Petani Belu Gagal Tanam dan Panen di Musim Tanam Kedua
Dinas Pertanian dan ketahanan pangan Kabupaten Belu masih melakukan pendataan lahan pertanian, terutama lahan sawah yang gagal tanam dan gagal panen
Penulis: Teni Jenahas | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Pihak Dinas Pertanian dan ketahanan pangan Kabupaten Belu masih melakukan pendataan lahan pertanian, terutama lahan sawah yang gagal tanam dan gagal panen di musim tanam kedua ( MT II).
Pada musim tanam ke II (MT II), rata-rata luas lahan sawah yang digarap di Kabupaten Belu berkurang karena ketersedian air tidak cukup sebagai dampak dari curah hujan sedikit dan tidak menentu. Saat ini petugas penyuluhan masih melakukan pendataan sehingga data rill dapat diketahui.
Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, Gerardus Mbulu saat dikonfirmasi Pos Kupang.Com, di sela-sela kunjungan kerja Bupati Belu di Desa Silawan, Kamis (6/8/2020).
• Dinas Khawatir Siswa Salahgunakan Pulsa
Menurut Gerardus, bencana gagal tanam dan gagal panen biasanya terjadi di musim tanam ke II yang sesuai siklusnya dari Agustus sampai Maret. Hal ini disebabkan curah hujan sedikit sehingga pasokan air irigasi menurun bahkan bisa kering sama sekali. Sedangkan musim tanam pertama (MT I) dihitung dari November sampai Maret dan tidak terjadi gagal tanam ataupun gagal panen karena curah hujan bagus sehingga sering disebut sebagai musim tanam utama.
• Tokoh Masyarakat Kewar Minta Bupati Belu Bina Kades Kewar
Untuk Kabupaten Belu, lanjut Gerardus, luas lahan sawah yang digarap pada musim tanam ke II hanya 170-hektare dan tidak semuanya gagal tanam. Saat ini petugas masih lakukan pendataan dari 170-an hektare tersebut yang gagal tanam. Ia optimis, luas lahan yang gagal tanam hanya sekitar puluhan hektare.
"Kami sementara data untuk mengetahui jumlah yang pasti. Paling sekitar puluhan hektare saja. Di raihat itu dari 50 hektrae yang garap hanya belasan hektare saja", kata Gerardus.
Lebih lanjut, Gerardus mengungkapkan, meski musim kemarau dan terjadi gagal tanam dan gagal panen namun masyarakat masih memiliki cadangan pangan. Pangan dalam konteks pertanian bukan hanya beras dan jagung tetapi sembilan komoditi pangan termasuk ternak sapi.
Terhadap bencana gagal tanam dan gagal panen, pemerintah meminta masyarakat petani agar bisa mengoptimalkan lahan tersebut dengan menanam tanaman hortikultura yang lain seperti sayur-sayuran. Hal ini bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kadis Gerardus menambahkan, saat ini juga pemerintah sementara mengolah lahan milik masyarakat menggunakan traktor. Olah lahan dilakukan gratis. Target pengolahan lahan tahun ini mencapai 1.000 hektare, sedangkan pembukaan lahan baru seluas 150 hektare. Pemerintah optimis pengolahan lahan mencapai target karena didukung sarana pertanian seperti traktor yang siap operasi sebanyak 28 unit. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gerardus-mbulu.jpg)