Rabu, 22 April 2026

Opini Pos Kupang

Teknologi Pembelajaran Online Mengurai Misteri "lockdown" Covid-19

Baca Opini Pos Kupang: Teknologi Pembelajaran Online Mengurai Misteri "lockdown" Covid-19

Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Baca Opini Pos Kupang: Teknologi Pembelajaran Online Mengurai Misteri "lockdown" Covid-19

Oleh : Hendrik Saku Bouk, SVD, Dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi-Fisip Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM - Pada bulan Februari 2020, dunia dihebohkan dengan informasi mengenai pandemi virus corona, lazim disebut Covid-19, yang yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei-China.

Wabah ini pertama kali muncul dideteksi pada 31 Desember di Wuhan. Para ahli kemudian mengatakan virus yang berasal dari hewan ini bisa menular antar-manusia.

Cegah Covid-19, RSU Imanuel Waingapu Sediahkan Wastafel

Dalam tempo singkat pandemi mematikan itu menyebar secara global hampir di semua negara. Hingga 15 Maret 2020, yang terinfeksi sebanyak 157.476 orang di 155 negara. Yang meninggal mencapai 5846.

Yang sembuh hampir setengahnya, 75.953 orang. Data 19 Maret 2020 di Indonesia terdapat 308 orang yang terinfeksi dan 25 orang meninggal dan 15 orang dinyatakan sembuh. Walaupun demikian, cepatnya penyebaran virus ini tetap menjadi ketakutan semua warga dunia.

Teknologi Pembelajaran Online

Sehubungan dengan bidang pendidikan, tentu saja guru dan siswa, dosen dan mahasiswa sedikit kesulitan melakukan proses belajar-mengajar dan perkuliahan tatap muka berbasis ruang kelas tradisional.

Ibadat Jalan Salib di Paroki Santo Yoseph Naikoten Umat Terlihat Menjaga Jarak

Oleh karena itu untuk mengatasi persoalan ini, dapat diterapkan metode pembelajaran online berbasis "blended learning" sehingga tutor dan pembelajar di seluruh Indonesia khususnya di wilayah-wilayah rawan virus corona tidak dirugikan selama masa liburan akibat darurat pandemi virus corona ini.

Terkait teknologi pembelajaran, dalam metode pembelajaran online, kita mengenal e-learning yaitu belajar secara online. Proses belajar online ini dapat berjalan, maka perlu adanya pemilihan media online tertentu atau dengan menggunakan perangkat keras komputer berjaringan internet untuk menyalurkan pesan dari sumber kepada penerima pesan. Istilah-istilah sinonim yang digunakan dalam menyebut pembelajaran online (e-learning).

Ada yang menyebut e-learning itu : pertama, "Computer conferencing" (konferensi komputer) yang mengacu pada aspek komunikasi dari e-learning. Kedua, "Web-based learning" (pembelajaran berbasis web). Ketiga, "Online learning" (pembelajaran online). Keempat, "Virtual classroom"(pembelajaran berbasis ruang kelas maya/virtual).

Kelima, "Asynchronous learning" (pembelajaran tidak sinkron) adalah pembelajaran yang tidak terjadi pada waktu dan tempat yang bersamaan. Keenam, "Virtual university"(universitas maya) merujuk pada program belajar dan kegiatan di kampus universitas. Ketujuh, "Distance learning"(pembelajaran jarak jauh) yang merujuk pada pembelajaran berbasis materi cetak (buku) dan dilengkapi dengan tatap muka(Saku Bouk, 2019: 33).

