Warga Lengkosambi Raya Protes Tambang Galian C Merusaki Lingkungan
Kegiatan tambang rupanya banyak memberi dampak hebat terhadap kerusakan ekologi dan sosial, daripada keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
Beberapa warga yang mengiringi mereka sesekali ketinggalan sehingga harus berlari kecil.
Di beberapa titik keduanya berhenti. Warga menjelaskan bahwa dampak dari galian C sangat merusak lingkungan.
"Alur kali (sungai) dulu sebelah sana, tetapi Karena abrasi hebat, sekarang air lewat sini," ujar warga kepada keduanya.
Di titik yang lain, rombongan Komisi I DPRD Ngada bersama sejumlah warga ini berhenti lagi. Mereka menunjuk titik abrasi hebat beberapa tahun ini, sehingga menyebabkan lahan petani tergerus signifikan.
Dinding tebing semakin curam dan terlihat labil sehingga kapan saja digerus akan terkikis jika masuk musim hujan.
Di aliran kali (sungai) tak jauh dari kuburan warga lengkosambi, juga terlihat dampak abrasi hebat.
Menurut warga, jarak sungai dan kuburan awalnya sekitar 100 meter, tetapi belakangan ini kelihatan sungai makin dekat dengan lokasi kuburan.
Penelurusan kali (sungai) Alo Korok oleh dua anggota dewan itu sampai juga di jembatan Alo Korok yang menghubungkan wilayah Bekek dan Lengkosambi antara wilayah Riung dengan Nagekeo.
Donbosko dan Thor dipandu warga langsung masuk di bawah kolong jembatan setinggi hampir 10 meter itu.
Di titik ini dua anggota dewan menemukan fakta, bahu jembatan sudah runtuh. Permukaan bawah jembatan sudah terkikis.
Penyangga jembatan itu terlihat menggantung. Hal ini disebabkan oleh pengikisan air karena pengerukan bagian utara jembatan hingga ke muara kali Watu Lajar.
Dari penelusuran kali (sungai) Alo Korok, dua wakil rakyat asal Riung itu mengatakan, aktivitas tambang galian C di kali (sungai) Alo Korok, pihaknya menemukan sejumlah fakta bahwa telah terjadi pengerukan kali (sungai) Alo Korok secara besar-besaran yang sudah dilakukan dua tahun terakhir.
Pengerukan yang dilakukan sepanjang kali itu mencapai 7 km mulai dari muara sungai di Watu Lajar sampai lokasi Mbele Nipa, dekat kampung lama Lengkosambi.
Akibat pengerukan tersebut memperlihatkan fakta terjadinya abrasi signifikan pada dinding tebing sungai yang labil.
Abrasi ini berdampak pada semakin sempitnya lahan pertanian milik petani di sepanjang bantaran sungai.