Senin, 4 Mei 2026

Opini Pos Kupang

Menakar Definisi Perempuan

Eksistensi Perempuan di tengah masyarakat masih diborgol definisi. Konstruksi dirinya, selalu habis didefinisi

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Oleh: Kristianto Naku, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Filsafat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

POS-KUPANG.COM - Eksistensi Perempuan di tengah masyarakat masih diborgol definisi. Konstruksi dirinya, selalu habis didefinisi. Dengan mengkategorikan Perempuan ke dalam sebuah definisi, itu artinya Perempuan tak berkuasa atas dirinya sendiri.

Definisi membentuk sosok perempuan dari luar. Dirinya sendiri tak kuasa melepaskan diri jeruji definisi karena tradisi membatasinya. Konsekuensinya, perempuan tak lari jauh dari dapur, kasur, dan sumur.
Kasus pemerkosaan yang menimpa salah seorang ibu di Desa Alue Gadeng, Kecamatan Bireuem Bayeum, Kabupaten Aceh Timur adalah proyeksi bawah sadar manusia atas konstruksi diri perempuan.

Baca juga: Warga Watu Mite Kabupaten Ende Sudah Lama Rindu Listrik, Begini Jawaban PLN

Perempuan dalam rengkuhan definisi masih dilihat hanya sebagai pemuas kebutuhan sexual. Bagi sebagian tokoh Feminis, seperti Julia Kristeva, segala konstruksi atas identitas dan diri perempuan yang datang dari luar dirinya, harus didekonstruksi. Ditata ulang.

Bagaimana memahami perempuan? Dalam tradisi Kitab Suci, perempuan merupakan bagian
dari laki-laki. Ini awal mula relasi keduanya. Bahkan karena disebut-sebut sebagai bagian
dari laki-laki, ia kerap kali mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan.

Baca juga: Pemerintah Kota Akan Berikan Dana Hibah Bagi Hotel dan Resto yang Taat Bayar Pajak

Ia disadap. Disekap. Diperkosa. Dianiaya. Dirajam. Difitnah. Dipinggirkan. Diretas dari kekhasannya.
Terus, sebenarnya perempuan itu siapa? "I understand by `woman' that which cannot be
represented, something that is not said, something above, and beyond nomenclatures and
ideologies."

Merenung. Lalu angkat bicara. Jangan membuat definisi tentang perempuan. Sejatinya ia
lebih luas dari sebuah definisi. Ia tak bisa dibekukan dalam penjabaran. Membuat definisi
berarti membatasi, mengukur ruang gerak, memberi label, mencap sebagai-seperti.

Memberi definisi berarti mengurung perempuan pada genggaman pemikiran aku yang mendefinisi.
Ketika didefinisi, perempuan habis. Ia menjadi. Ia direngkuh. Ia dipenjara pada batas-batas
sebuah pengertian.

Julia Kristeva, seorang kritikus sastra asal Prancis, menolak pendefinisan atas makhluk
bernama perempuan. Bagi Kristeva, perempuan tidak bisa didefinisikan.

"Jika kita membuat satu penjelasan tentang perempuan, tidak mungkin tidak, di dalam penjelasan itu, akan ada resiko dimana kekhasan perempuan dihapus. Kekhasan itu, mungkin terkait dengan keibuan,
mengingat itulah satu-satunya fungsi yang membedakannya dari eksistensi jenis kelamin
lain" (Kristeva, 1984).

Memang, perempuan tak pernah habis didefinisi. Ia lebih luas dari sekadar definisi. Memasukan perempuan ke dalam sebuah definisi, sama halnya dengan "menghabisinya." Perempuan: "yang lain"

Perempuan itu sebenarnya adalah "the other." Yang lain dan sama sekali lain. Ia adalah yang
akan datang. Segera datang. Ia tidak pernah hadir secara real sebagai sesuatu yang akhirnya
menjadi objek. Perempuan menolak `tuk menjadi apa yang diinginkan. Pokoknya menolak
`tuk menjadi.

Ia selalu menjadi misteri layaknya manusia. Misteri memberi petunjuk pada
sebuah kekhasan -sesuatu yang tidak ada pada yang lain. Sesuatu yang `tak terdefinisikan.
Perempuan mempunyai rahim sebagai sesuatu yang khas. Ia disebut ibu, dan melahirkan.
Kristeva menyebut rahim perempuan dengan istilah "khora."

Istilah ini dipinjam oleh Kristeva dari seorang filosof Yunani, Plato (427-347 SM) sebagai infrastruktur untuk menjelaskan hubungan tubuh maternal dan bayi. Dalam karyanya yang berjudul "Timaeus,"
Plato memberi penjelasan bagaimana alam semesta diciptakan.

Dalam proses itu, ia menggunakan kata "khora" yang berarti wadah atau perawat. "Khora" dipakai Kristeva untuk menjelaskan bagaimana lingkungan psikis bayi berorientasi ke tubuh ibunya -karena istilah ini menunjuk pada tempat kelahiran dan munculnya segala sesuatu. Sebuah tempat yang tidak
bernama untuk semiotik prasimbolik.

Rahim yang tidak lain adalah "khora" merupakan tempat segala sesuatu. Di sana kehidupan
dimulai. Di sana manusia dirawat. Di sana rumah sebagai tempat tinggal, pertama kali
dinikmati. Rahim juga menjadi kanopi atau tempat perlindungan, tempat persemaian cinta,
dan ruang dimana seorang bayi berkelimpahan makanan.

Karena "khora" inilah, Kristeva menolak segala bentuk definisi mengenai perempuan. Biarkan ia menjadi. Ia selalu dalam proses. Oleh karenanya, jangan gegabah `tuk memakunya pada sebuah definisi.

Karena ia khas, sebaiknya diam. Memang inilah seharusnya yang dilakukan ketika laki-laki
berhadapan dengan seorang perempuan. Ia diam. Ia bisu. Perempuan menguasai sebagian dari
kosa kata bahasa. Laki-laki perlu mendengar. "Jika berhadapan dengan perempuan, alangkah
lebih baik laki-laki menjadi pendengar."

Perempuan hendak menyerang balik. Ia ingin memasukan siapa saja ke dalam sebuah definisi. Maka, ia pun `tak segan-segan mengkonsumsi banyak kata. Lalu, ia dikira rakus ngomong. Bukan. Dia tidaklah demikian. Ia hanya memberontak atas usaha-usaha pria yang memaksanya masuk ke dalam sebuah
pengertian atau definisi. Ia memberontak, lalu ia dikira memang demikian. Itu salah.
Perempuan melampui definisi

Ketika Rene Descartes mendefinisikan manusia sebagai "I think, therefore I am," definisi ini
justru mengabaikan perempuan. Perempuan justru menjadi obyek "Saya yang berpikir."
Perempuan kan dikonstruksi. Pernyataan Descartes, bagi Simone de Beauvoir, seorang filosof
Prancis, justru diklaim berbeda: "I am a woman, there-from I think." Dengan menjawab "I
am a woman," dan bukan "I think" Beauvoir sadar bahwa "I am" bagi perempuan selalu
berimplikasi pada apa yang didefinisikan orang yang sesungguhnya tidak berdasarkan fakta
pemikiran perempuan sendiri, tapi lebih pada fakta biologisnya.

Dari sini, Beauvoir kemudian membuat sebuah pernyataan demikian: "One is not born, but rather becomes, a woman."

Sesungguhnya perempuan tidak dilahirkan. Ia dalam tahap menjadi. Menjadi seseorang. Dan,
ia tak mau didefinisi oleh laki-laki.

Karena konstruksi budaya dan masyarakat, relasi perempuan dan laki akhirnya direduksi
hanya pada relasi seks semata. Dalam sebuah definisi, perempuan merujuk pada gagasan
seorang laki, dan bukan pada apa yang dialami dan dipahami oleh perempuan sendiri.

Oleh karena itu, perempuan seringkali dilihat hanya "insidental semata", sedangkan laki-laki
adalah "subyek" sekaligus "absolut." Dengan demikian, perempuan adalah "the Other" atau
"liyan."

Teori "other" de Beauvoir paralel dengan teori "Other"-nya Jean Paul Sartre. De Beauvoir
mengartikan "other" pada perempuan sebagai bentuk penindasan. Perbedaannya terletak pada
keengganan perempuan menggugat otoritas laki-laki dan sering otoritas tersebut dianggap
wajar. Akan tetapi, pertanyaannya: "Mengapa perempuan cenderung menerima kondisi
mereka? Mengapa tidak ada hubungan kebencian yang resiprokal?"

Perempuan selalu tak terkatakan. Ia lebih luas. Ia tidak bisa dibatasi dalam kerangka definisi.
Seperti halnya Buddhisme memilih diam terhadap Yang Ilahi, tidak berlebihan jika kita
mengatakan bahwa di hadapan perempuan, kita lebih banyak diam. Lebih banyak
mendengarkan. "What does "woman" mean? Indeed, she (woman) does not exist with a
capital W, possessor of some mythical unity. I understand by "woman" that which cannot be
represented, something that is not said, something above and beyond nomenclatures and
ideologies." (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved