Renungan Katolik : Memaknai surat-surat dari Molokai - Hawaii : Ego Sum Vitis, Akulah Pokok Anggur“
Pater Damian mencoba memasukkan kakinya ke dalam air yang mendidih tapi ia tidak merasakan reaksi apa pun
Renungan Harian Katolik : Memaknai surat-surat dari Molokai - Hawaii (3 ) “ Ego Sum Vitis ,Akulah Pokok Anggur “
Oleh : Maxi Un Bria
Rabu 13 Mei 2020
POS-KUPANG.COM--“Saya menderita sakit kusta “ demikian ungkap Pater Damian sekembalinya dari Honolulu untuk memeriksakan kesehatan dirinya di penghujung tahun 1884.
Dokter Arning seorang lepraloog asal Jerman yang mendiagnosa penyakit yang diderita Pater Damian menyimpulkan bahwa ia positif terjangkit lepra.
Pada Januari 1885, Pater Damian mencoba memasukkan kakinya ke dalam air yang mendidih tapi ia tidak merasakan reaksi apa pun. Demikian Edouard Brion dalam pengatar bukunya (1988).
Pengalaman itu sejenak membuat Damian berdiam diri. Ia memang lebih senang menyebut gejala penyakit itu sebagai sebuah penyakit yang dahsyat. Tampaknya ada goncangan dan tantangan yang membalut jiwanya.
Damian seorang misionaris yang dikenal dinamis dan kreatif pada masa awal kedatangannya di Molokai, kini akan memanggul salib kehidupan, sebagai salah seorang penderita kusta.
Pada periode 1885-1889, meskipun terbatas kekuatan dan jangkauannya, Damian masih tetap melayani para penderita kusta sembari mendalami kehidupan spiritualitas.
Bagaimana pun juga pengalaman padang gurun, kesepian dan penderitaannya tetap diolah sebagai partisipasinya yang utuh dalam penderitaan Kristus yang tersalib.
“Ego sum vitis, vos palmites ; Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” ( Yoh 15: 5 ). Damian adalah salah satu ranting dari pokok anggur yang benar .
Ia tetap teguh menyatukan diri dengan pokok anggur, Yesus Kristus . Kata-kata Sang Guru dipegang erat dalam pelayanan pastoralnya di Molokai. Siapa saja yang tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia, ia berbuah banyak. Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa : ( Yoh 15 : 5 ).
Refleksinya tentang kebenaran sabda Sang Guru telah membangun optimisme yang membara dalam menghidupi kerasulan cinta kasih di tengah para penderita kusta.
Derita kusta yang telah menggeregoti dirinya tidap mampu memadamkan cintanya bagi sesama penderita kusta. Perjalanan spiritual Damian melawati fase padang gurun dari kesepian menuju kebahagiaan sejati. Pada awalnya, sebagai manusia ia mengalami goncangan jiwa ketika divonis menderita kusta.
Selanjutnya Ia juga menjalani karantina di rumah kusta seorang diri , lantaran konfrater yang menemaninya pun pergi meninggalkannya. ( Edouard Brion, 1988 ;6 ) Pater Damian dalam kesendirian tekun mendaraskan doa rosario. Ia yakin tidak sendirian karena Yesus Sang Guru dan Bunda Maria setia menyertainya.
Selama 11 tahun periode pelayanannya bagi kaum kusta, sebelum ia terjangkit kusta, Pater Damian telah banyak berbuat dan berbuahkan kebaikan bagi kawanan kaum kusta karena Ia tetap tinggal pada pokok anggur yang benar yakni Yesus Kristus.
Kecintaannya pada ekaristi kudus, offisi, doa rosario dan devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Maria memampukannya bertahan menghadapi tantangan psikologis, kesehatan dan situasi sosial yang jauh dari harmonitas dan kenyamanan hidup.
Pater Damian insaf benar bahwa segala sesuatu memang ada waktunya. Ada waktu untuk aktif bekerja, ada waktu untuk istrahat. Ada waktu tampak bugar dan sehat, ada waktu pula mengalami penderitaan karena sakit dan lemah.
Ada waktu untuk giat merasul, ada pula waktu untuk sejenak merefleksikan dan mengkontemplasikannya. Ada waktu merayakan sukacita kebersamaan dalam hidup berkomunitas , ada pula waktu tinggal menyepi dalam kesendirian. Sebagaimana kata Pengkotbah “ Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya “ ( Pengkotbah 3 : 1 )
Semoga setiap pengalaman padang gurun kehidupan rohani dapat kita olah dengan sikap iman yang teguh dan optimis dalam persatuan dengan Yesus Kristus sebagai pokok anggur sejati.
Di sini kita boleh belajar dari Pater Damian, yang dalam kesendirian menghadapi pergumulan penderitaan kusta di Molokai, Ia tetap menyatukan dirinya dengan Tuhan dan Bunda Maria. Pater Damian tahu bahwa di luar penyelenggaraan dan kekuatan Tuhan, ia tidak sanggup berbuat apa-apa.
• SMKN 1 Atambua Belum Laksanakan UAS Online Untuk Kelas X dan XI
• Kadis pendidikan dan Kebudayaan NTT, Sebut UAS Tahun Ini Dengan Metode Berbeda
Doa . Ya Tuhan rahmatilah kami agar mampu bangkit mengolah padang gurun hidup rohani menjadi oasis yang menyegarkan dan memberi hidup. Amin. (*)