Opini Pos Kupang
Teknologi Pembelajaran Online Mengurai Misteri "lockdown" Covid-19
Baca Opini Pos Kupang: Teknologi Pembelajaran Online Mengurai Misteri "lockdown" Covid-19
Metode Pembelajaran Berbasis "Blended Leraning"
Blended learning disebut juga hybrid courses adalah proses pembelajaran yang memadukan antara komponen online dan komponen tatap muka antara tutor dan pembelajar. Istilah blended leraning pada awalnya digunakan untuk menggambarkan mata kuliah yang mencoba menggabungkan berbagai teknologi, metode pengajaran, pengalaman belajar dan lokasi pembelajaran.
Ada tiga bentuk metode pembelajaran yaitu pembelajaran berbasis tatap muka ruang kelas tradisional, blended learning (perpaduan tatap muka dan online) dan online murni.
Metode pembelajaran berbasis "blended learning"dinilai lebih efektif karena di dalamnya ada perpaduan antara proses berpikir mandiri, membaca, berdialog, bertanya, perolehan informasi baru secara online, tetapi kalau perlu, bisa ada tatap muka antara tutor dan pembelajar.
Alasan pemilihan metode pembelajaran berbasis "blended learning" selama masa liburan ini, antara lain, pertama, Psikologis bahwa metode ini lebih menghasilkan perasaan berkomunikasi lebih nyaman antara tutor dan pembelajar, dari pada pembelajaran tradisional tatap muka yang untuk sementara waktu dibatasi.
Ada pembelajar yang tidak berani mengungkapkan gagasannya di kelas karena kemungkinan terkena virus, maka media online menjadi ruang untuk mengekspresikan gagasannya secara bebas. Kedua, Produktivitas, artinya pembelajar lebih mandiri untuk meningkatkan kemampuan kreatifnya, produktivitas dan kualitasnya selama masa liburan.
Ketiga, Fleksibilitas yakni tutor dan pembelajar lebih fleksibel mengembang pengetahuan, berdialog, bertanya dan saling kontrol baik secara online maupun dalam tatap muka sejauh perlu, serta fleksibel menggunakan media elektronik apa saja untuk memburu / berburu pengetahuan; keempat, Geografis maksudnya selama pemerintah masih memberlakukan kebijakan "lockdown" di semua lokasi, wilayah dan negara daya sebar corona virus, maka media online sangat efektif mengatasi hambatan ruang (space binding) dan waktu (time binding) untuk menghubungkan tutor dan pembelajar.
Kelima, Waktu, artinya dalam tempo sekejap informasi dapat terkirim dengan cepat ke tujuan dan dapat diperoleh feedbacknya seketika pula. Keenam, Difusi yaitu penyebaran informasinya cepat dan menyeluruh melalui pola : one to one, one to many, many to one, many to many.
Ketujuh, Biaya lebih hemat dan lebih murah. Dampak pembelaran Blended Learning, secara positif pertumbuhan e-learning dipicu oleh pertumbuhan konsep mengenai gerakan lifelongleraning (pembelajaran seumur hidup) ; membantu pembelajar mengekspresikan ide-ide secara bebas kepada tutor ketimbang di dalam kelas teutama untuk pembelajar yang malu, segan, takut dan tidak memiliki kemampuan verbal yang baik ; membantu mengatasi pendidikan jarak jauh tradisional berbasis cetak yang dianggap memiliki tingkat ketekunan rendah karena semata-mata diandalkan kemampuan pembelajar, terutama pembelajar yang tinggal di daerah terpencil, terisolasi dan jauh dari kontak sosial, maka teknologi menjadi sangat urgen untuk menjembatani pembelajar dan tutor; menerobos ketertutupan sistem dan pola pengajaran tradisional yang top-down di mana pengajar diposisikan sebagai pengajar yang tahu semua dan pembelajar sebagai yang harus diajar; membantu pengajar dan pembelajar untuk kreatif dan mendiri mencari pengetahuan baru terus-menerus untuk memperkaya dirinya.
Sementara dampak negatifnya ialah teknologi baru hadir dengan tuntutan budayanya sendiri, maka baik tutor maupun pembelajar mesti tunduk pada budaya cyber dalam cara berdialog, komunikasi, diskusi online dan membangun networking.
Bagi pembelajar cerdas akan cepat menyesuaikan diri dengan tuntutan budaya cyber, tetapi bagi mereka yang kurang pengetahuan, skill dan lemah ekonominya akan tetap menatap ketertinggalaan ; Teknologi bisa menciptakan ekstrim-ekstrim baru dalam diri penggunanya seperti sikap instan, copy-paste, membuat pembelajar beralih dari pola `the human thought' kepada pola "the thingking of machines" yakni peralihan dari pola pemikiran manusia yang kritis dan mandiri kepada pola `berpikir mesin'.
Jadi, manusia meminta bantuan mesin untuk tolong berpikir buat manusia. Misalnya 2x25=50 bisa dipikirkan sendiri, tetapi karena ada teknologi lantas orang lari kepada kalkulator untuk tolong memecahkan persoalan matematis ini; Tekonologi bisa membangun sikap instan dalam diri pembelajar tetapi juga pengajar, apa lagi selama masa liburan orang ingin santai.
Tentu teknologi membawa dapak positif dan negatif. Walaupun demikian, selama masa diberlakukannya kebijakan"lockdown" terutama di Indonesia akibat penyebaran virus corona yang terus mengglobal, maka baik pihak pembelajar, pengajar maupun orangtua harus tetap optimis karena media online atau teknologi pembelajaran online pasti membuka misteri "lockdown" untuk memberikan kontribusi positif bagi kemajuan ilmu pengetahuan para peserta didik.
Salah satu metode paling efektif dimanfaatkan untuk tujuan ini masa liburan ialah metode pembelajarn berbasis "blende learning" yang memadukan antara komponen online dan komponen tatap muka, sehingga perjumpaan melalui ruang kelas maya dan ruang kelas tatap muka tetap berjalan, kalau perlu dan dimungkinkan oleh kondisi dan situasi setempat maka tutor dan pembelajar dapat bertemu langsung. Pointnya ialah bahwa teknologi pembelajaran berbasis online pasti tetap memberikan jaminan rasa aman bagi pembelajar dan pengajar selama masa pemberlakuan kebijakan "lockdown" karena teknologi mampu menembusi ruang dan waktu (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)