Konteks Ruang Kelas Maya

Dalam ruang kelas maya, karena digunakan web maka selalu tersedia perangkat-perangkat lunak yang bisa digunakan untuk proses pembelajaran online dan akses materi online (Frank and Robins,1986) : 1) Web untuk diskusi (Discussion) bisa dipakai perangkat lunak (software) seperti e-mail, videoconference, discussion board, Chatroom, Newsgroup dan mailing List ; 2) Web untuk distribusi pengetahuan (Distributed Education) dari tutor kepada pembelajar untuk diakses di lokasi berbeda melalui software yang bervariasi seperti learning center lokal, diccussion board, audio/video clips, hyperlinks (webpages-halaman web, portal, online libraries). Kalau mau berhadapan interface jarak jauh antara tutor dengan pembelajar dalam distributed education, maka bisa dipakai videoconferencing, audioconferencing, virtual seminar, netmeeting dan skype ; 3) Web untuk kerja kelompok (groupwork) guna menyelasian tugas-tugas kelompok bisa difasilitasi melalui perangkat lunak : email, chatroom, bulletin board, telepon atau WA group.

Dalam situasi darurat pandemi virus corona seperti saat ini, penggunaan media online untuk proses belajar-mengajar menjadi suatu pilihan alternatif yang efektif bagi pengajar dan pembelajar. Knirk dan Gustafson (1986) yang cenderung pro pada istilah teknologi pembelajaran online mengatakan, pertama, kata `pembelajaran' lebih cocok dengan fungsi teknologi. Istilah `pembelajaran' tidak hanya mencakup pengertian pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SLTA, melainkan mencakup juga situasi pelatihan (training) untuk mendapatkan skill. Jadi, fokus pada aspek pengetahuan dan skill. Selain itu, kata `pembelajaran' sangat berkenaan dengan permasalahan belajar-mengajar dan perkuliahan. Istilah `pembelajaran' cocok untuk belajar di sekolah dan di luar sekolah seperti di rumah, di kos, di home stay, di tempat kerja ; kedua, sedangkan kata `pendidikan' lebih cocok dengan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah dan lingkungan pendidikan. Menurut Knirk dan Gustafson (1986), kata `pendidikan' amat berkenaan dengan segala aspek pendidikan yang sangat luas : pendidikan humaniora, pendidikan etika dan moral, pendidikan politik dan sebagainya. Pendidikan hanya fokus pada pendidikan di dalam sekolah.

Metode Pembelajaran Berbasis "Blended Leraning"

Blended learning disebut juga hybrid courses adalah proses pembelajaran yang memadukan antara komponen online dan komponen tatap muka antara tutor dan pembelajar. Istilah blended leraning pada awalnya digunakan untuk menggambarkan mata kuliah yang mencoba menggabungkan berbagai teknologi, metode pengajaran, pengalaman belajar dan lokasi pembelajaran.

Ada tiga bentuk metode pembelajaran yaitu pembelajaran berbasis tatap muka ruang kelas tradisional, blended learning (perpaduan tatap muka dan online) dan online murni.

Metode pembelajaran berbasis "blended learning"dinilai lebih efektif karena di dalamnya ada perpaduan antara proses berpikir mandiri, membaca, berdialog, bertanya, perolehan informasi baru secara online, tetapi kalau perlu, bisa ada tatap muka antara tutor dan pembelajar.

Alasan pemilihan metode pembelajaran berbasis "blended learning" selama masa liburan ini, antara lain, pertama, Psikologis bahwa metode ini lebih menghasilkan perasaan berkomunikasi lebih nyaman antara tutor dan pembelajar, dari pada pembelajaran tradisional tatap muka yang untuk sementara waktu dibatasi.

Ada pembelajar yang tidak berani mengungkapkan gagasannya di kelas karena kemungkinan terkena virus, maka media online menjadi ruang untuk mengekspresikan gagasannya secara bebas. Kedua, Produktivitas, artinya pembelajar lebih mandiri untuk meningkatkan kemampuan kreatifnya, produktivitas dan kualitasnya selama masa liburan.

Ketiga, Fleksibilitas yakni tutor dan pembelajar lebih fleksibel mengembang pengetahuan, berdialog, bertanya dan saling kontrol baik secara online maupun dalam tatap muka sejauh perlu, serta fleksibel menggunakan media elektronik apa saja untuk memburu / berburu pengetahuan; keempat, Geografis maksudnya selama pemerintah masih memberlakukan kebijakan "lockdown" di semua lokasi, wilayah dan negara daya sebar corona virus, maka media online sangat efektif mengatasi hambatan ruang (space binding) dan waktu (time binding) untuk menghubungkan tutor dan pembelajar.

