Warga Lengkosambi Raya Protes Tambang Galian C Merusaki Lingkungan
Kegiatan tambang rupanya banyak memberi dampak hebat terhadap kerusakan ekologi dan sosial, daripada keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | BAJAWA - Kegiatan tambang rupanya banyak memberi dampak hebat terhadap kerusakan ekologi dan sosial, daripada keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat. Tak heran jika gerakan penolakan tambang selalu reaktif dari berbagai pihak.
Forum Pemuda Lengkosambi Raya (FPLR) di Kecamatan Riung Kabupaten Ngada belum lama ini mengendus tambang galian C wilayah itu.
Warga melihat dan menilai bahwa tambang galian C sangat berdampak buruk bagi lingkungan.
• Masuk New Normal Pengelola Penginapan di Ngada Ikut Pelatihan Manajemen Homestay
Karena merasa sangat merugikan akibat dampak lingkungan, FPLR mengadu ke DPRD Ngada terkait persoalan itu. Karena sangat berdampak buruk bagi lingkungan.
Siaran pers yang diterima POS-KUPANG.COM, Senin (20/7/2020) malam menyebutkan, berbekal dokumen perijinan yang tebal, justru memberi keleluasaan bagi pengusaha tambang bagai pendekar dengan pendang bermata dua.
• Optimis Raih WTP BPK, Pemkot Kupang Kerja Keras Tata dan Data Aset
Semula diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat, tetapi eksekusi di lapangan justru mendatangkan malapetaka. Siapa yang salah? Yang memberi ijin atau yang eksekusi ijin?
Realitas itu yang membuat FPLR mengadu ke DPRD Ngada belum lama ini.
Dua hari setelah pengaduan itu DPRD Ngada melalui komisi I langsung turun meninjau lokasi tambang galian C Di bantaran kali Alo Korok, Lengkosambo, Kecamatan Riung.
Pimpinan Komisi I Yohanes Donbosko Ponong dan salah seorang anggota dewan komisi I Thor Carter Seno menelusuri kali Alo Korok, Kamis (16/7/2020) untuk melihat langsung dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas galian C.
Dua wakil rakyat dari Dapil Riung yang masih energik itu tiba di Lengkosambi langsung menuju lokasi pengerukan terbaru di kawasan Mbele Nipa.
Turun dari mobil, kedua anak muda di DPRD Ngada ini melangkah cepat didampingi beberapa seorang warga.
Di Mbele Nipa, Donbosko dan Thor geleng-geleng kepala. Di lokasi ini pengerukan kali (sungai) yang kering pada musim kemarau itu mencapai kedalaman 3 meter.
Setelah mencermati, bersama sejumlah warga, keduanya balik kanan mengikuti alur sungai menuju arah muara.
"Dari sini sampai muara kalau lewat sungai, jauhnya sekitar 7 kilo meter," kata salah seorang warga.
Terik matahari sekitar pkl. 11.00 Wita siang itu tak menyurutkan langkah dua anggota dewan ini menyusuri kali bermaterial pasir itu.