Renungan Katolik : Memaknai surat-surat dari Molokai - Hawaii : Ego Sum Vitis, Akulah Pokok Anggur“
Pater Damian mencoba memasukkan kakinya ke dalam air yang mendidih tapi ia tidak merasakan reaksi apa pun
Selama 11 tahun periode pelayanannya bagi kaum kusta, sebelum ia terjangkit kusta, Pater Damian telah banyak berbuat dan berbuahkan kebaikan bagi kawanan kaum kusta karena Ia tetap tinggal pada pokok anggur yang benar yakni Yesus Kristus.
Kecintaannya pada ekaristi kudus, offisi, doa rosario dan devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Maria memampukannya bertahan menghadapi tantangan psikologis, kesehatan dan situasi sosial yang jauh dari harmonitas dan kenyamanan hidup.
Pater Damian insaf benar bahwa segala sesuatu memang ada waktunya. Ada waktu untuk aktif bekerja, ada waktu untuk istrahat. Ada waktu tampak bugar dan sehat, ada waktu pula mengalami penderitaan karena sakit dan lemah.
Ada waktu untuk giat merasul, ada pula waktu untuk sejenak merefleksikan dan mengkontemplasikannya. Ada waktu merayakan sukacita kebersamaan dalam hidup berkomunitas , ada pula waktu tinggal menyepi dalam kesendirian. Sebagaimana kata Pengkotbah “ Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya “ ( Pengkotbah 3 : 1 )
Semoga setiap pengalaman padang gurun kehidupan rohani dapat kita olah dengan sikap iman yang teguh dan optimis dalam persatuan dengan Yesus Kristus sebagai pokok anggur sejati.
Di sini kita boleh belajar dari Pater Damian, yang dalam kesendirian menghadapi pergumulan penderitaan kusta di Molokai, Ia tetap menyatukan dirinya dengan Tuhan dan Bunda Maria. Pater Damian tahu bahwa di luar penyelenggaraan dan kekuatan Tuhan, ia tidak sanggup berbuat apa-apa.
• SMKN 1 Atambua Belum Laksanakan UAS Online Untuk Kelas X dan XI
• Kadis pendidikan dan Kebudayaan NTT, Sebut UAS Tahun Ini Dengan Metode Berbeda
Doa . Ya Tuhan rahmatilah kami agar mampu bangkit mengolah padang gurun hidup rohani menjadi oasis yang menyegarkan dan memberi hidup. Amin. (*)