Opini Pos Kupang
Menakar Definisi Perempuan
Eksistensi Perempuan di tengah masyarakat masih diborgol definisi. Konstruksi dirinya, selalu habis didefinisi
Rahim yang tidak lain adalah "khora" merupakan tempat segala sesuatu. Di sana kehidupan
dimulai. Di sana manusia dirawat. Di sana rumah sebagai tempat tinggal, pertama kali
dinikmati. Rahim juga menjadi kanopi atau tempat perlindungan, tempat persemaian cinta,
dan ruang dimana seorang bayi berkelimpahan makanan.
Karena "khora" inilah, Kristeva menolak segala bentuk definisi mengenai perempuan. Biarkan ia menjadi. Ia selalu dalam proses. Oleh karenanya, jangan gegabah `tuk memakunya pada sebuah definisi.
Karena ia khas, sebaiknya diam. Memang inilah seharusnya yang dilakukan ketika laki-laki
berhadapan dengan seorang perempuan. Ia diam. Ia bisu. Perempuan menguasai sebagian dari
kosa kata bahasa. Laki-laki perlu mendengar. "Jika berhadapan dengan perempuan, alangkah
lebih baik laki-laki menjadi pendengar."
Perempuan hendak menyerang balik. Ia ingin memasukan siapa saja ke dalam sebuah definisi. Maka, ia pun `tak segan-segan mengkonsumsi banyak kata. Lalu, ia dikira rakus ngomong. Bukan. Dia tidaklah demikian. Ia hanya memberontak atas usaha-usaha pria yang memaksanya masuk ke dalam sebuah
pengertian atau definisi. Ia memberontak, lalu ia dikira memang demikian. Itu salah.
Perempuan melampui definisi
Ketika Rene Descartes mendefinisikan manusia sebagai "I think, therefore I am," definisi ini
justru mengabaikan perempuan. Perempuan justru menjadi obyek "Saya yang berpikir."
Perempuan kan dikonstruksi. Pernyataan Descartes, bagi Simone de Beauvoir, seorang filosof
Prancis, justru diklaim berbeda: "I am a woman, there-from I think." Dengan menjawab "I
am a woman," dan bukan "I think" Beauvoir sadar bahwa "I am" bagi perempuan selalu
berimplikasi pada apa yang didefinisikan orang yang sesungguhnya tidak berdasarkan fakta
pemikiran perempuan sendiri, tapi lebih pada fakta biologisnya.
Dari sini, Beauvoir kemudian membuat sebuah pernyataan demikian: "One is not born, but rather becomes, a woman."
Sesungguhnya perempuan tidak dilahirkan. Ia dalam tahap menjadi. Menjadi seseorang. Dan,
ia tak mau didefinisi oleh laki-laki.
Karena konstruksi budaya dan masyarakat, relasi perempuan dan laki akhirnya direduksi
hanya pada relasi seks semata. Dalam sebuah definisi, perempuan merujuk pada gagasan
seorang laki, dan bukan pada apa yang dialami dan dipahami oleh perempuan sendiri.
Oleh karena itu, perempuan seringkali dilihat hanya "insidental semata", sedangkan laki-laki
adalah "subyek" sekaligus "absolut." Dengan demikian, perempuan adalah "the Other" atau
"liyan."
Teori "other" de Beauvoir paralel dengan teori "Other"-nya Jean Paul Sartre. De Beauvoir
mengartikan "other" pada perempuan sebagai bentuk penindasan. Perbedaannya terletak pada
keengganan perempuan menggugat otoritas laki-laki dan sering otoritas tersebut dianggap
wajar. Akan tetapi, pertanyaannya: "Mengapa perempuan cenderung menerima kondisi
mereka? Mengapa tidak ada hubungan kebencian yang resiprokal?"
Perempuan selalu tak terkatakan. Ia lebih luas. Ia tidak bisa dibatasi dalam kerangka definisi.
Seperti halnya Buddhisme memilih diam terhadap Yang Ilahi, tidak berlebihan jika kita
mengatakan bahwa di hadapan perempuan, kita lebih banyak diam. Lebih banyak
mendengarkan. "What does "woman" mean? Indeed, she (woman) does not exist with a
capital W, possessor of some mythical unity. I understand by "woman" that which cannot be
represented, something that is not said, something above and beyond nomenclatures and
ideologies." (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)