Kelima, Waktu, artinya dalam tempo sekejap informasi dapat terkirim dengan cepat ke tujuan dan dapat diperoleh feedbacknya seketika pula. Keenam, Difusi yaitu penyebaran informasinya cepat dan menyeluruh melalui pola : one to one, one to many, many to one, many to many.

Ketujuh, Biaya lebih hemat dan lebih murah. Dampak pembelaran Blended Learning, secara positif pertumbuhan e-learning dipicu oleh pertumbuhan konsep mengenai gerakan lifelongleraning (pembelajaran seumur hidup) ; membantu pembelajar mengekspresikan ide-ide secara bebas kepada tutor ketimbang di dalam kelas teutama untuk pembelajar yang malu, segan, takut dan tidak memiliki kemampuan verbal yang baik ; membantu mengatasi pendidikan jarak jauh tradisional berbasis cetak yang dianggap memiliki tingkat ketekunan rendah karena semata-mata diandalkan kemampuan pembelajar, terutama pembelajar yang tinggal di daerah terpencil, terisolasi dan jauh dari kontak sosial, maka teknologi menjadi sangat urgen untuk menjembatani pembelajar dan tutor; menerobos ketertutupan sistem dan pola pengajaran tradisional yang top-down di mana pengajar diposisikan sebagai pengajar yang tahu semua dan pembelajar sebagai yang harus diajar; membantu pengajar dan pembelajar untuk kreatif dan mendiri mencari pengetahuan baru terus-menerus untuk memperkaya dirinya.

Sementara dampak negatifnya ialah teknologi baru hadir dengan tuntutan budayanya sendiri, maka baik tutor maupun pembelajar mesti tunduk pada budaya cyber dalam cara berdialog, komunikasi, diskusi online dan membangun networking.

Bagi pembelajar cerdas akan cepat menyesuaikan diri dengan tuntutan budaya cyber, tetapi bagi mereka yang kurang pengetahuan, skill dan lemah ekonominya akan tetap menatap ketertinggalaan ; Teknologi bisa menciptakan ekstrim-ekstrim baru dalam diri penggunanya seperti sikap instan, copy-paste, membuat pembelajar beralih dari pola `the human thought' kepada pola "the thingking of machines" yakni peralihan dari pola pemikiran manusia yang kritis dan mandiri kepada pola `berpikir mesin'.

Jadi, manusia meminta bantuan mesin untuk tolong berpikir buat manusia. Misalnya 2x25=50 bisa dipikirkan sendiri, tetapi karena ada teknologi lantas orang lari kepada kalkulator untuk tolong memecahkan persoalan matematis ini; Tekonologi bisa membangun sikap instan dalam diri pembelajar tetapi juga pengajar, apa lagi selama masa liburan orang ingin santai.

Tentu teknologi membawa dapak positif dan negatif. Walaupun demikian, selama masa diberlakukannya kebijakan"lockdown" terutama di Indonesia akibat penyebaran virus corona yang terus mengglobal, maka baik pihak pembelajar, pengajar maupun orangtua harus tetap optimis karena media online atau teknologi pembelajaran online pasti membuka misteri "lockdown" untuk memberikan kontribusi positif bagi kemajuan ilmu pengetahuan para peserta didik.

Salah satu metode paling efektif dimanfaatkan untuk tujuan ini masa liburan ialah metode pembelajarn berbasis "blende learning" yang memadukan antara komponen online dan komponen tatap muka, sehingga perjumpaan melalui ruang kelas maya dan ruang kelas tatap muka tetap berjalan, kalau perlu dan dimungkinkan oleh kondisi dan situasi setempat maka tutor dan pembelajar dapat bertemu langsung. Pointnya ialah bahwa teknologi pembelajaran berbasis online pasti tetap memberikan jaminan rasa aman bagi pembelajar dan pengajar selama masa pemberlakuan kebijakan "lockdown" karena teknologi mampu menembusi ruang dan waktu (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved