Opini Pos Kupang
Menakar Definisi Perempuan
Eksistensi Perempuan di tengah masyarakat masih diborgol definisi. Konstruksi dirinya, selalu habis didefinisi
Oleh: Kristianto Naku, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Filsafat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
POS-KUPANG.COM - Eksistensi Perempuan di tengah masyarakat masih diborgol definisi. Konstruksi dirinya, selalu habis didefinisi. Dengan mengkategorikan Perempuan ke dalam sebuah definisi, itu artinya Perempuan tak berkuasa atas dirinya sendiri.
Definisi membentuk sosok perempuan dari luar. Dirinya sendiri tak kuasa melepaskan diri jeruji definisi karena tradisi membatasinya. Konsekuensinya, perempuan tak lari jauh dari dapur, kasur, dan sumur.
Kasus pemerkosaan yang menimpa salah seorang ibu di Desa Alue Gadeng, Kecamatan Bireuem Bayeum, Kabupaten Aceh Timur adalah proyeksi bawah sadar manusia atas konstruksi diri perempuan.
Baca juga: Warga Watu Mite Kabupaten Ende Sudah Lama Rindu Listrik, Begini Jawaban PLN
Perempuan dalam rengkuhan definisi masih dilihat hanya sebagai pemuas kebutuhan sexual. Bagi sebagian tokoh Feminis, seperti Julia Kristeva, segala konstruksi atas identitas dan diri perempuan yang datang dari luar dirinya, harus didekonstruksi. Ditata ulang.
Bagaimana memahami perempuan? Dalam tradisi Kitab Suci, perempuan merupakan bagian
dari laki-laki. Ini awal mula relasi keduanya. Bahkan karena disebut-sebut sebagai bagian
dari laki-laki, ia kerap kali mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan.
Baca juga: Pemerintah Kota Akan Berikan Dana Hibah Bagi Hotel dan Resto yang Taat Bayar Pajak
Ia disadap. Disekap. Diperkosa. Dianiaya. Dirajam. Difitnah. Dipinggirkan. Diretas dari kekhasannya.
Terus, sebenarnya perempuan itu siapa? "I understand by `woman' that which cannot be
represented, something that is not said, something above, and beyond nomenclatures and
ideologies."
Merenung. Lalu angkat bicara. Jangan membuat definisi tentang perempuan. Sejatinya ia
lebih luas dari sebuah definisi. Ia tak bisa dibekukan dalam penjabaran. Membuat definisi
berarti membatasi, mengukur ruang gerak, memberi label, mencap sebagai-seperti.
Memberi definisi berarti mengurung perempuan pada genggaman pemikiran aku yang mendefinisi.
Ketika didefinisi, perempuan habis. Ia menjadi. Ia direngkuh. Ia dipenjara pada batas-batas
sebuah pengertian.
Julia Kristeva, seorang kritikus sastra asal Prancis, menolak pendefinisan atas makhluk
bernama perempuan. Bagi Kristeva, perempuan tidak bisa didefinisikan.
"Jika kita membuat satu penjelasan tentang perempuan, tidak mungkin tidak, di dalam penjelasan itu, akan ada resiko dimana kekhasan perempuan dihapus. Kekhasan itu, mungkin terkait dengan keibuan,
mengingat itulah satu-satunya fungsi yang membedakannya dari eksistensi jenis kelamin
lain" (Kristeva, 1984).
Memang, perempuan tak pernah habis didefinisi. Ia lebih luas dari sekadar definisi. Memasukan perempuan ke dalam sebuah definisi, sama halnya dengan "menghabisinya." Perempuan: "yang lain"
Perempuan itu sebenarnya adalah "the other." Yang lain dan sama sekali lain. Ia adalah yang
akan datang. Segera datang. Ia tidak pernah hadir secara real sebagai sesuatu yang akhirnya
menjadi objek. Perempuan menolak `tuk menjadi apa yang diinginkan. Pokoknya menolak
`tuk menjadi.
Ia selalu menjadi misteri layaknya manusia. Misteri memberi petunjuk pada
sebuah kekhasan -sesuatu yang tidak ada pada yang lain. Sesuatu yang `tak terdefinisikan.
Perempuan mempunyai rahim sebagai sesuatu yang khas. Ia disebut ibu, dan melahirkan.
Kristeva menyebut rahim perempuan dengan istilah "khora."
Istilah ini dipinjam oleh Kristeva dari seorang filosof Yunani, Plato (427-347 SM) sebagai infrastruktur untuk menjelaskan hubungan tubuh maternal dan bayi. Dalam karyanya yang berjudul "Timaeus,"
Plato memberi penjelasan bagaimana alam semesta diciptakan.
Dalam proses itu, ia menggunakan kata "khora" yang berarti wadah atau perawat. "Khora" dipakai Kristeva untuk menjelaskan bagaimana lingkungan psikis bayi berorientasi ke tubuh ibunya -karena istilah ini menunjuk pada tempat kelahiran dan munculnya segala sesuatu. Sebuah tempat yang tidak
bernama untuk semiotik prasimbolik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)