Jumat, 8 Mei 2026

Opini Pos Kupang

Sekolah di Mana Saja

SEMUSIM sudah berlalu.Satu semester kelas sangat sunyi. Kini masuk semester genap

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Oleh: Yahya Ado, Anggota Forum Akademia NTT

POS-KUPANG.COM - SEMUSIM sudah berlalu.Satu semester kelas sangat sunyi. Kini masuk semester genap. Sekolah seperti museum yang hanya menyimpan perangkat belajar. Lonceng sekolah tak lagi ramai berbunyi. Sunyi di kala pagi, maupun jam ketika pulang. Tak ada lagi baris-berbaris. Tak ada lagi nyanyian Indonesia Raya di Senin pagi. Semua bejalar dari rumah.

Simbolisasi sekolah seperti baju seragam, apel pagi, doa bersama dan lainnya seperti menjadi kenangan cukup lama. Sekolah kini masuk kejaringan global, melalui dunia digital, meski masih banyak pula yang terperangkap manual. Orang tua menjadi guru, dan guru-guru menjadi orang tua di rumah masing-masing.

Susahnya kalau siswa yang orang tuanya harus kerja ke kantor atau berkebun, atau pekerjaan lainnya di luar rumah. Kasat mata terlihat, banyak anak dibiarkan bermain bebas di rumah dan lingkungan rumah mereka di jam-jam sekolah.

Baca juga: Dorong Penyintas Covid-19 Donor Plasma

Kurikulum secara nasional kini mulai disederhanakan untuk masa darurat. Menyesuaikan kenormalan baru yang `dituntut' menjadi normal. Mengurangi mata pelajaran, memangkas jam belajar, hingga menghilangkan banyak perangkat administrasi belajar yang menyita.

Kurikulum darurat yang menjawab mimpi merdeka belajar itu, kini diterima sebagai kabar baik. Termasuk penilaian karekter yang menggantikan ujian nasional yang berbiaya mahal itu.

Pendidikan berbasis digital di zaman ini memang sungguh melelahkan.Tantangan sangat berat adalah infrasturktur listrik dan juga blank spot untuk jaringan internet. Belum lagi kepemilikan gawai yang tak mendukung proses belajar siswa.

Baca juga: Polsek Aimere Siapkan Sekolah Online Gratis Bagi Para Siswa, Ini Penjelasan Kapolres Ngada

Selain itu, satu sekolah dan sekolah lain punya metode belajar yang berbeda-beda. Ada yang sekedar membagi buku. Ada yang hanya foto copy lembar kerja, dan syukur-syukur masih ada yang bisa bertemu dan berkunjung ke rumah-rumah, terutama di zona hijau dan orange.

Di pandemi kini, protokol menjaga jarak fisik pun ternyata menjauhkan hubungan emosional antar guru dan murid. Padahal belajar juga butuh interaksi hati ke hati. Butuh motivasi dan inspirasi yang mengalir saat bersua. Jadinya, ikatan batin seorang guru yang ditiru dan digugu semakin terhambat kondisi.

Anak jarang ketemu langsung dengan guru secara fisik, guru berhubungan dengan perangkat lunak, begitu juga murid dan orang tua mereka. Sama-sama lebih dekat dengan dunia digital masing-masing.

Orang Tua Menjadi Guru

Pesan Ki Hajar Dewantara, "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah," menjadi benar-benar terjadi hari ini. Pandemik kembalikan filosofi sekolah yang sebenarnya. Tanggungjawab utama belajar anak di rumah karena waktu yang lebih banyak di rumah.

Setiap rumah menjadi sekolah, setiap orang tua itu guru. Sayangnya, kita masih terpingkal-pingkal dan bahkan saling menyalahkan. Kita belum tuntas diskusi, bahwa belajar bukan semata tanggungjawab sekolah. Tetapi rumah dan lingkungan juga turut membentuk anak.

Ada pepatah kuno, "Anak dididik oleh satu kampung," adalah sebuah kebenaran sejati. Karena anak butuh teladan dari siapa pun yang ia lihat. Di rumah, sekolah, dan lingkungan/alam sekitar.

Sayangnya, banyak orang tua semakin risau. Proses belajar anak seperti tak tuntas. Kurang stimulasi untuk melihat perkembangan pembelajaran anak. Ini karena minim alat dan cara belajar. Belajar menjadi tanpa kontrol yang baik.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved