional) dan sebagainya.

Berbagai tantangan ini membuat banyak media gulung tikar dan media yang masih bertahan terpaksa mengurangi karyawan.

Presiden Jokowi mengajak segenap pekerja media melihat cahaya di ujung terowongan gelap pandemi dan sederet tantangan global media ini.

Cahaya di ujung terowongan gelap itu adalah harapan bahwa media arus utama tetap dipercaya menjadi referensi kebenaran informasi publik. Di tengah desakan bagi media untuk terus bertransformasi diri, Presiden Jokowi dan publik kritis tidak kehilangan harapannya bahwa media arus utama tetap menjadi basis pencerdasan kesadaran.

Harapan itu diperkuat oleh jajak pendapat Litbang Kompas pada 2-4 Februari 2021 yang menegaskan bahwa media arus utama masih menjadi acuan (Kompas 08/02/2021). Fakta rasional ini, sekali lagi, membangun harapan pekerja media agar berbenah diri dan membangun sinergi lintas batas dalam kolaborasi kreatif untuk menjaga kepercayaan publik demi membangun harapan.

Mungkinkah ada keajaiban yang melahirkan rasa getar di hati pekerja media yang tengah dikurung pandemi ini? Karl Gustav Jung dalam karyanya Modern Man in Search of Soul menulis dengan sangat indah, “The least of things with a meaning is worth more in life than greatest of thing without it.”  Di balik fragmen-fragmen kecil kisah pergulatan hidup, selalu hadir keajaiban, terkadang sangat kecil, kita seolah tak mampu menangkapnya, mungkin tidak banyak, tetapi jika ada secercah, itu sudah sangat cukup.

Menurut Ignas Kleden, masa (pandemi) sekarang bukanlah kampung halaman yang sesungguhnya karena setiap orang diharuskan untuk melakukan exodus kembali, ke luar untuk mencari tempat di suatu masa depan (tanpa pandemi).

Kekuatan utama adalah harapan yang akan membuat manusia jatuh cinta pada keberhasilan, aktif menggerakkan energi menuju perubahan dan menginsafkan manusia agar tidak merasa cukup dengan apa yang diketahuinya (Jacob Oetama: 2001).  

Suarakan Optimisme

Harapan yang dibangun di tengah tantangan pandemi mendorong media massa agar tetap setia menyuarakan optimisme. Menurut Segestrom (1998), optimisme adalah cara berpikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah. Berpikir positif berarti berusaha mencapai hal terbaik di masa depan dari keadaan terburuk saat (pandemi) ini.

Ada harapan bahwa sesuatu akan berjalan menuju ke arah kebaikan. Maka esensi sikap optimis adalah bukan untuk mengubah kenyataan yang sudah terjadi, tetapi mengubah yang belum terjadi melalui keinginan batin untuk merencanakan aksi agar mencapai hasil yang lebih bagus.

Penulis berpikir bahwa tanggung jawab profetis media massa yangmendesak, urgen dan signifikan saat ini adalah membangun kecerdasan publik agar tetap optimis melewati tantangan pandemi dan menyuarakan gerakan global vaksinasi.

Profetisme ini sejalan dengan keutamaan media massa yang akan tetap menjadi acuan karena tidak terdapat dalam platform media digital global yaitu menghadirkan informasi berdasarkan data dan fakta yang dapat dikonversi menjadi pengetahuan.

Informasi yang konsisten tentang pandemi dan vaksinasi akan mengubah cara pandang dan membangun kesadaran rakyat agar membangun harapannya sendiri melalui tindakan-tindakan mandiri dan mendorong perubahan perilaku setiap individu agar bersedia divaksinasi sebagai partisipasi dalam ekosistem kerja bersama seluruh anak bangsa.

Tanggung jawab media massa untuk menghadirkan fakta dan data di masa pandemi dengan sosok jurnalis - mengutip kata-kata Jacob Oetama dalam Cikar Bobrok (1997), “..Yang senang bekerja, bahkan bekerja keras, gemar turun ke lapangan, bertemu, bergaul, dan bercampur dengan realitas kehidupan sehingga mengangkat kejadian dan persoalan rakyat kecil ke atas panggung reportase yang mendalam dalam sosoknya yang nyata, hidup, berdenyut, berdesak, berkeringat, berairmata, bersenyum dan berpengharapan” memang sangat berisiko.

Banyak jurnalis yang akhirnya tertular. Mereka benar-benar melupakan diri. Walau terluka, mereka tetap setia berbagi informasi dan menyuarakan optimisme untuk kemaslahatan publik. Meminjam judul buku penulis rohani Henri J.M. Nouwen (1989), para pekerja media massa di masa pandemi ini adalah manusia “Yang terluka yang menyembuhkan.”

Mari kita berpartisipasi, menyumbang peran perubahan melalui tindakan: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas serta menyerahkan diri untuk divaksin agar mengembalikan masa sulit ini ke masa depan yang normal.

Menjalankan protokol kesehatan dengan menerapkan 5M dan mengikuti vaksinasi merupakan jalan rasional yang menerbitkan harapan. Kita doakan para pekerja media agar tetap sehat dan selalu dilindungi Tuhan dalam kerja besar bangsa: membangun harapan dan terus menyuarakan optimisme. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved